Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Seorang santri unggulan sedang menyiapkan naskah dialog untuk dibacakan pada momentum perayaan Hari Kelahiran Sang Nabi di pondoknya.
Sesampai di tengah paragraf dimana jemarinya melukis aksara itu, tangannya mulai melemas, pena di tangannya pun terlepas.
Sembari menatap nanar melayang di udara, santri itupun merapalkan sebuah tanya dalam jantungnya seolah memanggil Sang Tercinta yang menatapnya dari surga.
"Jika aku nanti bertemu denganmu"
"Akankah layak untuk aku mengangkat kepalaku?"
"Kepalaku yang masih tidak bisa merangkai peta untuk membuat taman bunga sempurna untuk wahyu penyempurna yang kau bawa itu."
Dalam larik jeritan batin ini air matanya menetes dari kedua pelupuknya, pandangannya mulai kabur berembun air yang menggenang penuh.
"Jika nanti aku bertemu denganmu
Akankah layak tanganku berjabat dengan tanganmu ?"
"Tanganku yang masih sulit untuk melukis kesempurnaan iman pada ajaran yang kau bawa dengan parau, sakit, sesak dan keindahan nuranimu?"
Embun yang telah penuh menggenang itu pun kini jatuh membasahi rancangan pidato yang ia susun.
"Jika nanti aku bertemu denganmu
Akankah mataku layak menatapmu wahai sang cahaya teduh?"
"Mataku yang masih saja belum sempurna dalam melihat segala teka teki dalam setiap garis yang terbentuk dalam lembaran yang kau bawa itu."
Kini santri yang diagung agungkan semua orang ini tertunduk malu, kedua tangannya bergemetar.
"Jika nanti aku bertemu denganmu...."
"Apakah tubuhku yang rapuh karena luka kecil ini layak berhadapan dengan tubuh teguhmu."
Gigi giginya mulai bergemeretak, kedua pipinya telah basah.
"Jika nanti aku bertemu denganmu...."
"Apakah mulutku yang masih saja belum sempurna mencontoh lembut tuturmu ini pantas berkata bahwa aku mencintaimu?"
"Jika nanti aku bertemu denganmu...."
"Jika nanti aku bertemu denganmu...."
"Jika nanti aku bertemu denganmu.... "
Tangisnya pecah ia meringkuk tak lagi mampu menahan pilu.
Sebuah kalimat yang selama ini ia sembunyikan dalam dalam pun menyeruak menatapnya menuntut dilihat.
"Wahai yang tercinta.... "
Apakah aku layak berkata bahwa aku adalah umatmu?
Senin, 25 Agustus 2025 / 1 Rabiul Awal 1447 H
Menjadi prosa 16 Agustus 2026 / 3 Rabiul Awal 1448 H