Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lokasi: Peladangan Buloh Jawa, Desa Jiwa Baru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Waktu: Sekitar tahun 1960. Tokoh: Wak Yaman, Ayah Ibrahim, Ibu Nafisyah. Bahasa Lokal: Buloh (bambu).
---***---
Tahun 1960, Peladangan Buloh Jawa hanyalah sebuah pondok kayu yang dikepung rumpun bambu raksasa. Wak Yaman, seorang perantau ulet, telah tiga hari terbaring lemah di sana. Demam tinggi membuat tubuhnya membara, sementara kesadarannya perlahan melayang di antara nyata dan mimpi.
Di tengah keheningan hutan yang mencekam, pintu pondok terbuka tanpa suara. Empat sosok tinggi berkulit kebiruan dengan mata merah menyala melangkah masuk. Aura dingin seketika menyelimuti ruangan, membuat Wak Yaman sesak napas.
"Kami penduduk asli tanah ini. Kami adalah Bangsa Angsalon," desis salah satu sosok itu melalui transmisi pikiran. Suaranya dingin, tak memiliki emosi. Mereka mengelilingi balai-balai, mengamati Wak Yaman layaknya peneliti yang menemukan objek asing. "Demammu adalah peringatan karena kalian menebang hutan kami tanpa permisi," lanjut suara itu.
Saat Ayah Ibrahim dan Ibu Nafisyah akhirnya tiba di pondok untuk menjenguk, mereka mendapati suasana yang aneh. Hawa dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Begitu mereka mendobrak pintu, keempat sosok Angsalon itu menoleh serentak. Namun, secepat kedatangannya, mereka lenyap seperti kabut yang tertiup angin, menyisakan Wak Yaman yang pingsan karena syok.
Beberapa hari kemudian, saat Wak Yaman sudah pulih, ia menceritakan pertemuan itu dengan gemetar. Ayah Ibrahim menatapnya heran. "Wak, kau yakin itu mereka?"
Wak Yaman mengangguk mantap. Namun, saat ia menunjuk ke arah sudut pondok tempat para makhluk itu berdiri, Ayah Ibrahim justru tertegun. Di lantai kayu yang semestinya kosong, terdapat jejak kaki yang terbakar hitam berbentuk telapak tangan manusia—bukan sosok tinggi kebiruan seperti yang diceritakan Wak Yaman.
Ternyata, para makhluk itu tidak pernah mengambil bentuk fisik. Mereka hanya meminjam trauma dan ketakutan Wak Yaman untuk menunjukkan satu hal: bahwa di tanah itu, pikiran manusialah yang justru paling mudah disesatkan oleh rasa bersalahnya sendiri.
---***---
Berakhir sudah kunjungan misterius Wak Yaman dari Bangsa Angsalon.
Terima kasih banyak, para pembaca setia, karena telah menemani perjalanan mistis ini sampai akhir. Jangan beranjak dulu! Masih banyak kisah seram dan misteri lain yang menunggu untuk Anda baca. Tetap aktif ikuti update terbaru kami, ya! Sampai bertemu di cerita berikutnya!