Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Seorang pucuk sari bunga sedang menghadap Tuhan.
"Tuhanku yang penyayang, aku telah merawat dan menjaga tumbuh para tunas yang menemuiku disepanjang perjalanan."
"Tuhan ijinkanlah, tanganku ini juga memapah tunas tunas yang ku-lahirkan."
"Tuhanku yang pengasih, aku telah menimba banyak bekal tentang warna warni kasih, lantas kemanakah muara kasihku ini akan pergi?"
"Tuhan, aku jatuh bangun menyiapkan bekal. Aku tidak mau yang ku tuju hanyalah kematian."
"Tuhan, apakah kemurnian dan kesucian yang juga aku genggam erat ini hanya untuk menyambut kematian?"
"Tuhan, apakah keberanianku dalam berdoa hanya mengantarku kepada kematian ?"
....
Kini setelah ia menghadap Tuhannya, ia menghadap pada seluruh semesta raya untuk mengumandangkan pesan jerit batinnya.
Dititipkannya pesan pada bintang bintang.
"Maka, tolong."
"Pulang,"
"Pulanglah pulang,"
"Pada muaramu."
"Sayapku yang hilang lama."
Dititipkanlah pesan pada rembulan.
"Pulanglah pulang,"
"Detakku yang berkelana jauh dari jantungnya."
Dititipkanlah pada angin malam.
"Pulang,"
"Pulanglah pulang,"
"Pada sambutku yang telah tenang teriringi genggaman Tuhan yang memaksa reruntuhanku untuk tetap kokoh berdiri menantimu pulang."
Dititipkanlah pesan pada akar pepohonan.
"Pulang,"
"Pulanglah pulang,"
"Lalu antar aku pulang,"
"Kembali pada tubuhmu yang kokoh menenangkan."
Dititipkanlah pesan pada serbuk sari yang terbang mengembara hendak melahirkan tunas.
"Duhai sayapku yang hilang,"
"Pulanglah, dan bawa aku pulang."
"Ikat aku selamanya,"
"Dalam kesucian,"
"Dalam kelembutan,"
"Dalam restu Tuhan."
"Selamanya,"
"Dalam satu dunia dan satu alam tuh yang sama."
"Hingga kita menemui pintu cahaya,"
"Bersujud menyerahkan bunga kemenangan."
"Yang maknanya tak akan lekang dimakan zaman."
Kemudian ia menengadah ke langit, dititipkanlah pesan hatinya kepada bintang bintang.
"Duhai bintang, jadilah rambu rambu untuk menuntun belahan jiwaku pulang."
"Sampaikanlah padanya..."
"Dengarkanlah, lalu pulanglah."
"Duhai sayapku yang telah lama terpendar jauh dari genggaman."
"Dekap erat aku yang sama seperti dirimu, kedinginan menanti rumah untuk pulang."