Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Seorang gadis kecil sedang menyusuri belantara kabut. Sembari dia temui segala yang tergeletak di sana. Harapannya, cita citanya, bara api dalam sorot matanya, serta semuanya.
Ia kumpulkan satu persatu, perlahan penuh penghayatan. Sembari mulai ia mengukir sebuah pengakuan.
"Ku kira selama ini aku membuangmu,"
"Ternyata aku membuang suara kecil yang tertaut pada nyawaku. "
"Sayat luka dan percikan darah kecewa mengaburkan pandangan."
"Tapi, percayalah kini aku memutuskan pulang.
....
Langkahnya kian tertatih namun ia tetap melangkah menengok seluruh reruntuhan dan segala yang tergeletak di tanah.
" Kini ...,"
"Aku sudah hampir penuh menjelma sembuh,"
"Sebab aku tahu lukaku tak layak jadi baju besarmu."
Gadis kecil ini menunduk memegang ulu jantung.
"Pun ternyata aku tak pernah bisa mencabut cinta."
"Selama ini, Aku hanya membenci jiwaku yang gagal,"
"Untuk menjaga kesucian apa yang aku cinta. "
Kini ia mulai menatap ke depan, melangkahkan kaki kecilnya dengan penuh kerelaan.
"Maka kini aku datang."
"Memaafkan diri dewasaku yang lemah."
"Memeluk diri kecilku beserta suara dan harapan harapannya."
"Mengutuh menjadi satu."
"Berjalan dalam satu tuju, bersama."
Langkahnya mulai mantap, ia kini terlihat menggenggam tanah dan juga air yang ia temui sepanjang perjalanan, yang terikat bersama dengan tubuh kecilnya. Berkatalah ia ....
"Maka kini aku peluk juga kamu."
"Tak apa berdarah darah."
*Aku yang kecil pun penuh luka dan anyir darah."
"Menghadapi peperangan hitam putih di dalam jiwa."
"Apalagi kamu yang besar membentang."
Matanya mulai buram, tersandung air yang juga ingin memeluk kelahiran sebuah tekad muda.
Sembari bergetar ia melanjutkan rintih suaranya.
"Maka ...."
"Dengan ini aku terima seluruhnya."
"Lukamu, tangismu, jeritmu dan kakimu yang pincang."
"Maka dengan ini aku terima sepenuhnya."
"Sesakmu, dukamu, jeritmu dan seluruh gelap yang kamu punya."
Kini sorot matanya mulai tajam, ia titahkan seluruh lelembut belantara keluar dari persembunyiannya.
"Maka keluarlah semua yang kelam."
"Mengapunglah pada permukaan."
"Lalu meleburlah di udara."
Suara tegasnya kini berubah menjadi pilu dan sendu. Ia berkata...,
"Tumpah darahku ingin aku sucikan."
Gadis ini pun melanjutkan langkah kecilnya.
"Maka nanti,"
Sembari memeluk tanah dan air yang melekat pada tubuhnya, ia mengucapkan sebuah kesanggupan.
"Tidurlah dalam rengkuh tangan kecilku ini."
"Walau tak luas dan masih terasa mungil."
"Tapi aku berjanji ...,"
"Engkau tak kan aku sakiti. "
"Tumbuhlah dalam rengkuh tangan kecilku ini."
"Walau tak hebat dalam memberi."
"Percayalah ...,"
"Langkah manis pahitmu akan aku dampingi."
"Berdirilah lagi dalam papah tangan kecilku ini."
"Walau sekujur tubuhmu tertimbun jutaan sampah busuk,"
"Dan lolongan keputusasaan manusia payah,"
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri."
Gadis kecil ini menahan getar tubuhnya, semakin ia dekap penuh hangat tanah dan air yang melekat dalam tubuh kecilnya. Sembari kembali mengucapkan sebuah kesanggupan.
"Teguhlah dalam sunyi, Aku selalu di sini."
"Walau gelap pekat menghantui."
"Doaku akan tenang menguasai."
Suaranya mulai bergetar, langkahnya hampir kehilangan daya namun ia kembali mengucapkan kesanggupannya.
"Walau lenteraku kecil."
"Kan ku pastikan tetap abadi."
Gadis kecil itu terdiam, ia dekap erat segala tubuhnya sembari menjaga lentera kecilnya supaya tidak meredup, pun tanah dan juga air di dalam genggaman jantungnya tidak meluap jatuh.
Kini lidahnya telah pilu, ia tak lagi bisa mengucapkan kesanggupannya lagi. Namun jantungnya meneruskan sebuah larik.
"Dirgahayu yang berdenyut di dalam nadi"
...
Terus berdenyut sembari mengucap ...,
"Dirgahayu, "
"Yang berdenyut,"
"Di dalam nadi."
"Dirgahayu..., "
"Yang berdenyut...,"
"Di dalam..., "
"Nadi."
...
Dinda Kusuma ati
Indonesia, 1 Agustus 2025
...
Dipublikasi : Indonesia , 17 Agustus 2025
Pukul 01.01
Menjadi prosa : Senin, 17 Agustus 2026.