Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Sepenggalan Pagi
2
Suka
162
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Jam enam pagi, dan aku sudah terjaga sebelum alarm berbunyi — seperti biasa, karena tidur nyenyak sudah lama jadi barang mewah yang tak bisa kubeli.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap lantai yang dingin, dan pikiran itu datang lagi seperti tamu tak diundang: Kalau saja aku berhenti saja. Kalau saja jiwa ini boleh pergi.

Bukan sekali dua kali pikiran itu singgah. Ia datang setiap kali tagihan menumpuk, setiap kali pekerjaan terasa seperti berlari di tempat, setiap kali aku ingat bagaimana rumah masa kecilku pecah jadi dua — ayah pergi, ibu menangis diam-diam di dapur, dan aku, anak kecil yang belajar terlalu dini bahwa cinta bisa berakhir begitu saja.

Trauma itu tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi, lalu muncul lagi setiap kali aku merasa tak sanggup — mengingatkanku pada ketakutan yang sama: jangan sampai aku mengulang apa yang dulu menghancurkanku.

Tapi pagi ini, seperti pagi-pagi lainnya, terdengar suara kecil dari kamar sebelah. Anak bungsuku, setengah mengantuk, memanggil, "Ayah, sudah pagi?"

Dan sepenggalan pagi itu — hanya suara kecil, langkah kaki mungil menuju pintu kamarku, dan wajah yang masih polos tanpa tahu beban apa yang kupikul semalam — cukup untuk menahanku sebentar lagi.

Aku tidak selalu kuat. Aku tidak selalu tahu jawabannya. Pekerjaan masih berat, ekonomi masih mencekik, dan luka masa lalu itu masih menganga di tempat yang sama. Tapi aku belajar satu hal: aku tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Aku hanya perlu bertahan sampai sepenggalan pagi berikutnya.

Karena ketiga anakku tidak butuh ayah yang sempurna. Mereka hanya butuh ayah yang tetap ada — meski lelah, meski rapuh, meski kadang harus memaksakan diri bangun dari ranjang yang terasa seperti jurang.

Jadi aku bangun. Aku cuci muka. Aku buatkan sarapan seadanya. Dan aku memilih, sekali lagi, untuk tinggal.

Bukan karena aku sudah sembuh. Tapi karena aku tahu, ada tiga pasang mata kecil yang menganggapku rumah — dan rumah itu tidak boleh runtuh, sekalipun fondasinya masih retak.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Retak Berhamburan
blank_paper
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Hanya Singgah
Ujang Nurjaman
Flash
Suara Terakhir di Tengah Arus
Dyah
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Cerpen
Bronze
Pelarian Sang Pangeran
Matcha Motchi
Novel
Seribu Langkah
Arzhya
Novel
Bronze
Putih Polos Avicenna
Ravistara
Skrip Film
Kubayar Pelangi dengan Hujanmu (Skrip)
Anis Maryani
Flash
Awan
Hariz Rizki
Novel
Bronze
Om Nakula!
Hana Firya Putri Arimbi
Flash
Bronze
Upacara Kemerdekaan Tersepi
Silvarani
Flash
Repitisi
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Kekacauan di Pagar Sekolah
Ron Nee Soo
Rekomendasi
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Novel
Rumah Tangga Percobaan
Bobby Mahmud
Novel
Permainan Tujuh Nyawa
Bobby Mahmud
Novel
ENTROPI
Bobby Mahmud
Novel
4in1: Empat Duda, Satu Perjaka
Bobby Mahmud
Cerpen
Temu: Sebelum Fajar Tiba
Bobby Mahmud
Flash
SONDER
Bobby Mahmud
Novel
Jogja, Aku kira Aku singgah
Bobby Mahmud
Flash
AMIGDALA
Bobby Mahmud
Skrip Film
MIND READER: HUSH
Bobby Mahmud
Flash
Yang Bertahan
Bobby Mahmud
Flash
Warung Kopi Jam 3 Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Mind Reader
Bobby Mahmud