Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Karena Cinta Kamu Bego Karena Cinta Kamu Puitis
0
Suka
49
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tak menyangka, kalau ini bakal terjadi. Ku kira dengan banyak berdiam diri dirumah, menghabiskan waktu membaca, belajar menulis, dan membatasi interaksi dengan rekan kerja lawan jenis, aku akan aman. Ternyata tidak. Kini kondisi itu jauh dari aman. Bukan masalah aman orang lain yang jahat padaku. Atau rekan, kerjaku, yang menjahatiku. Bukan. Akulah yang rasanya menjahati mereka.

Bermula dari interaksi kikuk, yang tidak sengaja, dengan pria hening itu. Duh, apa yang menarik darinya. Rambutnya kaku, tubuhnya kaku, senyumnya kaku, bicaranya kaku, hanya sepatah, atau dua patah kata saja, yang keluar dari mulutnya. Gayanya sederhana, sorot mata tajam tapi lembut. Tidak berjabatan, dan bukan orang berpengaruh. biasa saja.

Ada lagi satu hal yang membuat aku tidak betah lagi berurusan dengannya, sehingga aku jadi benci. Yaitu ketika dia menyerahkan gawai miliknyanya, kepada teman kerjanya yang lain, disaat aku menghubungi dan butuh penjelasannya. Aku sakit hati sampai terpikirkan apa yang salah dengan telepon ku. Apakah aku terlalu cerewet, banyak tanya, atau nyinyir? 

Aku menyumpahinya, dalam hati. Berjanji tidak akan menghubunginya lagi terkait dengan pekerjaan. Lebih baik berurusan dengan temannya yang lain saja,  selain lebih nyaman karena keramahannya, wajahnya juga manis. Sayangnya dia, si pria hening ini, selalu saja  ikut, nimbrung dan menyela pembicaraan kami.

Ah! Aku lupa kemana-mana mereka pergi bersama. Makin tidak nyaman saja rasanya, tambah lagi empat bola mata kami saling beradu padang, sekali dua kali. tiga kali. Jadi  jijik. Jijik sampai sekujur badan. Tapi mengapa mata ini tidak bisa beralih darinya. “Dasar jelek.” Lirih ku. 

Aku melenggang, berjalan membawa rasa jengkel ini balik, menuju kantorku. Seperti biasa aku duduk, lalu  meneguk air dalam botol minum yang kubawa dari rumah. Bukan kesegaran yang kudapat, malahan jadi meriang, pandangan mata berkunang-kunang. Kusandarkan tubuh ke kursi, sekaligus merebahkan kepala, untuk mencari sedikit kenyaman. Kupejamkan mata ini dalam-dalam. Sial. Mata itu. Matanya muncul membayang di pelupuk mataku. Cepat-cepat kubuka mataku. Sedikit lega, karena bayangan mata itu sudah pergi. Aku pejamkan lagi mataku, dia muncul lagi. Kutekan kelopak mataku agar terkatup dalam-dalam, agar bayangan mata pria hening itu hilang. Malahan semakin terpicing, semakin kuat lekatnya.

Tidak mungkin.” Ku buka mataku, matanya muncul di komputerku, kualihkan pandangan ini ke teman seruangan. Gawat kenapa Fadli jadi mirip dengannya. Kakak Marissa atasanku, juga menyerupainya. Seluruh ruanganku, muncul mata bulat, tajam sempurna itu. Stop. Kenapa bayangan mata itu bisa berubah menjadi indah. Aku yang baru sadar atau apa aku kena sihir?

Kini aku sampai dirumah, berusaha tetap melakukan pekerjaan rumah seperti biasa, dalam kondisi hati yang tidak biasa. Ku harap suami dan anak-anakku, tidak menangkap sinyal aneh, dari rongga dada ku yang sedang berkecamuk perang. 

*****

Malam di bulan pertengahan. Purnama, bersinar dengan terang, sampai cahayanya mengintip, menyelinap masuk lewat jendela kamarku. Dinihari ini aku terbangun, dari tidur ku, karena dia lagi.  Rasa sesak berhimpit-himpit, menyesak memenuhi dada ini, lalu ku padangangi sesosok tubuh disampingku. Dengkuran lembutnya, karena lelah seharian mencari nafkah, membuat air mata ini, nyaris jatuh, karena rasa bersalah. Aku seperti telah mengkhianatinya. Benar-benar menyiksa. “Apa yang mesti aku lakukan ya tuhan….” Isak ku disampingnya.

Mungkin pria hening itu tidak menggodaku.”

“Atau hanya aku saja, yang tergoda padanya.”

Aku bangkit, dari ranjang, menyambar gawaiku, memencet aplikasi obrolan,  membuka chat lama kami, kubaca satu persatu. Aku tersenyum sendiri, ketika ada percakapan yang terasa canggung. “Kenapa menjadi gila begini.” bisikku.

Melalui hari-hari, yang tidak normal ini, sungguh menyiksa batin. Terkadang sadar kalau diri bukan remaja lagi, dan sudah dimiliki. Dengan begitu aku, berusaha untuk tenang, dan berwibawa. Terkadang sifat genit, yang belum habis sepenuhnya, semasa usia remaja bangkit lagi. Tahulah kalian apa yang dilakukan remaja tujuh belas tahun, kalau lagi jatuh cinta.

Akhirnya waktu yang menyadarkan aku, kalau cinta itu anugrah. Ia Ibarat bayu, yang menyapa lembut wajah alam. Biarkan saja dia berhembus, mengalir dan menyentuh, memberikan hawa segarnya. Jangan dilawan, terima saja kecupan lembutnya. Cinta ibarat, kita berjalan di antara rumah-rumah. Ada yang benar-benar untuk pulang. Ada yang hanya untuk singgah melepas lelah. Ada yang bisa dipandang saja dari kejauhan, karena keindahannya. Biarkan menertawakan, sampai mereka berbicara. 

“Karena cinta kamu jadi bego.”

“Karena cinta kamu jadi puitis.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
Beauty
Bentang Pustaka
Flash
Karena Cinta Kamu Bego Karena Cinta Kamu Puitis
T. Filla
Novel
Safis
Shin-Shin
Novel
Gold
5 Detik dan Rasa Rindu
Mizan Publishing
Novel
Bandung, Kota yang Menunda Pulang
Intan Siti Noer Rita Daswan
Novel
(B) UTUH
Basmalahku
Novel
BLACKSWEET
Zaki septiyono
Novel
Runtuhnya Pesona Dewa Yunani
Lail Arrubiya
Komik
A Cactus Among The Flowers
widya azhar
Skrip Film
RENAISSANCE
Kinanti Atmarandy
Novel
Gold
Kenangan Hujan
Falcon Publishing
Novel
Bronze
Summit Attack
Fara Madhani
Skrip Film
Bukan Gagal Nikah
Diena Mzr
Cerpen
Bronze
Bukan Salahku, Suaraku Seperti Ini
Nuel Lubis
Novel
Koi No Yokan
Wiwit Widianti
Rekomendasi
Flash
Karena Cinta Kamu Bego Karena Cinta Kamu Puitis
T. Filla
Cerpen
Bronze
Keputusan Abah
T. Filla
Flash
Menunggu Juga Amalan
T. Filla
Cerpen
Bronze
Quiz Yang Menguji Kepantasan
T. Filla
Cerpen
Bronze
Intelektualitasnya Ternodai
T. Filla
Flash
Bronze
Dendam Mariah
T. Filla
Cerpen
Bronze
Cerita Pemanis Kopi
T. Filla
Cerpen
Dress Code untuk Hanna
T. Filla
Cerpen
Cerita Lula
T. Filla
Flash
Kelakar Radith
T. Filla
Cerpen
Bronze
Anak Emak
T. Filla
Cerpen
Bronze
Dinding Mana Yang Punya Telinga
T. Filla
Cerpen
Bronze
Dunia Kerja Rana
T. Filla
Cerpen
Bronze
Tergadai
T. Filla
Cerpen
Bronze
Mushola Kecil Di Tengah Komplek
T. Filla