Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Senja di Bola Mata Hasan
Sejujurnya Hasan ingin sekali melepaskan diri dari Maimunah. Betapa tidak, dari awal mereka bersama tak pernah sekalipun Maimunah berucap rindu. Semakin hari Hasan merasa dirinya semakin berjarak dengan Maimunah, ucapannya tak lagi didengar, keberadaannya tak lagi dianggap ada, dan rindunya terabaikan.
“Mai, tak pernahkah terbesit rasa rindu di hatimu untukku?” ucap Hasan di suatu petang kala menemani Maimunah bersolek. Dari cermin di hadapannya, Maimunah mengintip pandang ke arah Hasan. Ia menghentikan gerak tangannya yang sedang menyapu pupur pada pipi sebelah kanan. Hasan menunggu jawaban, tapi hanya terdengar putaran detik jam dinding di kamar itu. Maimunah kembali memoles pupur, kali ini pada bagian pipi sebelah kirinya. Setelah dirasa cukup, ia meletakan kotak pupur dan menggantikannya dengan gincu. Tanpa mengalihkan pandang dari cermin, Maimunah menjawab tanya Hasan.
“Entahlah. Aku kerap memikirkanmu. Di kepalaku hanya ada kamu dan bagaimana cara kita seharusnya bahagia. Apakah itu termasuk rindu?”
Hasan menghela napas dan membuka jendela kamar, berharap angin segar langsung memenuhi ruang tersebut.
“Panjang jawabanmu Mai. Cukup kau bilang saja pernah atau tidak,” ucap Hasan kesal.
Maimunah tak mempedulikan Hasan, ia tersenyum puas dengan hasil lipstiknya yang senada dengan warna langit di dalam kedua bola mata Hasan. Tak ada lagi obrolan di antara keduanya. Hasan pergi begitu saja seiring tenggelamnya senja, sementara Maimunah tersenyum sumringah, tak sabar menanti seseorang yang selepas Magrib nanti akan bermalam.
Sinar rembulan memberi sedikit terang, Maimunah bersandar pada bantal yang ia tinggikan sambil menarik jarik untuk menutupi tubuhnya. Pertanyaan Hasan tentang rindu mengganggu tidurnya. Ia mengingat kembali sosok Hasan yang masih setia bersamanya. Laki-laki yang selalu menerima dan tidak banyak menuntut, santun kata dan perilaku, pekerja keras, serta memiliki wajah rupawan yang membuat Hasan menjadi laki-laki idaman para wanita di kampung. Tapi kenapa Hasan masih setia dengannya, tidak terlintaskah di kepala Hasan meminang salah satu gadis di kampung yang mengejar cintanya, bahkan Sari si kembang desa.
Maimunah memiringkan posisi tubuhnya ke arah jendela, dari mata sayunya nampak bulatan kecil bulan purnama yang terintip dari celag ventilas. Sinarnya membuat Maimunah larut mengenang sosok Hasan yang menurutnya tak kurang satu apa pun sebagai laki-laki, tapi mengapa ia masih enggan bersama Hasan? Maimunah masih mencari jawab kenapa ia tak mampu menyatukan hatinya pada Hasan. Saking larutnya dalam lamunan, tanpa Maimunah sadari Suparman sudah kembali meluncuti jarik yang menutup tubuhnya. Lagi, Maimunah terhipnotis deru napas Suparman. Ia pun memejamkan mata dan menenggelamkan diri pada rasa yang selalu ia dambakan. Segala hal tentang Hasan perlahan memudar kala Suparman menyelimuti tubuhnya.
Dan sisa malam pun berlalu. Maimunah jatuh dalam pelukan Suparman, meski terkadang terbesit rindu pada Hasan.
Di bawah sisa purnama yang tinggal sebentar, Hasan yang sedang mandi di sungai, berjuang melawan dinginnya air yang membasahi tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sambil menggigil, Hasan keluar dari sungai menuju bongkahan batu tempat ia meletakkan handuk, sarung, peculi, dan kemeja koko putih yang kian pudar. Hasan menyelesaikan ritual mandinya tepat saat bedug Subuh ditabuh. Satu-persatu nyala lampu menerangi rumah-rumah warga yang berdiri kokoh di tepi sungai. Hasan yang telah mengenakan sarung dan pakaiannya bersegera pergi menuju surau diiringi kumandang azan.
Pagi dari Kampung Batu Licin berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang berubah ataupun yang mengubah segala hal di sana. Hasan dan Suparman masih menapaki jalan yang sama dengan tujuan yang sama, jalan setapak menuju sekolah dasar tempat ia dulu dikenal sebagai murid teladan dan Suparman dikenang sebagai murid badung.
Terkadang Hasan terkenang masa-masa saat di sekolah dasar dulu, kala ia sering dirisak Suparman dan temannya. Perisakan tersebut terus saja terjadi sampai mereka lulus sekolah. Ada saja kejailan Suparman yang membuat Hasan tak pernah berani menatap Suparman. Mulai dari celana Hasan ditempeli permen karet sampai rambut Hasan dipotong paksa Suparman. Hasan masih mengingat dengan jelas seperti apa tatapan kebencian Suparman terhadap dirinya. Namun, selepas mereka lulus SD dan menjalani masa remaja di sekolah yang berbeda, Suparman tak pernah lagi merisak Hasan.
Hingga suatu hari kampung mereka geger karena kabar Suparman ditemukan pingsan sebab ditinggal minggat istrinya yang pergi bersama selingkuhannya. Suparman pun menduda. Setahun kemudian tanpa alasan pasti saat Suparaman melewati depan rumah Hasan, Suparman meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu. Entah apa yang merasuki Suparman, tapi hal itu disambut baik oleh Hasan. Setelah itu keduanya berteman baik, mereka sesekali bertemu di warung dekat sekolah sembil bertukar cerita.
Seperti pagi ini, sambil memikul cangkul Suparman berusaha menyejajarkan langkah dengan Hasan yang seperti biasa berpenampilan rapi mengenakan seragam guru. Mereka berjalan tanpa banyak bicara ke arah kaki bukit, tempat Suparman mengolah ladangnya yang berada tepat di belakang sekolah Hasan mengajar.
Hangat mentari di Kampung Batu Licin mengantarkan mereka pada kehidupan yang tak seharusnya mereka jalani, tapi hidup adalah perihal tentang keberanian dalam memilih. Keduanya sepakat melangkah bersama sedari jatuh hati pada Maimunah.
“Aku ingin mengunjungi Maimunah,” ucap Suparman menahan langkah Hasan yang ingin berbelok ke gerbang sekolah.
“Datanglah selepas Magrib,” jawab Hasan tanpa memberi pandang pada Suparman. Hasan melanjutkan langkahnya memasuki gerbang sekolah dengan senyum dan disambut senyum manis dari anak didiknya. Hari ini ia akan pulang tepat waktu, tidur siang sebentar, bangun petang, dan kembali berdandan.
Suparman tersenyum sumringah melanjutkan langkahnya menuju ladang.