Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Mio Yang Tetap Mengeong
0
Suka
347
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Mio melompat ke tubuhku. Aku refleks. Berusaha menunjukkan wajah ceria. Aku tahu sebetulnya kucing tak begitu paham ekspresi manusia. Tapi perasaanku seolah mengatakan, aku harus menghargai Mio.

‎

‎Apalagi dia satu-satunya kucing yang tak bisa bicara. Dia hanya bisa mengeong. Awalnya benar ia jadi ejekan. Untungnya setelah edukasi pakar kucing berseliweran di televisi, ejekan pada Mio berhenti. Memang tidak berhenti penuh, tapi yang mengejek minoritas.

‎

‎Mio juga menunjukkan kepandaian luar biasa ketimbang kucing lainnya, yang kini dapat berbicara seperti manusia. IQ Mio bahkan sudah dipastikan lebih tinggi dari Marilyn vos Savant. Entah apa yang membuat Mio tak mau mengucap kata layaknya manusia. Tapi, apapun alasannya itu tak mengurangi rasa sayangku pada Mio.

‎

‎Mio mendadak membuka earphoneku, ia mengeong sambil menunjuk arah dapur. Rupanya aku lupa mematikan air yang sedang kugodok. Mio menunjuk tangannya yang mungil, yang tak mungkin mematikan kompor.

‎

‎Aku panik, berlari menuju dapur yang jaraknya beberapa langkah di belakang, kemudian mematikan kompor. Untungnya asap dari ketel belum terlalu tebal. Mio lalu mengeong, ia mengeong seperti nada menasehati. Kulihat ekspresinya begitu jengkel.

‎

‎Memang kalo dibandingkan dengan usia manusia, dia seusia aku. Jadi wajar dia menasehatiku layaknya saudari sepantaran atau teman. Bahkan Mio itu saudara tua, sebab usiaku 20, dan untuk hitungan perbandingan kucing-manusia, usianya sudah 22 tahun.

‎

‎Kemudian ada Coki. Kucing gembul tuxedo yang usianya bahkan sebanding usia ayahku. Coki berkata pada Mio yang kucing oren itu,

‎

‎"Mio. Kita tengok Ketty yang baru lahiran, yuk. Sekalian dapet makan di rumah dia."

‎

‎Mio menjawab dengan mengeong. Lalu ia segera bergegas. Kubukakan pintu, dan nampak Coki menyapa Mio dengan melambaikan tangan.

‎

‎Mio mendekat sambil juga melambaikan tangan. Lalu mereka berdua melakukan salam khas kucing yaitu mencium area dekat pantat.

‎

‎Aku sampai sekarang pun masih geli kenapa mereka tak merasa mencium bau busuk. Saat kutanya kenapa mereka melakukan itu, Coki menjawab,

‎

‎"Melestarikan budaya, teh."

‎

‎Coki menjawab dengan logat medok kentalnya, karena ia berasal dari Cilacap, dimana pemiliknya sangat akrab dengan ibuku sejak pertama kali pindah.

‎

‎Hidup Coki dan pemiliknya sendiri sederhana, tetapi juga tidak kekurangan. Coki yang sudah disteril itu kemudian berpamitan padaku. Kembali bergaung nada jawanya yang kental.

‎

‎"Yuk, teh. Permisi."

‎

‎Mio juga mengucap permisi. Tentu dengan khasnya yaitu mengeong.

‎

‎Mio kemudian berjalan bersama Coki, nampak mereka mengobrol. Aku dari dulu punya pertanyaan cukup serius. Meski Mio hanya bisa mengeong, tapi seolah kucing lain yang kini dapat berbicara layaknya manusia, bisa memahami apa maksud Mio.

‎

‎Bahkan kuperhatikan, mereka mengobrol santai. Layaknya Coki adalah seorang ahli bahasa asing. Aku perhatikan Coki tampak tak merendahkan Mio, meski lawan bicaranya hanya bisa mengeong.

‎

‎Pun Mio memperhatikan Coki dengan seksama, dan tak terpancing untuk tertawa, meski seringnya Coki mengeluhkan banyak hal yang cukup konyol.

‎

‎Aku pun tersenyum, lalu masuk ke dalam. Dan sore itu suasana ramai. Dari dalam rumah aku mendengar banyak kucing yang mengobrol. Mengobrolkan berbagai macam hal. Baik pelik maupun sederhana.

‎

‎Aku pun melanjutkan menggunakan earphone. Aku kembali mendengar podcast dari kucing selebriti bernama Jessie. Membahas misteri awal mula kenapa kucing dapat berbicara layaknya manusia, jika dihubungkan dengan ilmu sosiologi serta psikologi.

‎

‎Disana hadir banyak pakar. Baik manusia maupun kucing. Pun turut hadir menteri sosiologi dan psikologi, yaitu ibu Jini Jubaedah. Kucing yang sangat dihormati, baik oleh kucing, maupun manusia. Bahkan elektabilitas Bu Jini untuk pemilihan presiden mendatang, adalah yang tertinggi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Mio Yang Tetap Mengeong
Rere Valencia
Flash
Rumah Berisik Keluarga Wiratama
Erika Hasan
Flash
Alasan Berteman
Karlia Za
Flash
Modus Baju
Ravistara
Flash
Bronze
Operator Madrasah Galau
Ron Nee Soo
Flash
Ke Mana Perginya Semua Barang?
Moli
Flash
Bronze
Airmata Derita
Rere Valencia
Cerpen
Cemburu
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Galon vs Gas Melon
Claire The
Flash
Dodo
Seirene🍀
Flash
Si Belang
Putri Akira
Flash
Bronze
Si Penulis Kwikku
Rere Valencia
Flash
Kilau Asli
myht
Flash
Dua Karet
catzlinktristan
Komik
Gold
KOMIK RETJEH
Kwikku Creator
Rekomendasi
Flash
Mio Yang Tetap Mengeong
Rere Valencia
Novel
Bronze
Destiny
Rere Valencia
Flash
Bronze
Airmata Derita
Rere Valencia
Flash
Bronze
Ending
Rere Valencia
Flash
Bronze
Ketikanmu Tanggungjawabmu
Rere Valencia
Flash
Bronze
Si Penulis Kwikku
Rere Valencia
Cerpen
Trump's Era
Rere Valencia
Flash
Bronze
Baik-Baik Saja
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sang Hujan Pembunuh
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Rahma
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Quantum Kayla
Rere Valencia
Flash
Bronze
Warisan Untuk Orang Serakah
Rere Valencia
Skrip Film
Pahit
Rere Valencia
Cerpen
Bisakah Kupunyai Kamera?
Rere Valencia
Flash
Bronze
Tergantung Sang Perancang Semesta
Rere Valencia