Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Asap Terakhir
0
Suka
3
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Bagian 1: Asap Terakhir

(Sudut pandang: seorang ayah, kepala keluarga)

Ayah mematikan kompor gas terakhir kalinya, lalu duduk sebentar di teras, menatap langit yang masih kuning meski matahari sudah tenggelam sejak dua jam lalu.

Sebelum itu, ia baru pulang dari antrian SPBU yang mengular sejak subuh, membawa pulang lima liter pertalite dengan jerigen yang sudah penyok di sana-sini, sambil bergumam, "Untung masih dapat."

Sebelum itu, ia berdiri di jalan raya bersama puluhan motor lain, semuanya diam dalam barisan panjang, sesekali batuk karena kabut yang bukan kabut biasa — abu tipis yang menempel di kaca helm dan membuat matahari pagi terlihat seperti bola lampu merah yang redup.

Sebelum itu, radio di rumah menyebut angka ISPU yang terus naik, dan ibu buru-buru menutup semua jendela, menyumpal celah pintu dengan kain basah, sementara anak bungsu batuk-batuk kecil di kamar sambil bertanya, "Kenapa langitnya oranye terus, Bu?"

Sebelum itu, tetangga sebelah rumah menelepon, suaranya panik, bilang api sudah mendekati kebun karetnya, dan ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan sambil menyiram atap rumahnya sendiri dengan slang seadanya, berharap angin tidak berubah arah.

Sebelum itu, seorang petani membakar lahan gambut kecil untuk membuka kebun baru — cara yang sama yang dipakai turun-temurun, tidak menyangka kemarau tahun ini akan sekering ini, tidak menyangka api akan menjalar lebih cepat dari yang bisa dipadamkan.

Sebelum itu, hujan terakhir turun tiga bulan lalu, meninggalkan tanah gambut yang mengering seperti spons tua, siap menyala hanya dengan satu percikan.

Dan sebelum semua itu, di pagi yang jauh sebelum musim kemarau ini dimulai, hutan itu masih basah dan hijau, burung-burung masih berisik di pucuk pohon, sungai masih jernih mengalir ke arah kampung — dan tak seorang pun di kampung itu membayangkan bahwa langit mereka akan berubah warna, dan udara yang mereka hirup setiap hari akan menjadi sesuatu yang harus mereka takuti.

Keterangan:

Bagian ini menggambarkan sisi rumah tangga — bagaimana krisis besar (kebakaran hutan) dirasakan lewat hal-hal kecil dan sehari-hari: antre bensin, menutup jendela, anak yang bertanya polos. Struktur ceritanya mundur dari malam yang sudah "gelap" ke pagi yang masih "putih", supaya pembaca merasakan betapa cepatnya keadaan berubah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Darkest Point
Misyle Ariel
Novel
Gold
KKPK Little Ballerina 3
Mizan Publishing
Skrip Film
PLUS MINUS
danikwidayanti
Flash
Katanya bukan Friendzone?
ulfina
Flash
Kalah Sebelum Start
Putri Akira
Flash
Topeng
Indra Afriza Arsad
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Cerpen
Kepulangan Lestari Bersama Seporsi Bakso
muhamad Rifki
Novel
Gema Terakhir di Lantai Rumah
Sy. Ghina Alifatunnisa
Novel
Bronze
The Leaving Co.
Bramanditya
Skrip Film
Andai Esok Tak Pernah Datang
Dina Ivandrea
Flash
Sebelum Daun Gugur
Panca Lotus
Flash
Pesawat yang Melintas di Depan Jendelaku
Tia Sulaksono
Cerpen
Drama Tiga Babak
Tika Sofyan
Novel
Gadis itu Bernama MAURA
Ahmad Barnash
Rekomendasi
Flash
Asap Terakhir
Bobby Mahmud
Flash
Yang Tersisa dari Hutan
Bobby Mahmud
Flash
Yang Bertahan
Bobby Mahmud
Novel
Permainan Tujuh Nyawa
Bobby Mahmud
Flash
Sepenggalan Pagi
Bobby Mahmud
Novel
4in1: Empat Duda, Satu Perjaka
Bobby Mahmud
Novel
Jogja, Aku kira Aku singgah
Bobby Mahmud