Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Beban
0
Suka
11
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Pukul dua dini hari, Pocong merasa ada yang tidak beres. Biasanya tubuhnya ringan. Ia tinggal melompat sedikit, lalu melayang ke mana-mana seperti kain yang tertiup angin. Namun malam itu, ketika mencoba melompat, tubuhnya justru jatuh menghantam tanah.

Bruk.

Ia terdiam beberapa saat sebelum mencoba lagi. Hasilnya sama. Pocong kemudian menatap tubuhnya sendiri, terutama bagian perut yang sebenarnya tidak pernah ia lihat sejak dikafani.

“Jangan-jangan aku gendut?”

Pikiran itu membuatnya panik. Bukan karena penampilannya, melainkan karena ia tidak pernah membayangkan harus diet setelah meninggal.

Maka malam itu juga, Pocong pergi ke gym.

Gym bernama Body & Soul itu buka dua puluh empat jam. Pengunjungnya cukup beragam. Ada kuntilanak berlatih kardio sambil rambutnya menjuntai ke lantai, genderuwo mengangkat barbel yang ukurannya hampir sebesar tubuh Pocong, dan seekor tuyul berlari di treadmill dengan kecepatan yang membuat Pocong merasa semakin tidak percaya diri.

Seorang pelatih botak berkumis tebal menghampirinya.

“Selamat malam. Saya Bang Ujang. Mau latihan apa?”

“Saya ingin lebih ringan,” jawab Pocong.

Bang Ujang mengamatinya dari atas sampai bawah. “Turunkan berat badan?”

“Mungkin.”

“Kalau begitu kita mulai dari kardio. Coba treadmill.”

Pocong menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Kaki saya diikat.”

Bang Ujang melirik kaki Pocong yang memang terbungkus rapat dalam kain kafan.

“Oh. Benar juga.”

“Push-up?”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Tangan saya juga diikat.”

Bang Ujang mulai kehabisan ide. Ia mengusap dagunya sambil memandangi Pocong.

“Sit-up?”

“Sulit.”

“Plank?”

“Saya tidak tahu caranya.”

Bang Ujang menarik napas panjang. “Kalau begitu squat.”

Pocong mendadak diam.

“Kenapa?” tanya Bang Ujang.

“Saya sudah squat.”

“Bagus. Berarti tinggal latihan lebih banyak.”

“Sejak dimakamkan.”

Bang Ujang terdiam.

Ia baru menyadari bahwa posisi tubuh Pocong memang seperti orang yang sedang setengah jongkok. Selama ini ia mengira itu memang gaya berdiri pocong.

“Jadi selama ini bukan gaya?”

“Bukan.”

“Postur permanen?”

“Sayangnya.”

Bang Ujang menghela napas. “Baiklah. Kita lupakan olahraga.”

Pocong menatapnya dengan sedikit kecewa.

“Lalu bagaimana saya bisa jadi ringan?”

Bang Ujang memperhatikannya lagi. Kali ini lebih serius.

“Di mana bagian yang terasa berat?”

Pocong menunjuk dadanya.

“Di sini.”

“Jantung?”

“Bukan.”

“Paru-paru?”

Pocong menggeleng.

“Yang berat bukan tubuh saya.”

Bang Ujang menunggu.

“Hati saya.”

Suasana gym mendadak terasa lebih sunyi. Bahkan genderuwo di pojok berhenti mengangkat barbel.

Pocong menundukkan kepala.

“Saya meninggalkan seseorang ketika masih hidup. Saya pergi tanpa pamit. Sampai sekarang saya masih merasa bersalah.”

“Makanya kamu tidak bisa pergi?”

Pocong mengangguk.

Bang Ujang mengambil papan tulis kecil yang biasa dipakai untuk mencatat program latihan. Ia menulis sesuatu, lalu menunjukkannya.

PROGRAM LATIHAN: MELEPASKAN BEBAN

Pocong membaca tulisan itu.

“Gerakannya apa?”

“Tidak ada.”

“Lalu saya harus bagaimana?”

“Mulai dengan memaafkan.”

“Dia?”

“Diri sendiri.”

Pocong terdiam cukup lama. Ia menutup mata, lalu menarik napas yang sebenarnya tidak lagi ia perlukan.

“Maafkan aku,” bisiknya.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba lagi.

“Maafkan aku.”

Kali ini tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.

Kain kafannya bergerak pelan. Kedua kakinya perlahan terangkat dari lantai.

Pocong membuka mata.

Ia melayang.

“Bang Ujang!”

“Ya?”

“Saya berhasil!”

Bang Ujang tersenyum. “Nah, kan. Kadang yang membuat kita berat bukan tubuh, tapi sesuatu yang kita bawa terlalu lama.”

Pocong semakin tinggi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar bebas.

“Akhirnya saya bisa pergi!”

Ia hampir menyentuh langit-langit ketika suara Bang Ujang tiba-tiba terdengar.

“Bang!”

Pocong berhenti di udara.

“Apa?”

“Membership.”

Pocong mengerutkan kening.

“Kenapa dengan membership?”

“Belum bayar.”

Pocong perlahan turun.

Bruk.

“Berapa?”

“Enam bulan.”

Pocong terdiam.

“Bisa dicicil?”

“Bisa.”

“Berapa kali?”

“Enam.”

Pocong menghela napas panjang.

Ternyata, setelah dua puluh tahun menjadi hantu, masih ada satu hal yang belum mampu ia lepaskan.

Utang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Beban
Andre Borneo
Novel
Tempat Terlarang
Dilla Rahmadhani
Novel
Bronze
Wajah Lain di Lukisan Rumah Majikanku
Bella Paring Gusti
Cerpen
Bronze
Teman Kamar Yang Kasat Mata
Christian Shonda Benyamin
Flash
Hades
AkunKosong
Skrip Film
Dalam Dekap Kematian
Tomy Revaldy
Novel
Diatas Tanah Setan
Herman Siem
Novel
Gold
Like Water for Chocolate
Bentang Pustaka
Novel
Duit Tumbal
Indah lestari
Cerpen
Kutukan Keluarga: Sang Ratu Ular
Nisa
Cerpen
Bronze
Rahasia Sumur Setan
Eki Saputra
Flash
Bronze
Studio 3
Afri Meldam
Novel
Gold
Rumah Teteh
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Absen Maghrib
A.A.Pusung
Cerpen
Bronze
Ritual Darah Ular
Novita Ledo
Rekomendasi
Flash
Beban
Andre Borneo
Cerpen
Bronze
Gaun Putih Malaya
Andre Borneo
Cerpen
Bronze
Story of Setan Budek
Andre Borneo