Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Asap Terakhir
1
Suka
484
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Ayah mematikan kompor gas terakhir kalinya, lalu duduk sebentar di teras, menatap langit yang masih kuning meski matahari sudah tenggelam sejak dua jam lalu.

Sebelum itu, ia baru pulang dari antrian SPBU yang mengular sejak subuh, membawa pulang lima liter pertalite dengan jerigen yang sudah penyok di sana-sini, sambil bergumam, "Untung masih dapat."

Sebelum itu, ia berdiri di jalan raya bersama puluhan motor lain, semuanya diam dalam barisan panjang, sesekali batuk karena kabut yang bukan kabut biasa — abu tipis yang menempel di kaca helm dan membuat matahari pagi terlihat seperti bola lampu merah yang redup.

Sebelum itu, radio di rumah menyebut angka ISPU yang terus naik, dan ibu buru-buru menutup semua jendela, menyumpal celah pintu dengan kain basah, sementara anak bungsu batuk-batuk kecil di kamar sambil bertanya, "Kenapa langitnya oranye terus, Bu?"

Sebelum itu, tetangga sebelah rumah menelepon, suaranya panik, bilang api sudah mendekati kebun karetnya, dan ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan sambil menyiram atap rumahnya sendiri dengan slang seadanya, berharap angin tidak berubah arah.

Sebelum itu, seorang petani membakar lahan gambut kecil untuk membuka kebun baru — cara yang sama yang dipakai turun-temurun, tidak menyangka kemarau tahun ini akan sekering ini, tidak menyangka api akan menjalar lebih cepat dari yang bisa dipadamkan.

Sebelum itu, hujan terakhir turun tiga bulan lalu, meninggalkan tanah gambut yang mengering seperti spons tua, siap menyala hanya dengan satu percikan.

Dan sebelum semua itu, di pagi yang jauh sebelum musim kemarau ini dimulai, hutan itu masih basah dan hijau, burung-burung masih berisik di pucuk pohon, sungai masih jernih mengalir ke arah kampung — dan tak seorang pun di kampung itu membayangkan bahwa langit mereka akan berubah warna, dan udara yang mereka hirup setiap hari akan menjadi sesuatu yang harus mereka takuti.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
NAMIDA
Didik Suharsono
Skrip Film
TERNAMA NAMA
M Teguh Gumilar
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Novel
Bronze
Jangan Ambil Surgaku
Ari Keling
Novel
Saturday Class
Impy Island
Novel
Reach'nt
swafaiss
Skrip Film
DARAH
(Nur) Rohayati
Skrip Film
ANTARASA
IPANK PWO
Skrip Film
The Best
Nida C
Skrip Film
WOMANS
I | N
Flash
Pulang Kampung Katanya
Johanes Gurning
Flash
Amplop
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
HAMIL
Iman Siputra
Cerpen
Bronze
Camar pun Kepingin Punya Rumah
peter chandra
Novel
Sang Kelana
Fadhli Amir
Rekomendasi
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Novel
Permainan Tujuh Nyawa
Bobby Mahmud
Novel
Rumah Tangga Percobaan
Bobby Mahmud
Skrip Film
MIND READER: HUSH
Bobby Mahmud
Flash
SONDER
Bobby Mahmud
Flash
AMIGDALA
Bobby Mahmud
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Novel
ENTROPI
Bobby Mahmud
Novel
Jogja, Aku kira Aku singgah
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Flash
Mind Reader
Bobby Mahmud
Flash
Warung Kopi Jam 3 Pagi
Bobby Mahmud
Flash
Coffee Cup and You
Bobby Mahmud
Flash
Yang Bertahan
Bobby Mahmud
Cerpen
Dua Cepat, Satu Lambat
Bobby Mahmud