Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Sepenggalan Pagi
0
Suka
3
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Sepenggalan Pagi

Jam enam pagi, dan aku sudah terjaga sebelum alarm berbunyi — seperti biasa, karena tidur nyenyak sudah lama jadi barang mewah yang tak bisa kubeli.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap lantai yang dingin, dan pikiran itu datang lagi seperti tamu tak diundang: Kalau saja aku berhenti saja. Kalau saja jiwa ini boleh pergi.

Bukan sekali dua kali pikiran itu singgah. Ia datang setiap kali tagihan menumpuk, setiap kali pekerjaan terasa seperti berlari di tempat, setiap kali aku ingat bagaimana rumah masa kecilku pecah jadi dua — ayah pergi, ibu menangis diam-diam di dapur, dan aku, anak kecil yang belajar terlalu dini bahwa cinta bisa berakhir begitu saja.

Trauma itu tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi, lalu muncul lagi setiap kali aku merasa tak sanggup — mengingatkanku pada ketakutan yang sama: jangan sampai aku mengulang apa yang dulu menghancurkanku.

Tapi pagi ini, seperti pagi-pagi lainnya, terdengar suara kecil dari kamar sebelah. Anak bungsuku, setengah mengantuk, memanggil, "Ayah, sudah pagi?"

Dan sepenggalan pagi itu — hanya suara kecil, langkah kaki mungil menuju pintu kamarku, dan wajah yang masih polos tanpa tahu beban apa yang kupikul semalam — cukup untuk menahanku sebentar lagi.

Aku tidak selalu kuat. Aku tidak selalu tahu jawabannya. Pekerjaan masih berat, ekonomi masih mencekik, dan luka masa lalu itu masih menganga di tempat yang sama. Tapi aku belajar satu hal: aku tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Aku hanya perlu bertahan sampai sepenggalan pagi berikutnya.

Karena ketiga anakku tidak butuh ayah yang sempurna. Mereka hanya butuh ayah yang tetap ada — meski lelah, meski rapuh, meski kadang harus memaksakan diri bangun dari ranjang yang terasa seperti jurang.

Jadi aku bangun. Aku cuci muka. Aku buatkan sarapan seadanya. Dan aku memilih, sekali lagi, untuk tinggal.

Bukan karena aku sudah sembuh. Tapi karena aku tahu, ada tiga pasang mata kecil yang menganggapku rumah — dan rumah itu tidak boleh runtuh, sekalipun fondasinya masih retak.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
ENDORFIN
Aga Lesmana
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Kutitip Rindu
madiani_shawol
Flash
Masih Pantaskah Kau Kupertahankan
Yutanis
Novel
Airlangga
Yeni fitriyani
Novel
Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan
Bianda S.
Skrip Film
Surat Cinta yang Terbaca
Imajinasiku
Flash
Kau dan Sebatang Lilin
Martha Z. ElKutuby
Flash
Bronze
Anak Perempuan Ayah
Siti Soleha
Novel
Bronze
Setan Kecil, Cinta dan Kebijaksanaan Monyet
Joeviano Pinandel
Novel
School : Begin
aicxyx
Novel
Bronze
Route
Hendika A. Cantona
Cerpen
Nanti Urusan Nanti
E. N. Mahera
Skrip Film
Tabu
Indah Zuhairani Siregar
Flash
Bronze
MANTAN
Rahmayanti
Rekomendasi
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Skrip Film
Ruang Tunggu
Bobby Mahmud
Flash
Yang Bertahan
Bobby Mahmud
Novel
Permainan Tujuh Nyawa
Bobby Mahmud
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Novel
Jogja, Aku kira Aku singgah
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Novel
4in1: Empat Duda, Satu Perjaka
Bobby Mahmud