Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Mind Reader
2
Suka
136
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Lampu panggung menyala putih terang, dan aku berdiri di tengahnya seperti biasa — mata tertutup kain hitam, tangan terbuka ke arah penonton, menunggu seseorang naik ke atas panggung.

"Siapa pun yang berani," kataku, suara dibuat berat lewat mikrofon, "aku akan membaca pikiranmu. Semua yang kau sembunyikan, bahkan dari dirimu sendiri."

Ini bagian favoritku. Bukan karena tepuk tangan yang menyusul, tapi karena momen sebelum aku menyentuh dahi mereka — momen ketika aku bisa merasakan sesuatu mulai bergerak masuk, seperti pintu yang berderit terbuka di kepalaku sendiri.

Seorang pria naik. Langkahnya berat, ragu-ragu. Aku menyentuh dahinya, dan seperti biasa, pintu itu terbuka.

Yang pertama muncul selalu ringan — nama anjing peliharaan, kode ATM, wajah seseorang yang dirindukan. Tapi malam ini, di balik pintu itu, ada lorong yang lebih panjang dari biasanya. Gelap. Berbau logam.

Aku melihat dapur dengan lantai keramik putih. Aku melihat pisau. Aku melihat sepasang mata seorang perempuan yang tidak lagi berkedip.

Tanganku gemetar, tapi aku sudah terlalu jauh masuk untuk berhenti.

"Kamu..." bisikku, mikrofon menangkap suaraku lebih keras dari yang kuinginkan, "kamu menguburnya di bawah pohon mangga. Yang daunnya selalu gugur duluan setiap Oktober."

Penonton tertawa gugup, mengira ini bagian dari pertunjukan — tebakan gelap yang sengaja dibuat dramatis. Pria itu tertawa juga, terlalu keras, terlalu cepat.

Tapi aku tahu tawa itu. Aku sudah sering melihatnya — dari balik pintu-pintu yang kubuka setiap malam. Tawa orang yang baru saja ketahuan.

Setelah pertunjukan, ia menemuiku di belakang panggung, masih dengan senyum yang sama. "Trik yang bagus," katanya. "Siapa yang kasih tahu soal pohon mangga itu?"

"Tidak ada yang kasih tahu," jawabku. "Aku hanya membaca."

Ia mendekat, dan untuk pertama kalinya aku melihat matanya dari jarak dekat — dan aku sadar, aku mengenali mata itu. Bukan dari panggung malam ini.

Dari dalam kepalaku sendiri.

Setiap malam, setelah pertunjukan, aku pulang ke apartemen yang sama, duduk sendirian di depan cermin, mencoba mengingat wajahku sebelum semua ini dimulai — sebelum aku bisa "membaca pikiran". Tapi setiap kali aku menatap cermin itu terlalu lama, wajah yang menatap balik bukan selalu wajahku. Kadang wajah pria di dapur berlantai putih itu. Kadang wajah-wajah lain, yang pernah kubaca bertahun-tahun, menumpuk seperti lapisan cat yang tak pernah benar-benar kering.

Aku tidak tahu lagi mana ingatan yang benar-benar milikku.

Malam ini, saat aku duduk di depan cermin seperti biasa, sesuatu berbeda. Pantulan di cermin tidak bergerak bersamaan denganku. Ia diam sesaat lebih lama, lalu tersenyum — senyum pria di panggung tadi.

"Kamu bukan membaca pikiran orang lain," katanya, suaranya keluar dari mulutku sendiri, meski aku tidak menggerakkan bibir. "Kamu membaca ingatan yang sudah kamu buang. Setiap orang yang naik ke panggungmu, kamu tidak membuka pikiran mereka. Kamu membuka lagi pikiranmu sendiri, sedikit demi sedikit, yang kamu kubur di bawah pohon mangga yang sama, bertahun-tahun lalu."

Aku ingin berteriak bahwa itu tidak benar. Tapi mulutku tidak bergerak.

Karena untuk pertama kalinya, aku ingat — samar, seperti asap yang enggan menghilang — lantai keramik putih itu adalah lantai dapurku sendiri. Dan wanita dengan mata yang tak lagi berkedip itu bukan korban siapa pun yang kubaca malam ini.

Ia adalah orang yang berdiri paling dekat denganku, di setiap panggung yang pernah kunaiki, bertepuk tangan paling keras — sebelum aku menghilangkannya, dan menciptakan seribu pikiran orang lain untuk menyembunyikan bahwa pikiran pertama yang kubaca, dan kubunuh, adalah pikiranku sendiri yang mengenalnya.

Cermin itu masih tersenyum, menungguku menerima apa yang sudah lama ia coba beritahukan.

Dan aku, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun panggung dan tepuk tangan, akhirnya bertanya pada diriku sendiri pertanyaan yang selama ini kuhindari dari semua orang yang kubaca:

Siapa sebenarnya yang sedang membaca siapa?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Mind Reader
Bobby Mahmud
Novel
Bronze
Phantom Lily
Joselind Sienydea Salim
Novel
Impossible fixer
Nur Aini Tila
Novel
Kejahatan yang Sempurna
Maureen Fatma
Novel
GRIM GAME
moris avisena
Flash
Headline
Utep Sutiana
Novel
Bronze
Four Day's
cimollll
Novel
Haram Jadah: Hari Pembalasan
Marion D'rossi
Novel
DENDAM 2 NYAWA
Ahmad Barnash
Flash
SENYUMIN AJA
Aston V. Simbolon
Novel
LET US HIDE
Yuniar Riska Herdianti
Flash
Seharusnya Aku Tidak....
Via S Kim
Flash
Rasa yang Asing di Lidah
irishanna
Novel
Tanda Tangan Neraka
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
AYO SEMANGAT, VIVA!
Atis Dee Jay
Rekomendasi
Flash
Mind Reader
Bobby Mahmud
Novel
ENTROPI
Bobby Mahmud
Novel
Rumah Tangga Percobaan
Bobby Mahmud
Novel
4in1: Empat Duda, Satu Perjaka
Bobby Mahmud
Novel
Permainan Tujuh Nyawa
Bobby Mahmud
Novel
Jogja, Aku kira Aku singgah
Bobby Mahmud
Cerpen
Penitipan Mimpi
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Flash
Warung Kopi Jam 3 Pagi
Bobby Mahmud
Flash
SONDER
Bobby Mahmud
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Flash
AMIGDALA
Bobby Mahmud
Cerpen
DALAN DAT
Bobby Mahmud
Flash
Coffee Cup and You
Bobby Mahmud
Cerpen
Yang Tertinggal di Kesunyian
Bobby Mahmud