Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Seorang gadis sedang berbaring di kasur panjangnya. Sembari memainkan dua peran, seolah menjadi dokter yang sedang mengobati pasiennya dan juga seolah menjadi seorang pasien yang mengadu kesakitan.
"Dok, tolong aku. Bagaimana aku menghadapi seluruh kepekaanku?"
"Bagaimana mengubah tubuhku menjadi batu agar aku tidak perlu menyerap apa pun lagi?"
Namun, peran dokternya kini diam membisu. Ia tak tahu lagi hendak bagaimana meneruskan peran.
Dibuanglah manuskrip itu, kini bayangan jiwanya kembali terbelah dua.
"Ada aku yang menjadi aku, ada aku yang menjadi orang lain yang mendengarkan cerita gilaku," ucapnya sembari menyiapkan panggung skenario penghiburan.
Gadis itu pun memainkan tokohnya menjadi sang pemimpi terlebih dahulu.
"Hai, kau tahu? Aku habis mendapatkan mimpi bahwa suatu saat akan datang sesosok yang begitu hebat, tangguh dan menyayangiku dengan seluruh sumpah kehidupan. Ia adalah ksatria dari langit yang telah dijaga Tuhan atas jawaban rerintihan doa. Dia akan berusaha menciptakan dunia yang tidak lagi berisik menusuk badanku, dia adalah seorang ksatria yang tangguh. Pun jika nanti tangannya tak mampu membenahi seluruh cakrawala yang jauh, dia akan datang setiap saat memelukku, menemani jeritan kabel putus di seluruh pucuk kepala sampai pucuk kakiku."
"Maka dari itu, aku akan bersiap terlebih dahulu, aku akan menyambung napasku lagi untuk menunggunya, sampai ia akhirnya datang menjemput."
"Benar, sampai dia menjemput, aku akan merajut napas sesakku sekarang lebih dulu. Aku harus tetap bertahan hidup. Tidak boleh mati dulu."
Kemudian Sang Pendengar hanya melihat dengan nanar dan tersenyum.
"Kau yakin itu adalah mimpi dari Tuhanmu?" tanyanya.
Sang Gadis pemimpi itu menunduk dan berkata, "Aku tidak tahu, aku tidak punya peta apa pun untuk membuktikan itu."
Sang Pendengar kembali bertanya, "Lalu apakah itu, wahai aku?"
Sang Gadis pemimpi dengan gemetar, memegangi gambaran mimpi-mimpi retak itu.
Sembari lidahnya yang juga sama bergetar pilunya berkata, "Ini, ini mungkin ilusi isi kepalaku agar aku tetap bisa bertahan hidup."
"Otakku yang cerdas ini jelas paling tahu dengan apa yang begitu aku rindukan untuk aku miliki sekaligus takut aku impikan karena begitu takut dirusak kenyataan."
"Aku tahu itu mustahil, tapi daripada mati atau tersesat dalam doktrin gila kolektif, lebih baik aku gila dengan ilusi yang aku sadari itu adalah ratapan dan kerja keras otakku melindungi diri, iya bukan?"
Kini kedua peran itu runtuh, tersisa seorang gadis kecil dengan cermin di depannya yang memantulkan bayangannya sendiri.
Gadis itu menangis dan meringkuk.
Seolah dipercundangi segala lelembut yang turut tahu sembari mengejeknya dengan penuh bahwa ia sedang bercumbu dengan halu yang entah apakah memang bisa bertemu keselarasan ruang waktu.
Suara berisik itu berdering bagai nyanyian lelembut yang sedang merundung.
"Tralala delulu, tralala selalu, delulu melulu, kini gadis muda mengikat nyawanya dengan secarik halu."
"Tralala delulu, tralala selalu, delulu melulu, Sang gadis muda menyambung nyawanya dengan secarik halu."