Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Surat di Dalam Botol Biru
0
Suka
621
Dibaca

Setiap pagi, Nara berjalan menyusuri pantai sebelum berangkat bekerja. Ia menyukai suasana ketika matahari baru muncul dan suara ombak masih terdengar lebih jelas daripada suara kendaraan.

Suatu pagi, kakinya menyentuh sebuah benda keras di antara pasir. Sebuah botol kaca berwarna biru. Di dalamnya terdapat selembar kertas yang dilipat rapi.

Nara membukanya.

Tulisan di sana hanya beberapa kalimat.

"Untuk siapa pun yang menemukan surat ini, jangan menyerah pada sesuatu yang masih ingin kamu perjuangkan."

Tidak ada nama. Tidak ada tanggal.

Nara tersenyum. Ia membawa surat itu pulang dan menyimpannya di meja kerja.

Hari-hari berlalu. Setiap kali merasa lelah, ia membaca kembali kalimat tersebut.

Sampai suatu sore, ia menemukan botol biru kedua.

Isinya berbeda.

"Kalau hari ini terasa berat, istirahatlah. Jangan menganggap istirahat sebagai kekalahan."

Nara mulai penasaran.

Siapa yang menulis surat-surat itu?

Ia kemudian sengaja datang ke pantai setiap pagi.

Seminggu kemudian, botol ketiga ditemukan.

"Beberapa orang datang ke hidup kita untuk tinggal. Sebagian lainnya datang untuk mengajarkan cara melepaskan."

Nara membawa surat itu kepada seorang nelayan tua yang sering berada di pantai.

"Pak, Bapak tahu siapa yang sering melempar botol ke laut?"

Nelayan itu tersenyum.

"Dulu ada seorang lelaki."

"Siapa?"

"Namanya Arga."

"Sekarang di mana?"

Nelayan itu menunjuk sebuah rumah kecil di tepi pantai.

Nara memberanikan diri mengetuk pintunya.

Seorang lelaki tua membukakan pintu.

"Cari siapa?"

"Pak Arga?"

Lelaki itu mengangguk.

Nara menunjukkan surat-surat yang ditemukannya.

Arga terdiam.

"Berarti masih ada yang menemukan."

"Bapak yang menulis semuanya?"

"Iya."

"Kenapa?"

Arga duduk di kursi teras.

"Dulu anak saya meninggal sebelum sempat mencapai cita-citanya. Dia sering menulis kalimat-kalimat kecil untuk menyemangati orang lain."

Arga mengambil sebuah buku tua.

"Setelah dia pergi, saya tidak tahu harus melakukan apa dengan semua tulisannya."

Ia akhirnya memasukkan salinan tulisan itu ke dalam botol dan membiarkannya dibawa ombak.

"Supaya kata-katanya tetap berjalan."

Nara terdiam.

"Bapak masih melakukannya sampai sekarang?"

Arga tersenyum.

"Selama masih ada seseorang yang membutuhkan harapan, saya akan terus menulis."

Beberapa bulan kemudian, Nara mulai membantu Arga.

Mereka menulis surat bersama.

Setiap akhir pekan, mereka membawa botol-botol kecil ke pantai.

Namun Nara punya satu ide.

Ia membuat sebuah kotak kayu besar dan meletakkannya di dekat pantai.

Di atasnya tertulis:

TULIS SESUATU YANG INGIN KAMU SAMPAIKAN KEPADA DUNIA.

Orang-orang mulai memasukkan surat.

Ada yang menulis tentang kehilangan.

Ada yang menulis tentang cinta.

Ada yang menulis tentang mimpi.

Ada pula yang hanya menulis satu kalimat.

"Aku masih ingin bertahan."

Nara dan Arga tidak pernah tahu siapa yang akan membaca surat-surat itu.

Namun mereka percaya satu hal.

Sebuah kalimat sederhana mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah seseorang.

Tetapi mungkin cukup untuk membuatnya bertahan satu hari lagi.

Bertahun-tahun kemudian, Arga meninggal.

Sebelum pergi, ia memberikan buku tua itu kepada Nara.

"Lanjutkan."

Hanya satu kata.

Nara memeluknya sambil menangis.

Keesokan paginya, untuk pertama kalinya Nara pergi ke pantai sendirian.

Ia membawa satu botol biru.

Di dalamnya terdapat surat baru.

Ia menulis:

"Kalau kamu menemukan surat ini, mungkin kamu sedang berada di titik terendah dalam hidupmu. Jangan buru-buru menyerah. Laut pun membutuhkan waktu untuk mengembalikan sesuatu ke pantai."

Nara menutup botol itu.

Kemudian melepaskannya ke laut.

Botol biru itu perlahan terbawa ombak.

Beberapa hari kemudian, Nara kembali menemukan sebuah botol biru di tepi pantai.

Ia membukanya dengan rasa penasaran.

Di dalamnya terdapat secarik kertas dengan tulisan yang bukan miliknya.

"Terima kasih. Aku hampir menyerah, tetapi suratmu membuatku memilih untuk mencoba sekali lagi."

Nara membaca kalimat itu berulang kali.

Air matanya jatuh tanpa ia sadari.

Saat itulah ia mengerti bahwa setiap pesan memiliki jalannya sendiri.

Satu kalimat yang ditulis dengan tulus mampu menyeberangi laut, waktu, bahkan luka yang tak terlihat.

Sejak hari itu, Nara terus menulis.

Setiap pekan ia melepaskan satu botol biru ke laut.

Sebagian kembali ke pantai.

Sebagian menghilang bersama ombak.

Dan sebagian lagi, mungkin sedang berada di tangan seseorang yang sangat membutuhkannya.

Di dalam setiap botol selalu ada satu harapan.

"Kalau hari ini kamu masih bertahan, percayalah, esok masih menyimpan kemungkinan yang indah."

Nara tersenyum menatap laut yang tak pernah berhenti bergerak.

Kini ia tahu, beberapa pesan memang tidak ditulis untuk seseorang yang kita kenal.

Kadang, pesan terbaik adalah pesan yang dikirim kepada orang asing yang mungkin sedang membutuhkan alasan untuk tetap bertahan.

Sejak saat itu, setiap matahari terbit menjadi pengingat baginya bahwa harapan selalu menemukan jalannya. Seperti ombak yang tak pernah lelah kembali ke pantai, kebaikan sekecil apa pun akan selalu sampai kepada hati yang tepat, meski membutuhkan waktu yang panjang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Surat di Dalam Botol Biru
Lukitokarya
Novel
Bronze
MYSTERIOUS CEO
BEBBIKITTEN
Skrip Film
LANDRA
Audhy R.H
Novel
Nova
cuilan debu
Cerpen
Bronze
Ketika Lampu Padam
Aulia umi halafah
Novel
Gold
Shana
Bentang Pustaka
Novel
PIGEON
Kaviiaaa
Flash
Namamu, Namaku
Vica Lietha
Novel
Bronze
I Love You But Just Call Me Best Friends
Theresia Vina Anjani
Novel
L I M E R E N C E
pachapeach
Cerpen
Encounter
Davian Mel
Cerpen
Bronze
Berhenti disini
Zasenja
Flash
A Warm Hug
Yooni SRi
Flash
Bronze
Intuisi
Kaylasyifa Azzahrie
Cerpen
Alena
Awan ElBiru
Rekomendasi
Flash
Surat di Dalam Botol Biru
Lukitokarya
Flash
Kisah di Balik Kedai Kopi Usang
Lukitokarya
Flash
bisikan hati di balik topeng
Lukitokarya
Cerpen
Senandung Patah Hati di Kedai Kopi Senja
Lukitokarya
Cerpen
Kota yang Kehilangan Hari Senin
Lukitokarya
Flash
Bidadari Penjaga Hutan Terlarang
Lukitokarya
Flash
Di Balik Jaket Hijau
Lukitokarya
Flash
Surat dari masa lalu
Lukitokarya
Flash
Melodi yang Hilang di Kota Tua
Lukitokarya
Flash
November dan sebuah kotak musik tua
Lukitokarya
Flash
Peta Usang dan Harta Karun di Pulau Terlupakan
Lukitokarya
Flash
Cubitan Manja Sang Primadona
Lukitokarya
Flash
JEJAK CAHAYA LUKITO
Lukitokarya
Flash
Antara Tradisi dan Ambisi di Lembah Kabut
Lukitokarya
Flash
Debu cinta di barang antik ,strategi hati yang terencana
Lukitokarya