Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Sejarah
Kebakaran di Neda
0
Suka
466
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Catatan ini ditulis olehku, Sherqat, juru tulis di bawah keluarga Ninnara dari Kota Kerajaan Neda. Ditulis pada hari ini, hari kedua dari bulan ketujuh, tahun keseratus tiga puluh sembilan sejak Dewi-Ratu Neda Yang Suci meletakkan batu fondasi pertama istananya di negeri ini.

Satu minggu lalu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri seluruh Kota Kerajaan Neda, dari gerbang utara sampai gerbang selatan, terbakar hingga hanya menyisakan abu.

Sebagian kecil penduduknya berhasil menyelamatkan diri setelah menyeberangi sungai, sebagian lagi mati sambil menjerit di tengah jilatan api. Semua hewan ternak habis terbakar.

Api yang membakar seisi kota berwarna putih, warna yang sama sekali belum pernah kulihat pada api sebelumnya. Seterang bintang, jauh lebih panas dari lelehan tembaga.

Beberapa minggu sebelum kebakaran, aku mendengar kabar burung tentang munculnya aliran agama baru yang dibawa oleh pendatang dari wilayah padang rumput di timur. Agama baru ini hanya menyembah kepada satu dewi, Ayanushin, dan meskipun tidak ada larangan untuk menyembah dewa lain selain dirinya, penduduk kota memilih meninggalkan kuil-kuil Dewi-Ratu Neda untuk menyembah Ayanushin.

Para pendeta dari kuil Dewi-Ratu Neda dibuat resah oleh munculnya agama baru ini, sehingga, setelah mereka kehabisan akal akan apa yang harus dilakukan untuk menarik pengikut mereka kembali, para pendeta mengirim utusan kepada keluarga Ninnara.

Aku berdiri di samping tuanku ketika ia menerima utusan itu di aula rumahnya. Para pendeta lewat utusannya meminta bantuan tuanku di istana untuk meyakinkan ratu kami agar segera mengeluarkan perintah penangkapan pada mereka yang menyembah selain kepada Dewi-Ratu Neda.

Dua orang dieksekusi mati di alun-alun kota segera setelah perintah penangkapan dikeluarkan. Kepalanya yang dipenggal diletakkan di kuil utama, di bawah kaki patung Dewi-Ratu Neda. Di dekat dua kepala itu tertulis kata-kata ini, "Kami persembahkan padamu, Neda Yang Agung, Ayilakh dan Yibaqa, dua orang yang telah menodai kesucian negerimu dengan pikiran mereka yang sesat."

Hukuman mati terhadap Ayilakh dan Yibaqa dilaksanakan pada tengah hari. Kebakaran dimulai segera setelah matahari terbenam.

Aku bertanya pada mereka yang selamat, "Di mana api pertama kali muncul? Siapa pelaku pembakarannya?"

Tidak satu pun ada yang bisa memberikan jawaban yang kucari sampai aku bertanya pada seorang bocah lelaki yang bekerja sebagai pelayan di kuil Dewi-Ratu Neda.

Inilah jawabannya: "Api pertama kali muncul di aula kuil utama Sang Dewi-Ratu, dari salah satu kepala yang baru dipenggal. Apinya putih. Begitu api tersulut, kepala di sebelahnya terbakar dan jadi abu dalam sekejap. Patung sang dewi meleleh. Namun kepala yang tersisa tidak pernah habis terbakar. Semua rambutnya masih utuh. Kulitnya tidak melepuh dan juga tidak hangus. Tidak ada aroma daging terbakar."

Satu minggu telah berlalu sejak api pertama kali tersulut. Sekarang, bahkan setelah aku pergi jauh meninggalkan Kota Kerajaan Neda, aku masih bisa melihat lidah apinya yang terang benderang terus menjilati angkasa.

Catatan ini ditulis olehku, Sherqat, juru tulis di bawah keluarga Ninnara yang kini tinggal nama, dari Kota Kerajaan Neda yang tinggal abu di atas tanah rata. Aku meninggalkan catatan ini di sini dengan sengaja. Jika kau telah membaca seluruh tulisan ini dan kau adalah salah satu penyembah Dewi Ayanushin, maka aku, mewakili seluruh penduduk Kota Kerajaan Neda yang tersisa, memohon kepadamu: panggillah dewimu. Panggil Ayanushin. Korbankanlah seekor kuda dari tanah kelahiran kami untuknya dan sampaikanlah permohonan ampun kami.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Bukan Perkara Darah
Silvarani
Cerpen
TAN MALAKA
Klein Ma
Novel
#simak cara membatalkan pinjaman (easycash)
NADYA ESA SEPTIARIDINA
Novel
Bronze
KAU, AKU DAN GELORA REVOLUSI
Akhmad Faizal Reza
Novel
VEIL OF LIES
Ao Helmalia
Flash
1873: Geger Sekolah Fort de Kock
snang.tjarita
Novel
Bab Pembantaian
Song Rinrin
Novel
Ranjang Opa & Keranjang Oma
Vitri Dwi Mantik
Novel
Pa, Saya Sudah Datang
Dewangga Putra
Flash
Alien
Ikhsannu Hakim
Cerpen
Uchiha, warisan api yang terlupakan
nantooo
Novel
SENI PERANG RUMAH TANGGA
IGN Indra
Novel
Tawarikh Nusantara - Kitab Kelima: Jantung Revolusi
Kingdenie
Novel
Kolaps
Langgeng Ikhtiar Pribadi
Rekomendasi
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Cerpen
Ayanushin
Wina Sari Ardini
Cerpen
Sang Bunda dan Anak Haramnya
Wina Sari Ardini
Flash
Merpati di Pinggir Laut
Wina Sari Ardini
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini
Flash
Darah Perak
Wina Sari Ardini
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Flash
Di Balik Tembok Kuil Berlapis Emas
Wina Sari Ardini
Cerpen
Seroja Bulan
Wina Sari Ardini
Flash
Hutan Gantung
Wina Sari Ardini
Flash
A Thousand Gods, a Thousand Prayers
Wina Sari Ardini