Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kalau ada kesempatan sekali lagi, aku tidak akan mengejarnya.
Mengapa orang-orang mau menghabiskan waktu yang sia-sia demi mengejar hal yang bahkan sudah tidak lagi memalingkan wajahnya kepada diri ini? 'Hal' yang diri ini anggap sebagai satu-satunya kebahagiaan.
Aku menyadari, ketika aku mengejar sesuatu yang sangat aku harapkan sekali dalam hidupku, justru membawakan luka. Apakah esensi dari kebahagiaan adalah terluka?
Apakah rumus hidup bahagia adalah selalu 'merasa terlukai lebih dahulu agar mendapatkan kebahagiaan?'
Aku berkelana di ruang hampa kesunyian, memeriksa setiap bofet dan laci untuk mencari arsipan filosofi. Sebenarnya ini terdengar lucu. Aku terperangkap di dalam kegiatan yang kusebut 'menjijikkan': meratapi nasib, mencari refleksi atas nasib yang sedang kulalui, atau tidak bersyukur—kata orang-orang saleh.
Nyatanya, aku mendapati paradoks. Mengejar kebahagiaan, tidak akan pernah membawa diri ini kepada kebahagiaan.
Kemarin, aku memang khilaf.
"Aku mau mengejar kebahagiaan!" kataku di antara pepohonan sunyi, di antara ramai motor dan mobil yang berlalu lalang.
Lalu terbesit di pikiranku, kebahagiaan seperti apa sebenarnya? Mengapa aku mengejar hal itu serumit ini.
Selama 17 tahun, aku hidup dengan moto: berusaha pasti membawakan keberhasilan.
Sebenarnya, apa aku mengerti dengan moto itu?
Aku menemukan potongan puzzle mengenai permasalahan ini, membuatku sedikit mengerti bahwa aku hidup hanya untuk memenuhi standar kebahagiaan yang telah dikategorikan oleh orang-orang. Alurnya seperti: kebahagiaan didapatkan dari kesuksesan, dan kesuksesan itu sendiri memiliki arti yang sangat sempit di kalangan masyarakat.
Aku menciptakan ruang ketakutan sendiri, bahwa 'kebahagiaan' yang kukejar harus kudapatkan, jika tidak, maka orang-orang menganggapku gagal. Kenyataan yang tidak pernah aku iyakan, bahwa aku tidak mau terlihat gagal. Maka, aku mencoba beberapa kali lagi, dan yang kutemui adalah kegagalan.
Di dalam ruang sunyi, aku memikirkan: apakah ini cara Tuhan mendorongku untuk semakin mengejarnya, atau pertanda untuk menyuruhku berhenti?
Paradoks itu mengurungku bermalam-malam. Aku ditimpa angin panas, seolah hempasan angin terasa menusuk kulit-kulitku.
Namun, aku belajar satu poin penting: kebahagiaan terlalu buruk untuk diekspektasikan, sementara hal-hal yang ada di dekat diri ini dapat membawakan kebahagiaan, aku hanya tidak pernah menyadarinya.
Aku tidak akan mengejar lagi hal yang sangat kuperjuangkan saat dahulu, meskipun kesempatan itu ada di depan mata. Mestinya karena aku lebih paham kali ini, bahwa 'hal' yang kuanggap sebagai garis finish kebahagiaan, merupakan hal sama yang juga membuatku terluka.
Maka, aku tidak akan berjuang untuk yang menolakku. Aku hanya berjuang kepada bunga-bunga yang tumbuh di tamanku.