Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
BAB 111
1
Suka
74
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

"Hah..." Romeo menghela nafasnya panjang, memastikannya terdengar di sisi belakang bus sekolah yang mereka naiki.

Bukan tanpa alasan dia melakukannya, melainkan karena tetangga 15 langkahnya, menangis kembali dengan mata menatap layar ponselnya.

Romeo sudah hafal ritmenya-tangis, lalu bunyi notifikasi, lalu ponsel mamanya berdering. Ibu Juliet akan menelpon mamanya untuk memastikan bahwa Juliet menangis hanya karena apa yang dia baca, bukan karena di bully di sekolahnya.

Padahal siapa mau membully seorang Juliet? Dia cantik. Rajin. Ramah. Populer. Semua murid dan pekerja sekolah menyukainya. Kecuali penjaga perpustakaan. Karena Juliet sulit mengendalikan emosinya saat dia begitu hanyut dalam apa yang dia baca. Berulang kali penjaga perpustakaan menegurnya, Juliet mengiyakannya, namun detik berikutnya melupakannya.

"Baca apa lagi sih?" Tanya Romeo berpindah duduk kesampingnya memberikan tissue yang dia bawa karena tahu, ada momen Juliet akan menangis hanya karena bacaannya.

Bahkan Romeo melepaskan headset kabelnya yang dari tadi dia gunakan.

"Dia... dia... mati... Claire... mati..." sesenggukan jawab Juliet meraih tissue yang disodorkan Romeo.

Claire adalah tokoh fiksi yang sedang Juliet baca. Setelah 5 musim cerita mereka berjalan, wajar gadis ajaib itu mati.

"Oh, sudah tamat?" Tanya Romeo padanya.

Juliet menatapnya dengan mata yang memerah. Wajahnya yang bersih juga ikut memerah, semakin membuat Romeo yakin akan panggilan telepon yang akan ibunya terima dalam setengah jam lagi.

"Belum... tapi aku gak sanggup baca... tunangannya... tunangannya sampai... sampai..." Juliet kembali sesenggukan.

"Itu cuma fiksi."

"Ya tapi kan sedih." Jawab Juliet kesal padanya.

"Kalau sedih gak usah dibaca."

"Eh... iya?" Juliet seperti mendapat pencerahan. Tapi buru-buru dia abaikan pikirannya barusan. "Tapi gak mau, aku sudah setahun ngikutin 5 Season mereka."

Romeo memberikan tumbler yang dia bawa dengan sisa air putih dan memberikannya pada Juliet. Juliet menerimanya lalu meminumnya. Tak ada kecanggungan di antara mereka karena mereka sudah mengenal dari bayi. Bahkan nama mereka yang merupakan sepasang kekasih adalah akal-akalan bodoh ibu mereka yang bersahabat di perantauan.

"Apa bagusnya sih?" Tanya Romeo padanya.

Juliet menghapus air matanya dengan tissue seadanya itu, lalu mendengus "Tapi emang bagus sih...Karakternya bagus banget!"

"Halah, kamu cuma suka karakter MLnya kan? Si Niel itu." Ujar Romeo datar.

Juliet mengangguk. "Aku suka Claire, tapi Niel itu luar biasa. Dia green forest banget!"

"Ya namanya fiksi."

"Tapi beda tahu..." Ujar Juliet menunjukan ponselnya pada Romeo. "Nih, liat nih, Claire mati aja masih di peluk sama Niel."

"Kan fiksi, Juli. Kalau di dunia nyata, orang mati mah dikubur."

"Ih, dasar gak punya hati." Juliet kembali menarik ponselnya dari Romeo. "Kalau Author-nya denger, dia pasti kesel sama kamu sih, Rom."

"Lah, emang aku ada salah?"

"Ya enggak, tapi kan enggak gitu..."

"Emang kamu kenal sama Author-nya?"

"Ya... nggak juga sih..."

"Trus kamu bisa menyimpulkan itu dari mana?"

"Ya..." Juliet tertegun sebentar. "Aku sudah ngikutin mereka dari satu tahun yang lalu, aku jadi kayak punya koneksi gitu ke penulisnya."

"Tadi katanya gak kenal." Ledek Romeo mengulang perkataan Juliet.

Juliet memajukan mulutnya, menyibakan rambut panjangnya. "Koneksi gak harus kenal tahu."

"Kalau gak kenal, namanya bukan koneksi, tapi persepsi. Kayak kamu baca buku pembunuhan kemarin, apa Author-nya pembunuh?" Tanya Romeo.

"Enggak sih..." Jawab Juliet menatap jendela busnya yang sudah memasuki kompleks perumahaan mereka. "Eh tapi siapa tahu gak sih? Soalnya buku kemarin twist-nya mantep banget. Siapa tahu dia emang pernah melakukannya."

"Ampun deh, Juli." Romeo menghela nafas panjang menepuk jidatnya sendiri. "Ada yang namanya riset. Bisa aja penulisnya riset dulu."

"Tapi kalau riset harusnya gak semendalami itu kan? Maksudnya secara psikologis harusnya tulisan mencerminkan penulisnya."

"Baca darimana itu? Ngawur kamu." Romeo mengalihkan pandangan dia. "Tapi kalau kamu benar, menurutmu penulis Claire dan Niel itu seperti apa?"

"Aku yakin dia perempuan yang lembut dan emosional juga. Mungkin agak people pleasure ya." Ujar Juliet dengan nada yang sudah meninggi kembali. "Tapi aku yakin dia baik, karena ujung setiap season itu pasti ada sepercik harapan di dunia chaos mereka."

Romeo tak menanggapinya. Karena bus mereka sudah berhenti tepat di gang rumah mereka.

Romeo memandang Juliet sebentar, memastikan berapa lama dia akan menerima panggilan itu. Wajah yang sudah tak semerah tadi, namun hidungnya masih saja merah, matanya sembab.

Sekitar 15 menit. Gumam Romeo dalam hati lalu beranjak dari kursi di samping Juliet dan turun. Juliet mengikutinya.

"Dah Rome!!" Ujar Juliet melambaikan tangan padanya di depan rumah mereka yang bersebrangan dengan senyum sumringah.

Romeo hanya membalas lambaiannya. Toh sehabis ini dia akan kembali bertemu Juliet di dunia maya.

Romeo masuk ke kamarnya, mengganti seragamnya dengan pakaian rumah, lalu duduk di depan laptop kamarnya.

"Iya, iya. Ini Romeo ada disini." Ujar mama Romeo dengan ponsel di telinganya dan membuka pintu kamar Romeo begitu saja.

Romeo membalikan badannya dan meminta ponsel ibunya. "Hallo Tante." Ujar Romeo tenang.

"Hallo Rome, maaf tante telpon ya." Ujar ibu Juliet di ujung panggilan.

"Aman tante." Jawab Romeo sembari tersenyum pada mamanya. "Hari ini gak ada yang terjadi pada Juliet tante, dia beneran nangis pas pulang gara-gara baca webnovel. Rome sudah memastikannya tadi."

"Ah... Syukurlah..." Jawab lega ibu Juliet di ujung telpon itu. "Terima kasih banyak ya Rome, tante gak tahu gimana kalau gak ada kamu. Makasih ya Rome."

"Sama-sama Tan." Ujar Romeo kembali mengembalikan handphone itu ke mamanya.

"Iya Cindy, biasalah anak muda itu hanyut sama apa yang mereka baca." Sahut ibu Romeo keluar dari kamarnya, melontarkan kata "terima kasih" tanpa suara, lalu menutup pintunya.

Romeo tersenyum pelan menahan nafasnya. Dia kembali membuka laptopnya, membuka situs dimana Juliet sering membaca. Melihat sebuah 2 notifikasi pada akunnya.

Dia membukanya.

Notifikasi 1 : Juliet_Arta menyukai bab 110 Season 5

Notifikasi 2 : Juliet_Arta meninggalkkan komentar. "THORRRR, HIDUPIN CLAIRE LAGI PLEASE!!'

Romeo tersenyum membacanya. Lalu jari-jarinya menari di atas keyborad, mengetikan Bab 111.

"Haruskah kubuat Claire hidup lagi? Atau biarkan Juli menangisi dia saja?"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
The Gravity of Us
Maria Evelina
Novel
Gold
OTHER HALF OF ME
Bentang Pustaka
Komik
THE IDIOTS
Andini zsa regita oktariani
Flash
BAB 111
Elizabeth Wu
Novel
Bronze
Half of Lemon
Sinta Yudisia
Novel
Bronze
The Shadow In Your Love
Kamalsyah Indra
Komik
Bronze
Teman Lama, Meja Bermuka Masam
Mujiyono Sutarno
Skrip Film
MALAM SEBELUM PANGGILAN
Tourtaleslights
Novel
Bronze
Someday
Ratih Abeey
Novel
Gold
Dear Prudence
Bentang Pustaka
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi
Cerpen
Sebuah Pelarian
Adhy Musaad
Cerpen
Bronze
Rendang Rindi
Dedy Tri Riyadi
Novel
Out Life
Nurprastiwi
Novel
Atas Nama Cinta, Aku Bangga
Lia Dwi Seftarini
Rekomendasi
Flash
BAB 111
Elizabeth Wu
Novel
Another Side of Sangkuriang
Elizabeth Wu