Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
0
Suka
638
Dibaca

Para dewa memang kejam, tetapi mereka yang menciptakan para dewa jauh lebih kejam.

Lalu siapa gerangan yang telah menciptakan mereka? Pertanyaan ini masih jadi perdebatan para cantrik di seluruh negeri.

Waktu telah berlalu lebih dari sembilan abad sejak Ayanushin dilahirkan ke dunia, dan dalam hidupnya yang lama itu ia habiskan dengan berkelana ke berbagai tempat. Suatu ketika perjalanannya membawa ia ke suatu kuil yang terasingkan, dijauhi oleh penduduk desa sekitar karena dinilai menyebarkan ajaran sesat. Ayanushin tidak menelan ucapan mereka bulat-bulat. Hidup untuk waktu yang lama mengajarkannya banyak hal tentang manusia dan pola pikir mereka.

Ketika hal yang diperdebatkan menyangkut soal kepercayaan, sekelompok manusia dari satu agama cenderung menilai diri mereka sendiri sebagai kelompok yang paling benar, paling suci, dan paling lurus dibanding mereka yang menganut agama lain. Puncaknya adalah ketika mereka yang merasa paling benar menganggap ajaran dari kepercayaan lain sebagai ajaran sesat dan mempersekusi para penganutnya. Kemudian peperangan pecah, dan yang terparah, penghapusan suatu kaum secara menyeluruh. Semuanya disebabkan hanya karena mereka berdoa pada dewa yang berbeda.

Jadi Ayanushin pun memasuki kuil itu. Dewa yang disembah di sana sejatinya hanya direpresentasikan oleh tiga bulan; tanpa wajah, tanpa rupa raga yang pasti, tidak pula diketahui apakah mereka laki-laki atau perempuan. Meskipun demikian, manusia dengan imajinasinya yang tidak terbatas tetap berusaha membayangkan rupa dari sosok yang dipuja dan menuangkannya ke dalam lukisan yang kini terpajang di aula utama.

Dalam lukisan tersebut berdiri tiga wanita berbadan tinggi dan berambut panjang—yang di kiri berambut hitam, yang di tengah berambut perak, dan yang di kanan berambut emas. Ketiganya digambarkan tengah memegang bulan, diangkat dekat ke dada dengan kedua tangan. Ketika Ayanushin bertanya mengenai identitas ketiga wanita di dalam lukisan, seorang pendeta menjawab, "Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali."

Sebelum Ayanushin bisa bertanya lebih jauh sang pendeta membawanya ke ruang bawah tanah. Di sana, dikelilingi lilin-lilin yang terus menyala, berdiri sisa pilar yang telah lama patah. Pada permukaannya terdapat ukiran dari orang-orang yang berlutut, sebagian mengangkat tangannya ke udara, sebagian lagi bersujud ke tanah. Di atas figur-figur tersebut adalah ukiran tiga objek bundar; ketiga bulan yang merepresentasikan kehidupan, kematian dan kelahiran kembali.

Sang pendeta menunjuk satu figur dengan bintang terpahat di atas kepalanya. "Lifa, Bintang Pertama, Yang Pertama Dari Semua Dewa. Ia dewi dari agama lama. Tidak banyak yang tahu sosoknya sekarang, tapi barangkali kau pernah mendengar namanya di suatu tempat?"

Ukiran itu membekas dalam benak Ayanushin. Tentu saja ia tahu tentang Lifa. Bagaimana ia bisa tidak mengenalnya? Lifa-lah yang telah melahirkan Ayanushin ke dunia. Lifa, Dewi Pelacur, Yang Paling Kotor Dari Semua Dewa.

Oh, ibuku tercinta, tidak ada yang bisa membuatku lebih bahagia selain melihatmu dikhianati sosok yang kau percayai dengan sungguh-sungguh. Aku berdoa agar mereka mengutukmu hingga akhir waktu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini
Novel
KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA
Ahmad Wahyudi
Novel
Cinta Dalam Diam
Riyaa_2707
Novel
Ibu, Cahaya dari Surga
Bisma Lucky Narendra
Flash
Ajaib
Mahmud
Novel
City of Wave Waveheaven Hero
After Future
Novel
Fyra in Love
Sabrina Dinanti
Novel
Bronze
Isteriku Selingkuh Dengan Mafia
Hadi Hartono
Novel
Hardika El Zhirazy & Sheryl Az Zahrah
fini arkani
Novel
Bronze
Godaan Sang Mantan
Biru Tosca
Novel
Bronze
NOL RUPIAH
Tito Sumarsono
Novel
Gold
Rezeki Nomplok
Mizan Publishing
Novel
Gold
Tanggung Jawab Pemimpin Muslim
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Warga +62... Ramadhan Bersama Covid-19
St. Hafsah Nuradilah Hamzah
Novel
THE MELODY OF QURAN
Arif Budiman
Rekomendasi
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Merpati di Pinggir Laut
Wina Sari Ardini
Flash
Darah Perak
Wina Sari Ardini
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini
Cerpen
Ayanushin
Wina Sari Ardini
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Flash
A Thousand Gods, a Thousand Prayers
Wina Sari Ardini
Cerpen
Sang Bunda dan Anak Haramnya
Wina Sari Ardini
Flash
Hutan Gantung
Wina Sari Ardini
Cerpen
Seroja Bulan
Wina Sari Ardini
Flash
Di Balik Tembok Kuil Berlapis Emas
Wina Sari Ardini