Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Warung itu tidak punya nama. Orang-orang hanya menyebutnya "warung Bu De yang buka sampai pagi," meski sebenarnya buka dari pagi sampai pagi lagi — dua puluh empat jam, tanpa pernah benar-benar tutup.
Jam tiga pagi, cuma ada satu pelanggan: seorang sopir truk dengan mata merah dan bahu yang menurun, memesan kopi hitam tanpa gula seperti biasa.
"Belum pulang, Pak?" tanya Bu De, sambil menuang air panas.
"Masih jauh," jawab sopir itu singkat, padahal rumahnya cuma lima belas menit dari situ.
Bu De tidak bertanya lagi. Ia sudah hafal jenis jawaban seperti itu — jawaban orang yang bisa pulang kapan saja, tapi memilih tidak.
Mereka duduk diam beberapa menit, hanya suara uap dari termos dan radio tua yang memutar lagu dangdut pelan-pelan.
"Bu De sendiri," kata sopir itu akhirnya, "kenapa masih buka jam segini? Nggak capek?"
Bu De tersenyum tipis, mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih. "Capek. Tapi di rumah lebih sepi dari di sini. Anak-anak sudah pada merantau, suami saya sudah lima tahun nggak ada. Di sini, minimal ada suara orang lewat."
Sopir itu mengangguk pelan, seolah baru menemukan sesuatu yang sama-sama mereka sembunyikan: bahwa warung ini bukan tempat singgah biasa. Ini tempat orang-orang yang rumahnya terlalu sunyi untuk ditinggali sendirian.
"Istri saya," sopir itu mulai, suaranya lebih pelan dari sebelumnya, "sudah nggak ada. Bukan meninggal. Cuma... pergi. Dua tahun lalu."
"Oh," Bu De hanya berkata itu, tapi cara ia menuang kopi kedua tanpa diminta mengatakan lebih banyak dari kata-kata.
Mereka tidak saling menghibur dengan kalimat-kalimat besar. Tidak ada "yang sabar ya" atau "pasti ada hikmahnya." Hanya kopi kedua yang dituang diam-diam, dan waktu yang dibiarkan berjalan pelan-pelan, seolah keduanya sepakat: malam ini, untuk beberapa menit, tidak perlu pulang ke rumah yang sepi — cukup duduk di sini, ditemani orang asing yang kebetulan mengerti.
Jam empat pagi, sopir itu akhirnya berdiri, membayar dua gelas kopi meski cuma minum satu.
"Buat besok," katanya, menaruh uang lebih di meja. "Siapa tahu ada yang butuh kopi jam segini juga."
Bu De tersenyum, menyimpan uang itu di kaleng bekas biskuit yang sudah penyok. Ia tahu, besok pasti ada lagi — orang lain, dengan alasan lain, yang juga menunda pulang.
Warung itu memang tidak punya nama. Tapi bagi mereka yang datang jam segini, warung itu punya arti: tempat paling jujur untuk bilang, "aku juga lelah," tanpa harus menjelaskan kenapa.