Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
98.5 Persen Show Don't Tell
0
Suka
161
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Nafasku terengah, sengal ini terus berembus. Tanganku gemetarnya halus. Tapi kurasakan begitu erat tremor nya.

‎

‎Keringatku jatuh bercucuran, rasa aneh ini menggerogoti dada, punggung, sendiri lengan dan kaki.

‎

‎Saat terpejam gemetar sampai ke ulu hati dan jantung, berdebar makin kencang. Jantungku.

‎

‎Rasa kantuk sangat besar, keringat keluar, sekujur tubuh ku rasakan basah. Tapi hawa sumuk menggerogoti seluruh anggota tubuh.

‎

‎Pikiranku berdebat, banyaknya suara aneh memenuhi. Baik fakta ataupun pikiran aneh,  bergelut di urat nadi, otak, jantung, serta rasa cemas.

‎

‎Aku mengganti posisi tidur, tetapi rasa makin aneh menggerogoti. Kuputar tubuhku. Miring kiri miring kanan telentang, meringkuk.

‎

‎Dan rasa tak kunjung hilang, aku bangkit dengan setengah sadar. Kutenggak dua butir alprazolam. Reaksinya belum muncul, lima belas menit lagi efeknya membuat tubuhku rileks.

‎

‎Aku mencoba tidur, repetitif rasa tak nyaman makin menjalar. Kucoba duduk dan menarik nafas, sedang keringat makin bercucuran.

‎

‎Aku bangkit, mengelap dulu keringat di sekujur tubuh, dengan rasa makin tidak karuan. Lalu aku berpakaian. Memakai pakaian yang membuatku sejuk.

‎

‎Kupandangi remot AC, kemudian aku mendengar suara token listrik hampir habis.  Aku kembali membaringkan tubuh, memejamkan mata, meski sumuk dan tubuh yang tersiksa berbaur.

‎

‎Panas dalam dan luar tubuh amat terasa. Aku membalikkan bantal yang menopang leher serta kepalaku, pun membalik bantal yang menutup wajahku.

‎

‎Kulirik jam, aku tahu belum larut. Kulanjutkan memejamkan mata. Perasaan, pikiran, serta kondisi tubuhku terus melawan untuk tidur. Sedang suara muda dan mudi di luar makin membuat wahamku memperkuat pikiran untuk tidak tidur.

‎

‎Merasa tenggorokan kering, aku bangkit dengan gemetaran, kuambil air dari kulkas di kamar. Kutenggak, lalu aku kembali berjalan ke ranjang, dan kembali mencoba tidur.

‎

‎Saat itu mendadak ada kesegaran yang aku rasakan, pikiranku berkata efek alprazolam sudah bekerja. Aku pun membaringkan tubuh menghadap tembok.

‎

‎Kupeluk gulingku, dimana sebelumnya kubalik kembali bantal, juga kubalikkan bantal penutup muka. Aku pun kembali mencoba tertidur, kali ini dengan pikiranku yang lebih tenang.

‎

‎Setelah itu kesadaranku makin tipis. Kulihat senyum kakek ku dalam mimpi. Juga kumerasakan belaian. Aku tahu itu kakek, yang dalam sekejap ada di hadapan ku.

‎

‎Aku tersenyum padanya, ia pun tersenyum padaku. Aku tidur nyenyak. Tak pernah aku tidur senyenyak ini.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
ENDORFIN
Aga Lesmana
Flash
98.5 Persen Show Don't Tell
Rere Valencia
Novel
Gold
BECOMING
Noura Publishing
Flash
Gagak di Bubungan
Reveniella
Novel
Bronze
CAHAYA
Maryanih
Cerpen
Bronze
Nanas
Zaki S. Piere
Cerpen
Kado Seharga Kelas Pekerja
Skaya
Novel
DIARY SMA KU
Mu Xuerong
Flash
ISTANA POHON
Kimijuliaaa
Cerpen
Bronze
SANIA
LSAYWONG
Novel
Gold
Bukan Salah Waktu
Bentang Pustaka
Novel
25
Papp Tedd
Skrip Film
Rise
Annida Yasti Sari
Flash
Bronze
Aku Rindu Mama
Nuel Lubis
Novel
HUSST RAHASIA!
Niar Puji Cayati
Rekomendasi
Flash
98.5 Persen Show Don't Tell
Rere Valencia
Flash
Bronze
Ciuman
Rere Valencia
Flash
Bronze
Zee
Rere Valencia
Flash
Bronze
13
Rere Valencia
Flash
Bronze
Realistis dan Arogan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Aku dan Ijah
Rere Valencia
Flash
Bronze
Loden Pajamas
Rere Valencia
Flash
Bronze
Ketikanmu Tanggungjawabmu
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sepotong Roti
Rere Valencia
Flash
Bronze
Harus Tidur
Rere Valencia
Flash
Bronze
Kisah Setelah Revolusi Pertama Yang Gagal
Rere Valencia
Flash
Bronze
Tergantung Sang Perancang Semesta
Rere Valencia
Flash
Orang Miskin Itu Sangat Jahat Tapi Mereka Sungguh Baik
Rere Valencia
Flash
Bronze
Makhluk Ciptaan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Menyusul
Rere Valencia