Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
0
Suka
32
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Tak ada hakim yang lebih tajam pandangannya daripada kanvas kosong. Dari atas tembok pertahanan kastil yang telah ditinggalkan lebih dari seratus tahun, aku memandang hamparan luas padang berumput menguning. Air dari sungai kecil yang meliuk-liuk membelah padang rumput memantulkan sinar mentari sore sehingga yang tampak mengalir di sana bukanlah air, melainkan bongkahan emas yang telah dilelehkan.

Di bawah tatapan tajam kanvas itu aku merenung, kuas di tanganku belum sanggup memenuhi keinginannya untuk diberikan kehidupan. Di sela lamunanku sembari mengawasi air mengalir tenang, di bawah pohon tak bernama, seorang pengembara berhenti di tepi sungai, kuda hitam legamnya menundukkan kepala untuk minum dari sungai.

Aku terhenyak, lamunanku terputus. Di bawah pohon, di samping sungai kecil yang dikelilingi padang berumput menguning, berdiri seorang pengembara berjubah lusuh dengan pedang di pinggang dan kudanya yang tinggi. Jika kuas di tanganku memiliki jiwanya sendiri pastilah ia sudah melompat dan melukiskan apa yang dilihatnya.

Belum pulih dari tamparan singkat ini, aku mendengar bunyi seruling. Dari arah berlawanan datang seorang petani di atas gerobak yang ditarik kerbau. Putri si petani duduk di belakang dengan kaki berayun riang, seriang caranya memainkan seruling seakan ia berada di tengah ramainya festival musim panas.

Di atas jembatan kayu mereka berpapasan. Si petani mengangguk pada si pengembara sementara putrinya bermain dengan lebih bersemangat; cara unik putri si petani dalam menyapa. Si petani tidak melihatnya, tetapi si pengembara tersenyum pada tingkah si gadis pemain seruling.

Setelah merogoh saku, ia melemparkan sekeping koin perak pada putri si petani. Gadis itu menangkapnya. Namun sebelum ia bisa menyampaikan ucapan terima kasih, si pengembara dengan pedang di pinggang meletakkan jari telunjuk di bibir.

Begitulah adegan tersebut berakhir, dengan si petani yang tak tahu-menahu, si gadis pemain seruling menyembunyikan sekeping koin perak bagaikan harta karun dan si pengembara menunggangi kembali kudanya. Jarak di antara mereka semakin menjauh seiring langkah yang diambil.

Aku? Pada minggu berikutnya, lukisanku yang kuberi nama Gadis Seruling, Koin Perak dan Penunggang Kuda dipajang di atas perapian rumah seorang tuan tanah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Komik
OUTCAST SCHOOL
jssy.ms
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Novel
Bronze
HEY MONSTER
Fitroh Wiji Astuti
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Novel
Bronze
KEDUA KALI
Novya
Flash
Bronze
Harapan
ani__sie
Flash
Sang Penghibur Kerajaan
Jaydee
Skrip Film
About Dream
Arie Nur Wahyu Putra
Skrip Film
Ibu Angkat VS Ibu Injak
Vitri Dwi Mantik
Flash
Perkara Bintang yang Tak Kunjung Ditemukan
kanun
Novel
Bronze
4 : 4
mahes.varaa
Novel
Semesta Kita
Elivia Nor
Novel
Teman Lamaku
Yaraa
Cerpen
Setia
Rere Valencia
Rekomendasi
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini
Flash
Merpati di Pinggir Laut
Wina Sari Ardini
Flash
Hutan Gantung
Wina Sari Ardini
Flash
Di Balik Tembok Kuil Berlapis Emas
Wina Sari Ardini
Flash
A Thousand Gods, a Thousand Prayers
Wina Sari Ardini
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini