Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
0
Suka
1,310
Dibaca

Tak ada hakim yang lebih tajam pandangannya daripada kanvas kosong. Dari atas tembok pertahanan kastil yang telah ditinggalkan lebih dari seratus tahun, aku memandang hamparan luas padang berumput menguning. Air dari sungai kecil yang meliuk-liuk membelah padang rumput memantulkan sinar mentari sore sehingga yang tampak mengalir di sana bukanlah air, melainkan bongkahan emas yang telah dilelehkan.

Di bawah tatapan tajam kanvas itu aku merenung, kuas di tanganku belum sanggup memenuhi keinginannya untuk diberikan kehidupan. Di sela lamunanku sembari mengawasi air mengalir tenang, di bawah pohon tak bernama, seorang pengembara berhenti di tepi sungai, kuda hitam legamnya menundukkan kepala untuk minum dari sungai.

Aku terhenyak, lamunanku terputus. Di bawah pohon, di samping sungai kecil yang dikelilingi padang berumput menguning, berdiri seorang pengembara berjubah lusuh dengan pedang di pinggang dan kudanya yang tinggi. Jika kuas di tanganku memiliki jiwanya sendiri pastilah ia sudah melompat dan melukiskan apa yang dilihatnya.

Belum pulih dari tamparan singkat ini, aku mendengar bunyi seruling. Dari arah berlawanan datang seorang petani di atas gerobak yang ditarik kerbau. Putri si petani duduk di belakang dengan kaki berayun riang, seriang caranya memainkan seruling seakan ia berada di tengah ramainya festival musim panas.

Di atas jembatan kayu mereka berpapasan. Si petani mengangguk pada si pengembara sementara putrinya bermain dengan lebih bersemangat; cara unik putri si petani dalam menyapa. Si petani tidak melihatnya, tetapi si pengembara tersenyum pada tingkah si gadis pemain seruling.

Setelah merogoh saku, ia melemparkan sekeping koin perak pada putri si petani. Gadis itu menangkapnya. Namun sebelum ia bisa menyampaikan ucapan terima kasih, si pengembara dengan pedang di pinggang meletakkan jari telunjuk di bibir.

Begitulah adegan tersebut berakhir, dengan si petani yang tak tahu-menahu, si gadis pemain seruling menyembunyikan sekeping koin perak bagaikan harta karun dan si pengembara menunggangi kembali kudanya. Jarak di antara mereka semakin menjauh seiring langkah yang diambil.

Aku? Pada minggu berikutnya, lukisanku yang kuberi nama Gadis Seruling, Koin Perak dan Penunggang Kuda dipajang di atas perapian rumah seorang tuan tanah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Setitik Cahaya Yang Meredup
sandra firnawati
Skrip Film
Tuhan Yesus Sembuhkan Luka Batinku (Skrip)
Asti Pravitasari
Skrip Film
Penyulam Harapan
Yayuk Yuke Neza
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Novel
Mimpi - Gadis Berkerudung Merah Muda
Imron Mochammad Alghufara
Novel
Radio, Someone Still Love You
Jonem
Novel
Ketika Kami Kehilangan Dua Bintang
Alfania D. Vika
Komik
Bronze
Simpang Laras
Abidary
Skrip Film
PEBINOR (Skenario Film)
Sugiadi Azhar
Flash
Katja
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Bronze
Nyaris
Muhamad Irfan
Komik
BR[OK]EN
i nengah doni adhitama
Skrip Film
MORE THAN ME
Masella Dwi Lestari
Skrip Film
DROP OUT
Oke Atikkana
Flash
Cinta Yang Lain
Oliphiana Cubbytaa
Rekomendasi
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Flash
Merpati di Pinggir Laut
Wina Sari Ardini
Flash
A Thousand Gods, a Thousand Prayers
Wina Sari Ardini
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Flash
Di Balik Tembok Kuil Berlapis Emas
Wina Sari Ardini
Flash
Darah Perak
Wina Sari Ardini
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Cerpen
Seroja Bulan
Wina Sari Ardini
Cerpen
Sang Bunda dan Anak Haramnya
Wina Sari Ardini
Flash
Hutan Gantung
Wina Sari Ardini
Cerpen
Ayanushin
Wina Sari Ardini
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini