Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Pengakuan
0
Suka
649
Dibaca

Seorang gadis kecil sedang menyusuri belantara kabut. Sembari dia temui segala yang tergeletak di sana. Harapannya, cita citanya, bara api dalam sorot matanya, serta semuanya.

Ia kumpulkan satu persatu, perlahan penuh penghayatan. Sembari mulai ia mengukir sebuah pengakuan.

"Ku kira selama ini aku membuangmu."

"Ternyata aku membuang suara kecil yang tertaut pada nyawaku."

"Sayat luka dan percikan darah kecewa mengaburkan pandangan."

"Tapi, percayalah kini aku memutuskan pulang."

....

Langkahnya kian tertatih namun ia tetap melangkah menengok seluruh reruntuhan dan segala yang tergeletak di tanah.

"Kini ...,"

"Aku sudah hampir penuh menjelma sembuh,"

"Sebab aku tahu lukaku tak layak jadi baju besarmu."

Gadis kecil ini menunduk memegang ulu jantung.

"Pun ternyata aku tak pernah bisa mencabut cinta."

"Selama ini, Aku hanya membenci jiwaku yang gagal,"

"Untuk menjaga kesucian apa yang aku cinta. "

Ia mulai menatap ke depan, melangkahkan kaki kecilnya dengan penuh kerelaan.

"Maka kini aku datang."

"Memaafkan diri dewasaku yang lemah."

"Memeluk diri kecilku beserta suara dan harapan harapannya."

"Mengutuh menjadi satu."

"Berjalan dalam satu tuju, bersama."

Langkahnya mulai mantap, pada kala ini ia terlihat menggenggam tanah dan juga air yang ia temui sepanjang perjalanan, yang terikat bersama dengan tubuh kecilnya.

Berkatalah ia ....

"Maka kini aku peluk juga kamu."

"Tak apa berdarah darah."

"Aku yang kecil pun penuh luka dan anyir darah."

"Menghadapi peperangan hitam putih di dalam jiwa."

"Apalagi kamu yang besar membentang."

Matanya mulai buram, tersandung air yang juga ingin memeluk kelahiran sebuah tekad muda.

Sembari bergetar ia melanjutkan rintih suaranya.

"Maka ...."

"Dengan ini aku terima seluruhnya."

"Lukamu, tangismu, jeritmu dan kakimu yang pincang."

"Maka dengan ini aku terima sepenuhnya."

"Sesakmu, dukamu, jeritmu dan seluruh gelap yang kamu punya."

Kini sorot matanya mulai tajam, ia titahkan seluruh lelembut belantara keluar dari persembunyiannya.

"Maka keluarlah semua yang kelam."

"Mengapunglah pada permukaan."

"Lalu meleburlah di udara."

Suara tegasnya kini berubah menjadi pilu dan sendu. Ia berkata...,

"Tumpah darahku ingin aku sucikan."

Gadis ini pun melanjutkan langkah kecilnya.

"Maka nanti,"

Sembari memeluk tanah dan air yang melekat pada tubuhnya, ia mengucapkan sebuah kesanggupan.

"Tidurlah dalam rengkuh tangan kecilku ini."

"Walau tak luas dan masih terasa mungil."

"Tapi aku berjanji ...,"

"Engkau tak kan aku sakiti. "

"Tumbuhlah dalam rengkuh tangan kecilku ini."

"Walau tak hebat dalam memberi."

"Percayalah ...,"

"Langkah manis pahitmu akan aku dampingi."

"Berdirilah lagi dalam papah tangan kecilku ini."

"Walau sekujur tubuhmu tertimbun jutaan sampah busuk,"

"Dan lolongan keputusasaan manusia payah,"

"Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri."

Gadis kecil ini menahan getar tubuhnya, semakin ia dekap penuh hangat tanah dan air yang melekat dalam tubuh kecilnya. Sembari kembali mengucapkan sebuah kesanggupan.

"Teguhlah dalam sunyi, aku selalu di sini."

"Walau gelap pekat menghantui."

"Doaku akan tenang menguasai."

Suaranya mulai bergetar, langkahnya hampir kehilangan daya namun ia kembali mengucapkan kesanggupannya.

"Walau lenteraku kecil."

"Kan ku pastikan tetap abadi."

Gadis kecil itu terdiam, ia dekap erat segala tubuhnya sembari menjaga lentera kecilnya supaya tidak meredup, pun tanah dan juga air di dalam genggaman jantungnya tidak meluap jatuh.

Kini lidahnya telah pilu, ia tak lagi bisa mengucapkan kesanggupannya lagi. Namun jantungnya meneruskan sebuah larik.

"Dirgahayu yang berdenyut di dalam nadi"

...

Terus berdenyut sembari mengucap ...,

"Dirgahayu, "

"Yang berdenyut,"

"Di dalam nadi."

"Dirgahayu..., "

"Yang berdenyut...,"

"Di dalam..., "

"Nadi."

...

Dinda Kusuma ati

Indonesia, 1 Agustus 2025

...

Dipublikasi : Indonesia , 17 Agustus 2025

Pukul 01.01

Menjadi prosa : Senin, 17 Agustus 2026.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Pengakuan
Dinda Kusuma Ati
Flash
Bunga tidur
Seli Suliastuti
Novel
Lari, Sepak, Ulangi!
Ganik
Novel
TITIK BUTA
Shireishou
Cerpen
Bronze
Kuroda Keadilan
Iman Ali Janovit
Cerpen
Bronze
Kami Yang di Setir
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Cakra Sang Nirmala
Adam Nazar Yasin
Novel
Collateral Romance
Azerhays
Flash
Reverse # 1 : 1998
Yesno S
Novel
KESEMPATAN KEDUA SEORANG OBITO
Safinatun naja
Flash
Bronze
Setelah Lindu
Afri Meldam
Novel
Bronze
Kiwi Berlumuran Cokelat Beku
Gia Oro
Cerpen
Bronze
Lelaki Paruh Baya Bercelana Karung Goni
Rayasa Kherta
Flash
Azazil
Fahmi Irwan Utomo
Flash
Sleding Neraka
Sugiadi Azhar
Rekomendasi
Flash
Pengakuan
Dinda Kusuma Ati
Flash
Dunia yang terikat pada jantungku
Dinda Kusuma Ati
Flash
Surga Kerdus
Dinda Kusuma Ati
Cerpen
Duka
Dinda Kusuma Ati
Flash
Awam
Dinda Kusuma Ati
Novel
From now to 1414 years ago
Dinda Kusuma Ati
Novel
Dancing in the Silence
Dinda Kusuma Ati
Flash
Kuda Delman
Dinda Kusuma Ati
Flash
Sakit
Dinda Kusuma Ati
Flash
Jika Aku
Dinda Kusuma Ati
Flash
Pulang
Dinda Kusuma Ati
Flash
Gelandangan Muda
Dinda Kusuma Ati
Flash
Blasfemi
Dinda Kusuma Ati
Flash
Sajak Angin
Dinda Kusuma Ati
Flash
Pedang Cahaya
Dinda Kusuma Ati