Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
LENTERA APIARI KELANA
0
Suka
12
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku hendak memasuki lorong berwarna biru sebab yang kurasakan hanyalah cubitan kecil. Namun, pendaran warnanya seolah memasang pagar besi meski tak terlihat wujudnya. Awalnya aku tak tahu kenapa lorong yang seolah memanggilku itu berhenti melambaikan tangan-tangan kecilnya. Ketika itu, kulihat samar-samar bayangan hitam yang melangkah menjauh di dalamnya. Aku tak tahu betul siapa itu, hingga kulihat caranya melangkah. Kepalanya tidak tertunduk, langkahnya tidak diikuti keraguan. Pijakannya serasa melayang seperti bulu angsa yang berkelebat di atas sebuah kolam.

Aku pun tahu, bahwa langkah-langkah itu adalah irama sunyi dari caramu. Awalnya, kukira kau memberi dirimu warna yang terlalu mudah, sementara aku harus diselimut oleh warna merah yang begitu menakutkan. Hingga, ketika lambaian tangan warnanya memercik, yang kurasakan adalah cipratan air dingin serupa tetesan di antara perbukitan Trawas.

Meski begitu, aku tetap memakai jaket cokelat tebal yang sudah biasa kupilih sekadar hanya untuk membayangkan--bertetes itu jika dilanjutkan akan menjadi ribuan. Jika ribuan dingin berhinggap di tubuhku, walau pelan-pelan, akan tetap menjadi serbuan yang tak bisa kutangani. "Tapi, aku tahu kenapa kau memilihkanku warna yang menyala ini. Kau tahu pijakan di kursi Jepang yang bahkan sangat pelan kurasa sebagai tekanan yang menusuk. Cubitan ribuan kali, tentu tak bisa kutangani."

Begitu memasukinya, yang kulihat adalah jalan yang membara, namun di setiap asapnya yang tertiup adalah udara beku. Kurasa, aku sudah semakin terbiasa sebab sudah terlalu banyak kekakuan dan ketakadaan yang kurasakan bertahun silam--bahkan, yang baru saja kulewati dalam 12 purnama.

Tiang-tiang bambu yang menjulang ke atas membumbungkan asap kelabu. Yang kulihat adalah ketakutan dari asap-asal beracun. Asap itu semakin membumbung, menyelimuti segala kekosongan di ruangan ini. Aku sudah membayangkan bahwa tubuhku akan terkaku kembali, sesak oleh segala udara yang tak sebenarnya bisa kuhirup.

Aku hendak tersungkur, membuat diriku rebah, dan pasrah oleh segala yang tak bisa kuatasi. Kegelapan dari selimut kabut ini membawaku kembali pada pantulan suaramu, "Kita tak pernah bisa mengendalikan apa yang di luar kita, hanya diri kita saja."

Saat itu, aku melihat samar-samar keberadaanmu di percikan cahaya biru. Seolah, aku melihatnya menembus ruang yang membatasi kita, pelan, pelan, pelan, kabut ini ternyata hanyalah air-air dingin yang menjadi selimut untuk menutup segala kehangatan. Aku pun kembali berjalan, untuk menggapai ujung dari cahaya merah ini.

Sampai, pada sebuah persimpangan yang mempertemukan merah dan biru.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Mbak Yang Ketemu Kemarin
Luca Scofish
Flash
Bronze
Di Ujung Ranting
Yasin Yusuf
Flash
LENTERA APIARI KELANA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Evermore
Dear An
Skrip Film
Kau Mentariku
Andhika Yudistira Syah Putra
Flash
SAMPAI JADI DEBU
Deasy Wirastuti
Novel
Aku Terlahir Istimewa
Dela
Flash
The Ex
Rama Sudeta A
Novel
Bronze
Renji-Senara: Forbidden Bloom
Desy Cichika
Novel
Waiting For Him
Rania RI
Novel
Luka Liku Lara
Naufalyn Arabbani
Flash
Bronze
BenciZone
Eva yunita
Flash
Never Just a Friend
Farah Maulida
Novel
Genangan
Isna Safitri
Novel
Aku Mahasiswa
Adhi Saputra Batubara
Rekomendasi
Flash
LENTERA APIARI KELANA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
DUA CINCIN SEGALA SEMESTA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera dan Kelana yang Menciptakan Badai
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera yang Meredup Ketika Rintik Memanggilnya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lambaian Lentera Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Di Kota-Kota Yang Sama ketika Lentera Menjadi Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Pada Sebuah Dunia Ketika Kelana Diterangi Lentera, Juga Sebaliknya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Kelana: Menurutmu Kita Apa Lentera?
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
KELANA LABIRIN LENTERA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
HoQ: PUZZLE PERJALANAN WALET
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)