Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Beban
1
Suka
879
Dibaca

Pukul dua dini hari, Pocong merasa ada yang tidak beres. Biasanya tubuhnya ringan. Ia tinggal melompat sedikit, lalu melayang ke mana-mana seperti kain yang tertiup angin. Namun malam itu, ketika mencoba melompat, tubuhnya justru jatuh menghantam tanah.

Bruk.

Ia terdiam beberapa saat sebelum mencoba lagi. Hasilnya sama. Pocong kemudian menatap tubuhnya sendiri, terutama bagian perut yang sebenarnya tidak pernah ia lihat sejak dikafani.

“Jangan-jangan aku gendut?”

Pikiran itu membuatnya panik. Bukan karena penampilannya, melainkan karena ia tidak pernah membayangkan harus diet setelah meninggal.

Maka malam itu juga, Pocong pergi ke gym.

Gym bernama Body & Soul itu buka dua puluh empat jam. Pengunjungnya cukup beragam. Ada kuntilanak berlatih kardio sambil rambutnya menjuntai ke lantai, genderuwo mengangkat barbel yang ukurannya hampir sebesar tubuh Pocong, dan seekor tuyul berlari di treadmill dengan kecepatan yang membuat Pocong merasa semakin tidak percaya diri.

Seorang pelatih botak berkumis tebal menghampirinya.

“Selamat malam. Saya Bang Ujang. Mau latihan apa?”

“Saya ingin lebih ringan,” jawab Pocong.

Bang Ujang mengamatinya dari atas sampai bawah. “Turunkan berat badan?”

“Mungkin.”

“Kalau begitu kita mulai dari kardio. Coba treadmill.”

Pocong menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Kaki saya diikat.”

Bang Ujang melirik kaki Pocong yang memang terbungkus rapat dalam kain kafan.

“Oh. Benar juga.”

“Push-up?”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Tangan saya juga diikat.”

Bang Ujang mulai kehabisan ide. Ia mengusap dagunya sambil memandangi Pocong.

“Sit-up?”

“Sulit.”

“Plank?”

“Saya tidak tahu caranya.”

Bang Ujang menarik napas panjang. “Kalau begitu squat.”

Pocong mendadak diam.

“Kenapa?” tanya Bang Ujang.

“Saya sudah squat.”

“Bagus. Berarti tinggal latihan lebih banyak.”

“Sejak dimakamkan.”

Bang Ujang terdiam.

Ia baru menyadari bahwa posisi tubuh Pocong memang seperti orang yang sedang setengah jongkok. Selama ini ia mengira itu memang gaya berdiri pocong.

“Jadi selama ini bukan gaya?”

“Bukan.”

“Postur permanen?”

“Sayangnya.”

Bang Ujang menghela napas. “Baiklah. Kita lupakan olahraga.”

Pocong menatapnya dengan sedikit kecewa.

“Lalu bagaimana saya bisa jadi ringan?”

Bang Ujang memperhatikannya lagi. Kali ini lebih serius.

“Di mana bagian yang terasa berat?”

Pocong menunjuk dadanya.

“Di sini.”

“Jantung?”

“Bukan.”

“Paru-paru?”

Pocong menggeleng.

“Yang berat bukan tubuh saya.”

Bang Ujang menunggu.

“Hati saya.”

Suasana gym mendadak terasa lebih sunyi. Bahkan genderuwo di pojok berhenti mengangkat barbel.

Pocong menundukkan kepala.

“Saya meninggalkan seseorang ketika masih hidup. Saya pergi tanpa pamit. Sampai sekarang saya masih merasa bersalah.”

“Makanya kamu tidak bisa pergi?”

Pocong mengangguk.

Bang Ujang mengambil papan tulis kecil yang biasa dipakai untuk mencatat program latihan. Ia menulis sesuatu, lalu menunjukkannya.

PROGRAM LATIHAN: MELEPASKAN BEBAN

Pocong membaca tulisan itu.

“Gerakannya apa?”

“Tidak ada.”

“Lalu saya harus bagaimana?”

“Mulai dengan memaafkan.”

“Dia?”

“Diri sendiri.”

Pocong terdiam cukup lama. Ia menutup mata, lalu menarik napas yang sebenarnya tidak lagi ia perlukan.

“Maafkan aku,” bisiknya.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba lagi.

“Maafkan aku.”

Kali ini tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.

Kain kafannya bergerak pelan. Kedua kakinya perlahan terangkat dari lantai.

Pocong membuka mata.

Ia melayang.

“Bang Ujang!”

“Ya?”

“Saya berhasil!”

Bang Ujang tersenyum. “Nah, kan. Kadang yang membuat kita berat bukan tubuh, tapi sesuatu yang kita bawa terlalu lama.”

Pocong semakin tinggi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar bebas.

“Akhirnya saya bisa pergi!”

Ia hampir menyentuh langit-langit ketika suara Bang Ujang tiba-tiba terdengar.

“Bang!”

Pocong berhenti di udara.

“Apa?”

“Membership.”

Pocong mengerutkan kening.

“Kenapa dengan membership?”

“Belum bayar.”

Pocong perlahan turun.

Bruk.

“Berapa?”

“Enam bulan.”

Pocong terdiam.

“Bisa dicicil?”

“Bisa.”

“Berapa kali?”

“Enam.”

Pocong menghela napas panjang.

Ternyata, setelah dua puluh tahun menjadi hantu, masih ada satu hal yang belum mampu ia lepaskan.

Utang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Beban
Andre Borneo
Cerpen
Bronze
HANTU WONDO & KORBAN G30S PKI
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Jauh
Riverside Village
Novel
Bronze
DI BALIK KAMPUS (1998)
Embart nugroho
Cerpen
Bronze
Guru BU Ratmi
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
CCTV & Videocall
Rere Valencia
Novel
Bronze
REMPANG-GALANG NIGHTMARE
Je Yatmoko
Flash
Kembalikan Mataku, Mama!
anjel
Flash
Kayu Mati yang Mengintai di Sungai Sekampung
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Rumah Amora
Rosi Ochiemuh
Cerpen
Bronze
Mesin Tik
Yanti Soeparmo
Flash
Bronze
Misteri Surat di Halte Tua
kutipan.izs
Flash
Dibalik Liontin Merah
Sandra Arq
Novel
Warisan Gelap Penebusan Darah
Achmad Wahyudi
Skrip Film
"Misteri Dibalik Indahnya Alam Yogyakarta" (Sinopsis)
Zaki Dony Kezia Firmansyah
Rekomendasi
Flash
Beban
Andre Borneo