Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tak ada hakim yang lebih tajam pandangannya daripada kanvas kosong. Dari atas tembok pertahanan kastil yang telah ditinggalkan lebih dari seratus tahun, aku memandang hamparan luas padang berumput menguning. Air dari sungai kecil yang meliuk-liuk membelah padang rumput memantulkan sinar mentari sore sehingga yang tampak mengalir di sana bukanlah air, melainkan bongkahan emas yang telah dilelehkan.
Di bawah tatapan tajam kanvas itu aku merenung, kuas di tanganku belum sanggup memenuhi keinginannya untuk diberikan kehidupan. Di sela lamunanku sembari mengawasi air mengalir tenang, di bawah pohon tak bernama, seorang pengembara berhenti di tepi sungai, kuda hitam legamnya menundukkan kepala untuk minum dari sungai.
Aku terhenyak, lamunanku terputus. Di bawah pohon, di samping sungai kecil yang dikelilingi padang berumput menguning, berdiri seorang pengembara berjubah lusuh dengan pedang di pinggang dan kudanya yang tinggi. Jika kuas di tanganku memiliki jiwanya sendiri pastilah ia sudah melompat dan melukiskan apa yang dilihatnya.
Belum pulih dari tamparan singkat ini, aku mendengar bunyi seruling. Dari arah berlawanan datang seorang petani di atas gerobak yang ditarik kerbau. Putri si petani duduk di belakang dengan kaki berayun riang, seriang caranya memainkan seruling seakan ia berada di tengah ramainya festival musim panas.
Di atas jembatan kayu mereka berpapasan. Si petani mengangguk pada si pengembara sementara putrinya bermain dengan lebih bersemangat; cara unik putri si petani dalam menyapa. Si petani tidak melihatnya, tetapi si pengembara tersenyum pada tingkah si gadis pemain seruling.
Setelah merogoh saku, ia melemparkan sekeping koin perak pada putri si petani. Gadis itu menangkapnya. Namun sebelum ia bisa menyampaikan ucapan terima kasih, si pengembara dengan pedang di pinggang meletakkan jari telunjuk di bibir.
Begitulah adegan tersebut berakhir, dengan si petani yang tak tahu-menahu, si gadis pemain seruling menyembunyikan sekeping koin perak bagaikan harta karun dan si pengembara menunggangi kembali kudanya. Jarak di antara mereka semakin menjauh seiring langkah yang diambil.
Aku? Pada minggu berikutnya, lukisanku yang kuberi nama Gadis Seruling, Koin Perak dan Penunggang Kuda dipajang di atas perapian rumah seorang tuan tanah.