Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hai... kaca kristalku!
Bagaimana?
Retakan di sana mengeluarkan darah, peluh dan air mata ya ?
Tak apa,
Ia tetap jadi yang kucinta.
Walau sejuta orang mengucapkan sumpah serapahnya,
Cantiknya akan tetap ku cari walau aku mesti mengais tanah dan reruntuhan.
Kaca kristalku, katakanlah padanya,
Tak pernah aku takut pada retakmu
Sebab aku juga penuh rapuh.
Suara nyaring pecahan kaca jiwaku sudah terdengar seperti melodi nocture, musik klasik kesukaanku.
Lantas apalagi yang akan memekakkan telingaku?
Pula tak akan aku takut pada gelapmu.
Karena aku juga hidup dalam bejana gulita itu.
Mataku telah jernih disapu jutaan air yang jatuh.
Akan ku pastikan selalu menggenggam namamu.
Maka nanti, pun jika orang orang yang berlagak mencintai padahal menghinamu itu, dengan bodohnya memilih meruntuhkanmu,
Tenang saja.
Tanah dan air ini akan aku bawa melangit menuju jubah ilahi.
Aku tahu jalan dan tempat bersembunyi paling ajaib,
Walau nyawa dan raga masih terpatri.
Yang indah tak akan pernah hilang,
Gejolak hanya menampar siapapun yang dangkal dan payah.
Sedang yang indah dijaga penuh dari kehancuran.
Hingga terlahir kembali pada masa tenang.
Sungguh tenanglah tenang,
Aku tahu cara merayu Tuhan yang mencintai keindahan.
Percayalah kau akan baik baik saja,
Tapi mereka mereka yang kacau itu tak akan ku izinkan mengetahui bahwa nyawamu mulai memekarkan arum sukma.
Jadi jika mereka memang hanya bisa banyak menggerutu seolah buta, ya biarkan saja. Aku memang ingin mereka buta dan terus diselimuti keluh kesahnya, terjerat sepanjang usia hanya melihat kehancuran kehancuran.
Jadi itu adalah ikatan siksaan untuk mereka, jangan terkecoh dan masuk dalam tariannya.
Maka kini untuk segala yang aku cinta.
Kan ku jaga kamu dengan sisa nyawa kecilku yang tersisa.
Semoga Tuhan menerima penyerahan diri gadis kecil yang hanya memilikiNya seorang sebagai pemangku kaki dan juga tangan.
Maka semua yang tak tumbuh dalam kesucian,
Tak akan pernah boleh mendengar suci namamu terbentang.
Maka siapapun yang tak mengharumkan jiwanya, tak boleh mencium aroma mekarmu semerbak.
Serta Mulia darah dan tulangku,
Kedua belah kepak sayapmu aman dalam nuraniku.
Indonesia, 9 Agustus 2025
Dipublikasikan ulang 17 Agustus 2026.