Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Asap Terakhir
1
Suka
1,641
Dibaca

Ayah mematikan kompor gas terakhir kalinya, lalu duduk sebentar di teras, menatap langit yang masih kuning meski matahari sudah tenggelam sejak dua jam lalu.

Sebelum itu, ia baru pulang dari antrian SPBU yang mengular sejak subuh, membawa pulang lima liter pertalite dengan jerigen yang sudah penyok di sana-sini, sambil bergumam, "Untung masih dapat."

Sebelum itu, ia berdiri di jalan raya bersama puluhan motor lain, semuanya diam dalam barisan panjang, sesekali batuk karena kabut yang bukan kabut biasa — abu tipis yang menempel di kaca helm dan membuat matahari pagi terlihat seperti bola lampu merah yang redup.

Sebelum itu, radio di rumah menyebut angka ISPU yang terus naik, dan ibu buru-buru menutup semua jendela, menyumpal celah pintu dengan kain basah, sementara anak bungsu batuk-batuk kecil di kamar sambil bertanya, "Kenapa langitnya oranye terus, Bu?"

Sebelum itu, tetangga sebelah rumah menelepon, suaranya panik, bilang api sudah mendekati kebun karetnya, dan ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan sambil menyiram atap rumahnya sendiri dengan slang seadanya, berharap angin tidak berubah arah.

Sebelum itu, seorang petani membakar lahan gambut kecil untuk membuka kebun baru — cara yang sama yang dipakai turun-temurun, tidak menyangka kemarau tahun ini akan sekering ini, tidak menyangka api akan menjalar lebih cepat dari yang bisa dipadamkan.

Sebelum itu, hujan terakhir turun tiga bulan lalu, meninggalkan tanah gambut yang mengering seperti spons tua, siap menyala hanya dengan satu percikan.

Dan sebelum semua itu, di pagi yang jauh sebelum musim kemarau ini dimulai, hutan itu masih basah dan hijau, burung-burung masih berisik di pucuk pohon, sungai masih jernih mengalir ke arah kampung — dan tak seorang pun di kampung itu membayangkan bahwa langit mereka akan berubah warna, dan udara yang mereka hirup setiap hari akan menjadi sesuatu yang harus mereka takuti.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Cerpen
Bronze
Crown Shyness
Yekti W. Widanti
Cerpen
Bronze
PAPA UNTUK SONI DAN RANIA
ari prasetyaningrum
Skrip Film
WHEN WE TALK WHAT A LOVE IS
Herman Trisuhandi
Flash
Perkara Dua Manusia
Justang Zealotous
Cerpen
Kedai Kopi di Ujung Dermaga
Amir Ghozaly Prasetyo
Novel
Harta Tahta Renata
Ratih widiastuty
Skrip Film
Keluarga Terakhir
Zii
Flash
Merinci segala-gala
Berkat Studio
Novel
Rumah Sepasang Luka
Reza Lestari
Novel
Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya
Noor Cholis Hakim
Flash
Pagi yang Damai
Bima Kagumi
Flash
Perempuan Langit
Bonari Nabonenar
Novel
LIKA LIKU KEHIDUPAN
dede sulfarihah
Novel
Gold
KKPK Hari-Hari Akari
Mizan Publishing
Rekomendasi
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Flash
SONDER
Bobby Mahmud
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Coffee Cup and You
Bobby Mahmud
Novel
ENTROPI
Bobby Mahmud
Cerpen
Penitipan Mimpi
Bobby Mahmud
Novel
Serpihan Surga
Bobby Mahmud
Novel
Rumah Tangga Percobaan
Bobby Mahmud
Flash
AMIGDALA
Bobby Mahmud
Flash
Warung Kopi Jam 3 Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Flash
Yang Bertahan
Bobby Mahmud
Novel
4in1: Empat Duda, Satu Perjaka
Bobby Mahmud
Novel
4in1: Rahasia yang Tertinggal
Bobby Mahmud
Flash
Mind Reader
Bobby Mahmud