Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Seorang hamba sedang tertunduk lesu di sepertiga malamnya.
Menatap rembulan dari kejauhan,
Sembari menyambut rintik air dari kedua bola matanya yang seolah mengantarkan sebuah sajak mesra.
"Tuhan,
Aku hanyalah seorang gelandangan muda,
Berjalan ke sana ke mari membuang peta,
Sebab aku yakin peta yang selama ini bertebaran itu penuh kabur dan goresan tangan kaku para manusia."
"Tuhan, aku melihatnya.
Goresan goresan kaku tangan manusia yang membuat debu berterbangan.
Lalu debu pula telah membabat habis batas antara jurang dan juga jalan."
"Maka kini hamba putuskan untuk mulai lagi dari awal, dengan luka yang masih basah ku bawa berlari mencari peta peta yang aku kenal dari-Mu."
"Aku akan mulai meraba dari awal."
"Biar,
Biar ku selami lagi setiap samudera,
Biar aku terpelosok pada parit parit tajam,
Biar aku meraba dan membenahi lagi batas batas."
"Aku tak akan hancur, Engkau di sampingku selalu kan?"
"Tuhan,
Aku seorang gelandangan muda,
Telah aku robohkan semua ego dan ambisi yang membuncah tanpa makna,
Aku telah pulang."
"Tuhan,
Aku ingin pulang.
Aku meninggalkan pasar dan juga inginku terhadap pasar,
Bahkan tanah kelahiranku pun telah ku titipkan pada angin yang berhembus tenang."
"Tuhan,
Hidup bukan tentang sebuah tema larik sajak puisi yang bisa aku ajukan, ya?"
Rintik itupun terjatuh seolah memang sedari tadi sudah menunggu waktunya untuk jatuh.
"Kenapa?
Aku sudah di atas menara,
Kenapa aku tidak bisa mendaki langit untuk mencari anak tangga menuju rumahMu,
Tubuhku asing di sini, Tuhan.
Aku mau pulang pada rumahMu, hanya mau itu."
"Tuhanku, Engkau jelas tahu itu.
Tapi kenapa tak kunjung juga kau izinkan aku melangkah pada rumah-Mu dan meninggalkan tanah yang panas ini?
Yang menusuk setiap sisi tubuhku setiap hari."
"Tuhan, biarlah biar.
Jika memang belum datang izinMu untukku berpulang.
Biar jejak darah dan tangisku bertebaran lalu menjadi peta dan pelajaran yang ditangkap oleh hamba hambaMu yang kau pilih kemudian."
"Supaya sakitnya tidak sesakit yang aku punya."
"Supaya gemetarnya tidak sepilu yang aku punya. "
"Supaya rasa takutnya tidak setakut yang aku punya."
"Supaya kedinginannya tidak semenusuk yang aku punya."
Kini basah pula kedua pipi dan juga dagunya.
"Agar ia bisa membenahi peta peta yang telah usang dan kabur terkena debu kabut jiwa manusia.
Dan berjalan dengan lebih tenang."
Getar dan retak mulai merasuk pada jemari tangannya. Ia mulai mengusap wajahnya seraya berdoa, entah berdoa apa.
"Tuhanku yang Penyayang,
Aku mau meninggalkan semuanya dan beristirahat."
"Kenapa, Tuhan?
Engkau menolak kepulangan yang ku ajukan?
Ada apakah di bumi ini yang perlu aku sentuh pula?
Ada siapakah di bumi ini yang perlu ku temui pula?
Ada tanah mana lagi yang perlu bertemu tapak kakiku pula?"
"Tuhan,
Hanya restu muliaMu lah yang kini aku damba."
"Aku hanyalah seorang gelandangan muda.
Yang ingin pulang di pelukanMu dan beristirahat dengan senyuman tenang.
Setelah semua perjalanan menyakitkan."
"Tapi Tuhan,
Kenapa lantas Engkau menyeru padaku untuk keluar dan bersikukuh memberiku mercusuar?"
"Sungguh, aku hanya ingin pulang
Pada lautanMu yang dingin menyejukkan."
Tersungkur ia merebahkan tubuhnya pada sebuah batu bata yang memang diciptakan untuk saling menyangga.
Sambil mengulang ulang sebuah rerintihan.
"Tapi,
Bagaimanakah caraku berperang dengan yang Maha Berkehendak?"
"Sungguh, aku hanya ingin pulang,
Pada lautanMu yang dingin menyejukkan."
"Tapi,
Bagaimanakah caraku berperang dengan yang Maha Berkehendak?"
13 Oktober 2025
04.40