Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Karnelian
0
Suka
21
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Di musim semi, seorang pengelana datang ke desa yang terkenal dengan anggur persiknya. Namun, meskipun dilanda rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh, tempat pertama yang dikunjunginya bukan penginapan, melainkan sumur batu di dekat kebun persik.

Di sumur itulah ia bertemu gadis petani bernama Karnelian. Nama yang cocok jika kau membandingkannya dengan matanya yang berwarna cokelat kemerahan seperti batu karnelian. Si Pengelana baru saja menimba air untuk kudanya minum ketika gadis itu datang, wajahnya berkeringat setelah bekerja di kebun. Keduanya saling memberi senyum sopan pada satu sama lain.

Di musim semi tahun berikutnya, cuaca lebih teduh dan salju belum sepenuhnya mencair. Si Pengelana bertemu Karnelian di sumur yang sama. Ia bertanya di mana letak penginapan terdekat dengan harga sewa kamar yang relatif terjangkau, dan Karnelian dengan riang membawanya ke satu-satunya penginapan di desa. Di penginapan itu, untuk pertama kalinya Si Pengelana mencicipi anggur persik yang diklaim sebagai anggur persik terbaik di seluruh negeri.

Mereka tidak bicara lagi setelah Karnelian mengantarnya ke penginapan, tapi di tahun berikutnya, ketika Si Pengelana kembali berkunjung, keduanya bicara cukup banyak tentang anggur persik. Minuman itu meninggalkan kesan tersendiri di lidah Si Pengelana. Karnelian yang bangga pada produk lokal desanya pun membocorkan rahasia cara membuat anggur persik padanya. Si Pengelana tertawa. Meskipun tersanjung, ia tidak mungkin dan tidak akan punya waktu untuk mencoba membuatnya sendiri.

"Memangnya kenapa?" tanya Karnelian.

Si Pengelana menjawab, "Aku tak pernah tinggal di satu tempat terlalu lama." Ia menepuk tas sadel pada kudanya.

"Ada kaitannya dengan pekerjaanmu?"

"Mhm."

Karnelian terpana. "Kalau kau sampai harus terus bepergian, pekerjaanmu pasti lebih menyenangkan daripada bertani."

"Tidak juga." Si Pengelana menoleh pada kebun persik yang sedang berbunga. "Kalau bukan karena diriku yang payah dalam bercocok tanam, aku pasti sudah memilih jadi petani sejak dulu."

Karnelian mengernyit.

"Jangan begitu. Tanpa petani negeri ini akan mati kelaparan. Benar, kan?"

Seperti yang dikatakan olehnya tadi, Si Pengelana tak pernah tinggal di satu tempat terlalu lama. Oleh sebab itu, keesokan paginya Karnelian buru-buru berlari dari kebun ke penginapan. Dia mendapati Si Pengelana tengah bersiap di istal penginapan dan baru saja selesai mengenakan jubah perjalanannya yang usang dimakan cuaca.

Ada banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan Karnelian, tetapi dari seratus pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya, yang meluncur keluar dari mulutnya justru, "Apa nama pedangmu?"

Si Pengelana tertegun, kepalanya sejenak menunduk pada pedang yang tersampir di pinggangnya. Kemudian, dengan jemari melingkar pada gagang pedang tersebut, ia berkata, "Heartbreak."

Seekor burung berkicau di kejauhan. Di tengah nyanyiannya yang memecah keheningan, Karnelian tertawa lepas.

Keduanya tidak lagi berjumpa selama lebih dari dua tahun.

Pada tahun kelima sejak terakhir kali Si Pengelana menemui Karnelian, ia telah menanggalkan jubah perjalanannya yang usang. Kini ia dibalut dalam baju zirah berat dan tergabung dalam prajurit infanteri Kerajaan Proscovia.

Setelah pertempuran sulit, pasukannya diarahkan untuk bergerak ke desa yang baru saja diambil alih dari pihak musuh dan beristirahat di sana. Si Pengelana merasa familiar dengan jalan-jalan yang mereka lalui. Meski begitu, hatinya mendadak tidak tenang.

Musim panas telah lama beralih ke musim gugur, dan dedaunan di pohon-pohon persik yang sudah sering ia lihat mulai menguning, buahnya telah dipanen di musim sebelumnya.

Lima tahun lalu, sisi gerbang desa dihiasi oleh panji-panji bergambar kuda hitam yang tengah mendompak dengan latar emas. Sekarang panji-panji tersebut tak tampak lagi, digantikan dengan panji-panji bergambar mawar biru dengan latar hitam–panji Kerajaan Proscovia.

Si Pengelana terpaksa berhenti melangkah, mencengkeram erat Heartbreak di pinggangnya. Ia mendadak teringat pada tawa lepas Karnelian ketika mendengar nama pedangnya yang konyol, tetapi ingatan itu tidak membuatnya tertawa geli.

Sebab, dari atas gerbang desa, kedatangannya disambut oleh tiga mayat yang menggantung. Dari tiga mayat yang ada, mayat yang digantung di tengah memiliki warna mata cokelat kemerahan; warna yang senada dengan darah kering di sekitar luka tusuk pada perutnya, warna yang membawanya kembali pada secarik kertas berisi resep anggur persik yang ditulis tangan, dan warna yang mengingatkannya pada batu karnelian.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
HEY MONSTER
Fitroh Wiji Astuti
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Novel
Bronze
KEDUA KALI
Novya
Flash
Bronze
Harapan
ani__sie
Flash
Sang Penghibur Kerajaan
Jaydee
Skrip Film
About Dream
Arie Nur Wahyu Putra
Skrip Film
Ibu Angkat VS Ibu Injak
Vitri Dwi Mantik
Flash
Perkara Bintang yang Tak Kunjung Ditemukan
kanun
Novel
Bronze
4 : 4
mahes.varaa
Novel
Semesta Kita
Elivia Nor
Novel
Teman Lamaku
Yaraa
Cerpen
Setia
Rere Valencia
Novel
Bronze
I Love My Army Wife 3
Author WN
Novel
Aksara Untuk Senja
Ririna Rew
Skrip Film
SAH!
Rinaha Ardelia (Seorin Lee)
Rekomendasi
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini
Flash
Merpati di Pinggir Laut
Wina Sari Ardini
Flash
Hutan Gantung
Wina Sari Ardini
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Flash
Di Balik Tembok Kuil Berlapis Emas
Wina Sari Ardini
Flash
A Thousand Gods, a Thousand Prayers
Wina Sari Ardini
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini