Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Putri sang Pendosa
13
Suka
38,574
Dibaca

Ia berangkat saat tengah malam, melangkah mantap menuju rumah idaman yang telah diincarnya sejak lama, untuk sang putri tercinta.

"Mama mencintaimu. Mama menyayangimu. Jangan lupakan Mama." Dikatakannya kalimat cinta itu berulang-ulang sambil menatap sayang pada putrinya yang masih kemerahan. Walau ia tahu, sosoknya akan terlupakan saat sang putri beranjak dewasa, tapi ia percaya pada ikatan darah dan ikatan cinta yang menyatukan mereka.

Ia telah sampai di depan pagar rumah itu. Untuk terakhir kalinya ia melayangkan pandang pada seluruh penjuru rumah. Bayangan tentang sosok sang putri saat kanak-kanak sedang berlarian di halaman rumah bersama teman-teman sebayanya menghampiri benaknya. Ia semakin yakin akan keputusannya. Lalu ia memberanikan diri untuk berdoa pada sang Kuasa, agar menjaga buah hatinya.

Dengan lembut, ia meletakkan kotak tempat sang buah hati tertidur lelap di depan pagar rumah itu. Kotak itu tidak mewah, malah sangat usang, namun itu yang terbaik yang dapat diberikannya, karena selama tujuh bulan penuh ia tidak dapat bekerja.

Sebelum ia sempat berbalik untuk pergi, sebuah suara yang teduh memanggilnya, "kau akan meninggalkannya begitu saja?"

Ia menengok dan melihat seorang pria tua dengan wajah yang bersahaja, empunya suara itu.

"Aku tidak layak untuk bersamanya. Dia lebih baik berada disini," balasnya.

"Kata siapa?"

"Orang-orang yang mengenalku."

Pria tua itu menjadi tidak tenang. Dengan geram ia berseru, "itu omong kosong! Tidak ada ibu yang tidak layak untuk mengasuh anaknya."

"Tapi aku seorang pendosa," lirihnya. Saat ini perkataannya sendiri menggores lubuk hatinya, lebih dalam dari saat orang-orang mengatakannya.

Wajah pria tua itu menyiratkan tanda tanya. Prasangka memenuhi benaknya, terlebih saat ia menyadari paras wanita pendosa itu yang cantik namun penuh dengan daya tarik yang aneh. Pria tua itu berusaha menekan pikiran buruknya, lalu sekali lagi meyakinkan sang wanita pendosa, "semua orang adalah pendosa."

Sang wanita tersenyum pahit. "Aku tak tahu siapa ayah anak ini. Karena pada hari itu aku bersama dengan lima pria. Lalu esoknya lima pria yang lain. Begitu terjadi setiap harinya, aku menjajakkan tubuhku."

Wanita pendosa itu beranjak pergi setelah ia melihat air muka si pria tua yang berubah. Pria tua itu telah mengenalinya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (5)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Tatap Semesta
Alfi Zakira
Flash
Putri sang Pendosa
Lindaw
Flash
Bronze
Sebut Saja Aku Melati
Mashan
Novel
sora
Leviosa S
Novel
Bronze
Bayanganku Di Jalanku
Difa Jagga
Novel
Bara Asmara
Subhan Mars
Flash
Bronze
Dunia Dudu
Afri Meldam
Novel
Sayap Burung Patah
rimachmed
Flash
Sesi Hipnoterapi
Hilwa Athifah
Novel
Bronze
Smart Bad Girl
Desi Restiana A
Novel
Anak rantau diujung Bagan
Suyanti
Novel
Perempuan yang Memilih Bertahan
Dara Kirana
Skrip Film
DIVA
Lewi Satriani
Novel
Jawara 98 Hari
Gwen Annabel L. Tobing
Cerpen
1 2 3
Rian Widagdo
Rekomendasi
Flash
Putri sang Pendosa
Lindaw
Novel
Bronze
Karimun Love Wave
Lindaw
Skrip Film
Marriage Ark Made of Paper
Lindaw
Flash
Si jago sembunyi
Lindaw
Novel
Cherwoni
Lindaw
Skrip Film
Bukan Cinta Biasa
Lindaw