Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
0
Suka
659
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Ketika dewa menaruh perhatian pada seseorang, mereka yang menonton dari jauh diam-diam mengeluarkan neraca dan mulai menimbang. Satu sisi timbangan dilabeli mukjizat, sedangkan sisi yang lain dilabeli kutukan.

Dahulu ada seorang anak terlantar yang menarik perhatian Lifa yang, kala itu, tengah menyamar menjadi wanita penenun. Lifa sudah lama menginginkan darah dagingnya sendiri, dan ketika melihat anak yatim piatu ini berkeliaran di pasar seorang diri, kelaparan dan tanpa atap untuk bernaung, hatinya tergerak.

Ia membawa anak itu ke kuil dan memberinya buah persembahan untuk dimakan. Ketika anak itu terlelap, Lifa menyayat telapak tangannya sendiri, darah peraknya ia teteskan ke bibir si anak.

Untaian benang telah ditenun menjadi sehelai kain yang panjangnya tak berujung. Permukaannya kasar di beberapa tempat, tetapi juga halus di tempat lain.

Keesokan paginya, seorang istri saudagar kaya datang ke kuil untuk berdoa. Melihat ada anak yatim piatu tengah tertidur di tumpuan patung sang dewi, hati keibuannya langsung tersentuh, Segera saja ia meminta suaminya untuk mengambil anak itu dan merawatnya seperti anak sendiri. Bertahun-tahun anak itu dibesarkan oleh orang tua barunya, dan ketika ia sudah cukup umur ia keluar kota untuk mencoba peruntungannya.

Jauh di seberang laut, ia menjadi sosok terpandang, lalu karena sudah lama tak bertemu orang tuanya, maka ia pun berlayar pulang. Badai menerjang di tengah perjalanan dan kapal yang ia tumpangi terdampar di pantai yang berjarak dua minggu perjalanan dari kota asalnya. Ia berjalan kaki siang dan malam. Ketika gerbang kota sudah di depan mata, seseorang menghentikannya.

Wabah penyakit telah melanda seisi kota. Mereka yang masih hidup dalam kondisi tak lagi bisa disembuhkan atau sudah di ambang kematian. "Kalau kau masih ingin hidup," kata orang itu, "maka pergi dan jangan kembali ke kota ini!"

Tahun-tahun berlalu cepat. Wabah datang dan pergi, dan dia yang telah kehilangan segalanya memilih untuk memulai dari awal dengan menetap di kota yang tidak diketahui banyak orang. Di sana ia membangun keluarga kecilnya sendiri. Saat semuanya kembali normal dan stabil, orang-orang terdekatnya mulai menyadari sesuatu.

Di kala pasangannya mulai menua serta anak-anaknya tumbuh semakin besar, dirinya sendiri sama sekali tidak mengalami perubahan. Rambut yang memutih, kulit yang mulai berkeriput, tenaga yang semakin berkurang. Semua itu tak ada pada dirinya, dan kecurigaan mulai muncul.

Didorong oleh rasa takut akan kemungkinan adanya jelmaan roh jahat yang hadir di antara mereka, seluruh penduduk kota menuntut agar dirinya dihukum mati. Bukan dengan dipenggal maupun digantung, tetapi dengan dibakar hidup-hidup di depan publik.

Pada hari hukuman itu dijatuhkan, alun-alun kota dipenuhi oleh jeritan ia yang diikat di tiang pembakaran. Lidah api menjilat dagingnya bagaikan binatang buas yang sudah lama dibiarkan kelaparan, dan ketika nyala api yang berkobar garang itu akhirnya tak lebih dari sekadar bara api kecil, tak ada lagi tubuh yang menggeliat kesakitan di tiang pembakaran. Abu berserakan di antara sisa kayu yang belum terbakar habis.

Hujan turun deras setelah matahari terbenam, airnya membersihkan asap sisa pembakaran dari udara dan abu di tanah.

Bulan bertengger di puncak langit ketika tengah malam tiba. Air yang menggenang di sekitar tiang pembakaran berkumpul di satu tempat, membentuk tulang, daging, pembuluh darah, kulit serta rambut. Saat angin bertiup, dia yang tubuhnya telah menjadi abu beberapa saat lalu, kembali membuka mata.

Udara mengisi paru-parunya, jantungnya berdetak, darah berdesir dalam nadinya. Ia menoleh dari tempatnya berbaring di bawah tiang pembakaran. Matanya menangkap seekor burung yang memiringkan kepala saat memandangnya.

Sepasang gagak terbang dari tempat mereka bertengger di atap kuil. Satu berbulu hitam, satu berbulu putih. Di tempat lain, tiga keping koin emas jatuh di sisi neraca yang dilabeli kutukan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
No More Utopia
Vera Herawati
Flash
Bronze
Instruksi Hati
Hesti Ary Windiastuti
Flash
Bronze
Khayalan Pembaca Ayat-Ayat Cinta
Daud Farma
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Cerpen
Bronze
BULAN YANG TERLEPAS
Sri Wintala Achmad
Novel
Gold
KKPK Hidden, Gadis Tersembunyi
Mizan Publishing
Novel
Gentala.
Silmi Nur Afifah
Flash
Bronze
Conversation 1
mahes.varaa
Cerpen
Sial
Zaki S. Piere
Skrip Film
Lilin Untuk Minora
Vitri Dwi Mantik
Novel
Aku Juga Ingin Didengar
bella
Skrip Film
Fate & Future
Vitri Dwi Mantik
Novel
Pena Antik. The Four Steps of Love
Setyawan Lam
Novel
The Journey of My Life | Dimension
Anisatul Wafiroh
Rekomendasi
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Cerpen
Ayanushin
Wina Sari Ardini
Cerpen
Sang Bunda dan Anak Haramnya
Wina Sari Ardini
Flash
Merpati di Pinggir Laut
Wina Sari Ardini
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini
Flash
Darah Perak
Wina Sari Ardini
Flash
Di Balik Tembok Kuil Berlapis Emas
Wina Sari Ardini
Cerpen
Seroja Bulan
Wina Sari Ardini
Flash
Hutan Gantung
Wina Sari Ardini
Flash
A Thousand Gods, a Thousand Prayers
Wina Sari Ardini