Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Sepenggalan Pagi
2
Suka
1,304
Dibaca

Jam enam pagi, dan aku sudah terjaga sebelum alarm berbunyi — seperti biasa, karena tidur nyenyak sudah lama jadi barang mewah yang tak bisa kubeli.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap lantai yang dingin, dan pikiran itu datang lagi seperti tamu tak diundang: Kalau saja aku berhenti saja. Kalau saja jiwa ini boleh pergi.

Bukan sekali dua kali pikiran itu singgah. Ia datang setiap kali tagihan menumpuk, setiap kali pekerjaan terasa seperti berlari di tempat, setiap kali aku ingat bagaimana rumah masa kecilku pecah jadi dua — ayah pergi, ibu menangis diam-diam di dapur, dan aku, anak kecil yang belajar terlalu dini bahwa cinta bisa berakhir begitu saja.

Trauma itu tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi, lalu muncul lagi setiap kali aku merasa tak sanggup — mengingatkanku pada ketakutan yang sama: jangan sampai aku mengulang apa yang dulu menghancurkanku.

Tapi pagi ini, seperti pagi-pagi lainnya, terdengar suara kecil dari kamar sebelah. Anak bungsuku, setengah mengantuk, memanggil, "Ayah, sudah pagi?"

Dan sepenggalan pagi itu — hanya suara kecil, langkah kaki mungil menuju pintu kamarku, dan wajah yang masih polos tanpa tahu beban apa yang kupikul semalam — cukup untuk menahanku sebentar lagi.

Aku tidak selalu kuat. Aku tidak selalu tahu jawabannya. Pekerjaan masih berat, ekonomi masih mencekik, dan luka masa lalu itu masih menganga di tempat yang sama. Tapi aku belajar satu hal: aku tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Aku hanya perlu bertahan sampai sepenggalan pagi berikutnya.

Karena ketiga anakku tidak butuh ayah yang sempurna. Mereka hanya butuh ayah yang tetap ada — meski lelah, meski rapuh, meski kadang harus memaksakan diri bangun dari ranjang yang terasa seperti jurang.

Jadi aku bangun. Aku cuci muka. Aku buatkan sarapan seadanya. Dan aku memilih, sekali lagi, untuk tinggal.

Bukan karena aku sudah sembuh. Tapi karena aku tahu, ada tiga pasang mata kecil yang menganggapku rumah — dan rumah itu tidak boleh runtuh, sekalipun fondasinya masih retak.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
My Internet Best Friend
Sella Aracellia
Novel
Bronze
Cinta Tapi Beda
Imajinasiku
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Cerpen
Bronze
Nyonya Indo dan Enam Anak Perempuannya
Abdi Husairi Nasution
Cerpen
ARUNIKA
Rizki Mubarok
Skrip Film
Miranda Advertising (Script)
qiararose
Skrip Film
HALAMAN PALING BELAKANG
Vitri Dwi Mantik
Flash
Bronze
Sampai Selamanya
B12
Flash
Bronze
Kalau Agama Bisa Ngomong...
Shabrina Farha Nisa
Cerpen
Bronze
Surat Cinta
Dewi Fortuna
Novel
Osz Budapesten - Musim Gugur di Budapest
Avelia G
Skrip Film
#cara membatalkan pinjaman (lumbung dana)
NADYA ESA SEPTIARIDINA
Novel
Bronze
Setan Kecil, Cinta dan Kebijaksanaan Monyet
Joeviano Pinandel
Novel
Taraka
Siska Ambar
Skrip Film
MY LOVE 2
maisara
Rekomendasi
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Novel
Jogja, Aku kira Aku singgah
Bobby Mahmud
Flash
SONDER
Bobby Mahmud
Novel
Rumah Tangga Percobaan
Bobby Mahmud
Novel
4in1: Empat Duda, Satu Perjaka
Bobby Mahmud
Flash
AMIGDALA
Bobby Mahmud
Cerpen
Penitipan Mimpi
Bobby Mahmud
Novel
Serpihan Surga
Bobby Mahmud
Flash
Coffee Cup and You
Bobby Mahmud
Novel
Permainan Tujuh Nyawa
Bobby Mahmud
Flash
Mind Reader
Bobby Mahmud
Flash
Yang Bertahan
Bobby Mahmud
Novel
ENTROPI
Bobby Mahmud