Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Aporia
0
Suka
772
Dibaca

Aku melintas meraba ruang dan waktu

Terkulai kakiku,

Bertanya batinku,

"Semahal ini-kah sebenarnya kesadaran itu?"

"Bagaimana mungkin? "

"Sebuah seruan cahaya dianggap opera menakjubkan bukan sebagai peringatan untuk pulang."

"Tuhan ... bukankah seharusnya mereka benar benar bisa melihat dan membaca sebagaimana Engkau telah memberikan mata dan juga hati serta kepala ?"

Nocture no 20 in C-sharp minor op.posth, violin and piano, Frédéric François Chopin, adalah melodi menyakitkanku kali ini

Sembari masih duduk di tempat penuh sunyiku sendiri.

Badai taufan kini datang lagi, sembari menyapaku. 

"Bagaimana? Apa kataku? Benar kan? Sebaiknya mereka memang disapu bersih saja."

"Aku jalan sekarang, ya.."

Aku terdiam, tidak menyanggah dan membiarkan badai itu meluluh lantak, aku hanya berkata pada angin malam

"Angin sejuk, kemarilah peluklah aku"

Setelah angin sejuk memelukku lembut, kembali aku lihat sang badai taufan itu lagi. 

"Engkau, sang penuntut keputusan. "

"Larilah ke ujung lautan. "

"Jika sudah waktunya."

"Botol suratku akan menjamah kakimu juga."

"Akan tertulis jelas di sana."

"Jika sudah pada masanya lebur maka leburkanlah ... Aku juga tak akan mampu menghalau kehendak yang telah ditetapkan dalam kerangka utama penciptaan."

...

Kemudian aku menunduk lesu penuh kesedihan. 

Maafkan aku para kunang kunang malam. 

Jika memang tidak pantas masa ini menatap terang. 

Maka sembunyilah sampai gemuruh memberi pertanda bahwa semua telah meneguk pahit getir tegurannya.

Percayalah saat itu, suatu saat, 

Pasti akan datang, 

Pasti akan, ada gilirannya, 

Kita menari di bumi-Nya. 

Namun mohon ingatlah .... 

Jika suatu hari nanti sampai pada lonceng pembersihan langit menyeruak.

Meneduhlah pada gua ketenangan sembari merangkul para tunas yang lemah.

Dan biarkan para pohon liar yang pongah itu dibabat habis badai yang menggugat pertanggungjawaban.

Sungguh setiap hembusan nafas sudah dalam perhitungan semesta.

...

Aja ngira-ngira witing kale, nanging ngira-ngira witing kapitunan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Aporia
Dinda Kusuma Ati
Novel
Bronze
Rimba Jaya
E. Precious
Flash
The Last Quest
VW108
Cerpen
Bersama kita, Bisa menghadapi segalanya.
Hildafatwa Aulia
Flash
Ukulele Ayah
Aniqul Umam
Cerpen
Firefly: A Pair of Little Kids
Adinda Amalia
Flash
Kereta Terakhir Jalur Selatan
Penulis N
Flash
Bronze
Desa Naga Bumi
Silvarani
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 2
Daffa Amrullah
Flash
Wisanggeni
Wirdatun Nafi'ah
Flash
Pedang Cahaya
Dinda Kusuma Ati
Flash
Debat Kusir Delman
hafan.ahmad
Skrip Film
Godwin Agency (script)
FS Author
Flash
Alone
AliyatulMafrudzoh
Flash
Bronze
Mengantar Rana
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Aporia
Dinda Kusuma Ati
Flash
Pedang Cahaya
Dinda Kusuma Ati
Novel
Dancing in the Silence
Dinda Kusuma Ati
Flash
Pulang
Dinda Kusuma Ati
Flash
Blasfemi
Dinda Kusuma Ati
Flash
Dunia yang terikat pada jantungku
Dinda Kusuma Ati
Flash
Gadis Kecil dan Kaca Kristalnya
Dinda Kusuma Ati
Flash
Gelandangan Muda
Dinda Kusuma Ati
Flash
Jika Aku
Dinda Kusuma Ati
Flash
A Most Earnest Letter to Those Who Brought Me Forth
Dinda Kusuma Ati
Flash
Pengakuan
Dinda Kusuma Ati
Flash
Sakit
Dinda Kusuma Ati
Flash
Tralala Delulu
Dinda Kusuma Ati
Novel
Maya
Dinda Kusuma Ati
Flash
Surga Kerdus
Dinda Kusuma Ati