Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Tidak Ada Pesan Baru
0
Suka
1,124
Dibaca

‎Dedi keluar dari aplikasi whatsApp. Ia dengan kesal kemudian masuk telegram. Tak ada chat sama sekali. Tadinya pria Tegal tersebut hendak membanting hapenya, tetapi karena berbagai pertimbangan, dirinya harus menahan emosi.

‎

‎Sebab hape yang kini digenggam tangan kirinya, adalah pusat harapan tunggal demi kehormatan yang berkaitan dengan mengais rezeki. Yatim piatu dan tanpa sanak keluarga tersebut sedang bingung soal ekonomi seperti biasa. Soalnya usahanya tak laku.

‎

‎Istrinya terus menuntut, dan mengeluh hampir setiap hari tentang pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga. Ita, sang istri, Selalu nyinyir pada majikannya, yang katanya terus menyindir Dedi yang bagi sang majikan dianggap menganggur.

‎

‎Dedi bukannya tanpa usaha. Dari mulai usaha legal, sampai pekerjaan yang tak Ita ketahui ia jalani. Bahkan pekerjaan live show profesional tak senonoh, di aplikasi yang digandrungi hidung belang pernah ia lakoni.

‎

‎Ita sendiri tak mau tahu uang suaminya berasal dari mana. Ia merasa, ia sendiri sudah capek dengan pekerjaannya. Apalagi majikannya punya tiga orang anak, dimana semuanya lelaki. Hampir tak ada bedanya dengan anak perempuan memang, tapi membuatnya harus bekerja beberapa kali lipat.

‎

‎Dedi sendiri mengalami depresi. Depresi yang ia sembunyikan dari Ita. Penyebabnya, ia merasa bakat serta potensinya terlalu diremehkan.

‎

‎Sejak kecil Dedi memiliki bakat menggambar. Ia tak terbatas pada satu gaya. Gaya menggambarnya luas, dan ia selalu belajar terus menerus, demi meningkatkan kemampuannya untuk diaplikasikan dalam dunia menggambar.

‎

‎Kondisi yang kini sudah modern pun membuat Dedi ikut trend. Bekerja dengan memaksimalkan teknologi. Dengan bantuan beberapa aplikasi, Dedi membuka jasa pembuatan cover. Baik untuk buku, album musik, dan lainnya. Baik digital maupun cetak.

‎

‎Awalnya memang laku, tapi perlahan pelanggan enggan. Alasannya logis. Dedi bisa membuat karya setiap hari, bahkan dia bisa membuat sampai maksimal lima cover dalam satu hari. Membuatnya dicurigai menggunakan AI.

‎

‎Ya, teknologi menguntungkan sekaligus menuduh Dedi melakukan hal yang paling dihindari seorang seniman. Tapi Dedi tak pernah sadar, pelanggannya banyak yang mundur karena hal tersebut.

‎

‎Ia mengira semua tak menghargai bakatnya. Memandang sebelah mata kemampuannya. Dedi yang sedang depresi berat tak bisa menalar, bahwa bakat tak bisa dirasakan orang lain. Hanya bisa dirasakan yang bersangkutan.

‎

‎Apalagi bakat Dedi adalah menggambar, sebuah kemampuan yang bisa dikerjakan teknologi bernama AI. Membuat kerja keras dari bakatnya makin disalahpahami.

‎

‎Sedang Ita menatap Dedi yang sejak tadi memandangi handphonenya. Badan Ita yang lebih besar dari suaminya, tak segan membuat wanita berusia tiga puluh lima tahun tersebut membentak sang suami.

‎

‎"Handphone mulu. Gue tau lu lagi nyari pelanggan. Tapi apa engga ade kerjaan lain?"

‎

‎Lalu dengan nada nyinyir Ita meneruskan kalimatnya,

‎

‎"Oh. Lupa. Umur. Makanya dulu sekolah yang bener."

‎

‎"Seandainya nih, bang. Dulu warisan dari almarhum bapak elu, buat modal usaha yang lain. Bukan buat bikin studio sama langganan aplikasi buat elu ngegambar."

‎

‎Ita melanjutkan dengan nada makin menusuk hati.

‎

‎"Ini seandainya loh, bang. Seandainya. Kita pasti udah lebih baik sekarang."

‎

‎Dedi mematung, sedangkan Ita keluar kamar. Dedi bengong. Ia berharap nyawanya melayang saja. Sebab harga dirinya sebagai pria sudah lantak.

‎

‎Dedi kembali mengecek WhatsApp kemudian Telegram. Memang tidak ada keajaiban. Dedi pun akhirnya melanggar salah satu etika hidupnya. Ia memutuskan menggunakan jasa pinjol ilegal. Sebab yang legal berbelit, dan belum tentu disetujui.

‎

‎Entah bagaimana ia akan melunasi. Yang ada di pikiran, yang penting tak lama lagi ada uang untuk modal. Entah modal apa, belum Dedi pikirkan. Yang penting ada dana dulu.

‎

‎Untuk pelunasannya ia pasrah jika tidak bisa melunasi, bila usahanya gagal. Dedi sudah siap sedia babak belur. Dedi juga sudah mengantisipasi jika nanti Ita menuntut cerai, sebab dirinya kini sudah tak ada rasa. Pun Ita.

‎

‎Dedi berniat memulai segalanya dari nol, setelah perceraian dengan Ita, seandainya usaha yang entah itu apa, gagal. Karena berdasarkan keadaan ia dan Ita sekarang, memang skenario tersebut yang paling mungkin.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
Kau Tetap Ayahku
Diani Anggarawati
Flash
Bronze
Breastfeeding Meeting
Silvarani
Flash
Tidak Ada Pesan Baru
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Secarik Tagihan Sendu
Ayub Wahyudin
Novel
KALANDRA JOHSON DESMOND
Fabriana Hanif😍
Skrip Film
Sintia Yang Terbuang Cinta
silvi budiyanti
Novel
SANG DUKUN
Ikhwanus Sobirin
Novel
Adora
Puteri M.
Novel
Bronze
SAHABAT DAN KISAH CINTAKU
silvi budiyanti
Novel
Nampek
Makrifatul Illah
Novel
unbroken
Hadley
Novel
Sinar-Sinar Cinta
Novia dewi
Flash
Sampah
Art Fadilah
Novel
My Home
Nur Irawati
Novel
Harta Tahta Renata
Ratih widiastuty
Rekomendasi
Flash
Tidak Ada Pesan Baru
Rere Valencia
Flash
Pendoa Dengan Minimnya Usaha
Rere Valencia
Flash
Kisah Seorang Penulis Juga Rencana Akhirnya
Rere Valencia
Flash
Bronze
Adel Tersayang
Rere Valencia
Flash
Bronze
Azizi dan Lulu
Rere Valencia
Flash
Bronze
Dunia Yang Berbeda
Rere Valencia
Flash
Bronze
Werewolf: Adegan ke 2
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sang Diva
Rere Valencia
Flash
Budi
Rere Valencia
Flash
Bronze
Aku Paranoid
Rere Valencia
Flash
Bronze
Persekusi, Fitnah
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sang Pembawa Buah Cempedak
Rere Valencia
Flash
Bronze
Dia, Si Pemain Judol
Rere Valencia
Flash
Bronze
Yang Kucari Selalu Menemani
Rere Valencia
Flash
Bronze
Billy dan Greesel (Apa Adanya)
Rere Valencia