Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lima orang meninggal dunia dan sepuluh lainnya dirawat akibat kecelakaan saat hendak berangkat umroh di mana semua merupakan orang-orang Kampung Selang yang usianya mayoritas lansia. Bus terguling di jalan bebas hambatan (tol) akibat pengemudi bus mengantuk lalu hilang keseimbangan yang berujung kecelakaan. Seluruh penduduk kampung merasakan duka sangat mendalam kecuali lima pemuda pengangguran yang baginya seperti dapat rejeki nomplok. Bagusnya pihak travel umroh mau membantu bertanggung jawab dengan memberikan uang kompensasi sekaligus ucapan permohonan maaf.
Jajang, Tono, Salim, Sarif dan Tuwan mengadakan rapat dadakan di bale reot (gazebo kayu) belakang mushola tempat mereka membuang-buang masa mudanya setiap hari selepas waktu magrib. Tono, orang yang paling tua di antara mereka berempat membeberkan ide cemerlang yaitu memburu besek.
Besek itu sendiri merupakan wadah yang terbuat dari anyaman bambu yang biasa digunakan untuk menaruh makanan saat ada acara seperti hajatan, tahlilan dikala ada salah satu anggota keluarganya baru meninggal dunia, haul serta acara maulid nabi. Oleh sebab itu para warga di sana menyebut buah tangannya dengan sebutan besek meski semakin lama bahan dan bentuk wadah besek bervariasi, salah satunya berbahan karton karena anyaman bambu yang mulai sulit di dapatkan.
Kembali ke ide Tono yang sangat di terima sahabat-sahabatnya. Ia juga yang mengatur strategi dimana Salim hadir di tahlilan keluarga korban RT 05, Jajang di keluarga korban RT 02, Tuwan di RT 01, Sarif di RT 14 dan Tono sendiri di RT 07. Mereka harus bertukar-tukar lokasi selama tujuh hari berturut-turut. Mereka juga sontak mendadak berubah menjadi pemuda-pemuda soleh dengan pakaian koko dan sarung serta peci dimasing-masing kepala setiap bubaran salat isya selesai.
Mereka kembali berkumpul di basecamp dengan masing-masing membawa besek yang berisi macam-macam makanan. Ada yang berisikan nasi dengan lauk daging sapi, nasi kebuli ayam, nasi bebek serta cemilan yang tak kalah banyak dalam bentuk kue, aneka kripik serta kacang-kacangan. Semua nasi beserta lauk-pauknya dibeberkan jadi satu kesatuan agar semua bisa menikmati satu sama lain layaknya tradisi liwetan, cuma kurang daun pisang saja yang harusnya menjadi wadah makanan.
Malam kedua, aksi kembali dilanjutkan dan mereka saling bertukar lokasi tahlilan. Hasilnya yang mereka buru kali ini tidak sebanyak malam pertama dimana hanya Jajang dan Tono membawa nasi dan lauk sedangkan Sarif, Tuwan hanya membawa kue dan beberapa potong semangka tapi berbeda dengan Salim yang datang hanya sekantong lima air mineral gelas dan sebuah sajadah putih.
Hati dan perasaan mereka tidak bisa ditutupi dengan rasa bersyukur yang harus diterimanya. Ada kekecewaan dan ketidakikhlaskan terutama Salim karena pendapatan yang tidak sesuai ekspektasi. Namun Tono meski jarang salat seperti yang lainnya tapi masih punya rasa kesetiakawanan dan kasihan. Ia mengalah untuk tidak terlibat dalam mencicipi makanan yang dibawanya—digantikan dengan sepotong buah semangka dan segelas air mineral kemasan. Dia juga berharap pada malam berikutnya semoga Tuhan memberikan makanan yang jauh melimpah untuk sahabat-sahabatnya yang sudah saling dekat sejak sekolah menengah pertama.
Doa Tono pada malam sebelumnya terwujud di malam ketiga tahlil melalui Salim yang paling banyak mendapatkan besek sampai dua bungkus di tempat dulu Tono hadir pada malam pertama tahlil. Tono mengakui bahwa keluarga korban di RT 07 adalah keluarga orang kaya dan dermawan. Jajang pun demikian. Salim bahkan membagi satu besek lebih ke Tono sebagai ucapan terima kasih atas kebaikannya kemarin malam.
Di sela-sela makan, Tuwan memberitahu sahabat-sahabatnya perihal turnamen pertandingan futsal antar kampung di lapangan dekat kecamatan, tiga hari lagi dengan hadiah utama sebesar sepuluh juta. Semangat mereka semakin memuncak dan meminta Tuwan mendaftarkan mereka segera. Jajang menjelaskan ini kesempatan bagi mereka untuk menjadi pemuda yang berguna buat kampung Selang. Mereka juga risih ketika beberapa orang mengolok-olok karena tidak punya pekerjaan dan menyebutnya pemuda suram.
Di malam keempat giliran Tuwan yang mendapatkan rezeki nomplok. Selain besek yang dibawa, dia membawa sembako yang dia persembahan untuk kedua orangtuanya di rumah. Tono dan yang lainnya tidak tersinggung. Malah menganjurkan sebab yang paling penting adalah makanan juga cemilannya saja. Hal yang sama juga dialami Sarif pada malam kelima.
Pada tahlil malam ke enam, Tono dan kawan-kawan harus libur karena persiapan tanding futsal untuk esok pagi. Hampir seharian mereka terus latihan fisik demi bisa memenangkan pertandingan pertama sekaligus keluar sebagai juara dalam turnamen tahunan tersebut. Esok harinya mereka sudah siap dengan pakaian olahraga dengan warna senada tak lupa pakaian ganti serta sepatu futsal di dalam tas ransel masing-masing. Mereka naik angkot untuk mencapai ke lokasi lomba.
Motivasi yang saling terlontar membakar semangat mereka di dalam perjalanan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Namun sayangnya, Tuhan bertindak lain. Angkot yang mengangkut mereka mengalami rem blong dan tersungkur ke dalam sungai yang airnya sangat dalam dan deras. Mereka berlima berusaha keluar dari angkot yang perlahan tenggelam. Tubuh mereka masing-masing terombang-ambing di seret arus terjal dan hantaman batu kali berukuran besar. Warga yang melihat kejadian berusaha membantu menyelamatkan mereka yang hanyut selama puluhan meter.
Salim berhasil di selamatkan oleh warga dalam kondisi luka ringan sedangkan Jajang, Tono dan Tuwan tewas akibat benturan keras di kepala dan tenggelam. Hanya tersisa Sarif yang masih belum diketemukan jasadnya sampai menjelang malam. Esok pagi yang seharusnya mereka masih bersama berubah menjadi duka. Salim trauma berat tentunya melihat sahabat-sahabatnya sudah masuk ke liang lahat duluan dan memikirkan keadaan Sarif yang masih hilang. Luka di pelipis kiri dan kaki kanannya jadikan bukti akan tragedi yang tak dia sangk serta air mata terus membasahi pipi kusamnya.
Dua hari kemudian Sarif akhirnya ditemukan tim SAR dalam kondisi sudah tidak bernyawa dan bengkak membiru di sekujur tubuh. Tangis Salim semakin menjadi-jadi bahkan sempat pingsan beberapa kali karena belum bisa menerima garis takdir yang sudah Tuhan tentukan.
Malam tahlil pertama Salim yaitu di kediaman Tono di susul malam kedua di rumah Jajang lalu rumah Sarif di malam ketiga dan terakhir di kediaman Tuwan. Bukan besek lagi yang Salim buru tapi doa dan ampunan yang tulus dia sampaikan kepada Tuhan untuk sahabat-sahabatnya. Peristiwa itu juga yang mengetuk pintu hati Salim. Dia rajin ke mushola dari menjelang subuh sampai waktu isya selesai ditemani sajadah putih yang dulu pernah ia dapatkan dengan perasaan sesal.
END