Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Tamu Tak Diundang dari Bangsa Angsalon
0
Suka
1,584
Dibaca

Lokasi: Peladangan Buloh Jawa, Desa Jiwa Baru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Waktu: Sekitar tahun 1960. Tokoh: Wak Yaman, Ayah Ibrahim, Ibu Nafisyah. Bahasa Lokal: Buloh (bambu).

---***---

Tahun 1960, Peladangan Buloh Jawa hanyalah sebuah pondok kayu yang dikepung rumpun bambu raksasa. Wak Yaman, seorang perantau ulet, telah tiga hari terbaring lemah di sana. Demam tinggi membuat tubuhnya membara, sementara kesadarannya perlahan melayang di antara nyata dan mimpi.

Di tengah keheningan hutan yang mencekam, pintu pondok terbuka tanpa suara. Empat sosok tinggi berkulit kebiruan dengan mata merah menyala melangkah masuk. Aura dingin seketika menyelimuti ruangan, membuat Wak Yaman sesak napas.

"Kami penduduk asli tanah ini. Kami adalah Bangsa Angsalon," desis salah satu sosok itu melalui transmisi pikiran. Suaranya dingin, tak memiliki emosi. Mereka mengelilingi balai-balai, mengamati Wak Yaman layaknya peneliti yang menemukan objek asing. "Demammu adalah peringatan karena kalian menebang hutan kami tanpa permisi," lanjut suara itu.

Saat Ayah Ibrahim dan Ibu Nafisyah akhirnya tiba di pondok untuk menjenguk, mereka mendapati suasana yang aneh. Hawa dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Begitu mereka mendobrak pintu, keempat sosok Angsalon itu menoleh serentak. Namun, secepat kedatangannya, mereka lenyap seperti kabut yang tertiup angin, menyisakan Wak Yaman yang pingsan karena syok.

Beberapa hari kemudian, saat Wak Yaman sudah pulih, ia menceritakan pertemuan itu dengan gemetar. Ayah Ibrahim menatapnya heran. "Wak, kau yakin itu mereka?"

Wak Yaman mengangguk mantap. Namun, saat ia menunjuk ke arah sudut pondok tempat para makhluk itu berdiri, Ayah Ibrahim justru tertegun. Di lantai kayu yang semestinya kosong, terdapat jejak kaki yang terbakar hitam berbentuk telapak tangan manusia—bukan sosok tinggi kebiruan seperti yang diceritakan Wak Yaman.

Ternyata, para makhluk itu tidak pernah mengambil bentuk fisik. Mereka hanya meminjam trauma dan ketakutan Wak Yaman untuk menunjukkan satu hal: bahwa di tanah itu, pikiran manusialah yang justru paling mudah disesatkan oleh rasa bersalahnya sendiri.

---***---

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Tamu Tak Diundang dari Bangsa Angsalon
Amrullah Ibrahim
Flash
Kutitipkan Gergaji Ini
Zi Chaniago
Flash
LOSER
Rama Sudeta A
Cerpen
Bronze
Mati Kemaren
Salim
Novel
Gold
Fantasteen Scary Hot Seat
Mizan Publishing
Novel
Malam Takziah
Marion Drossi
Novel
Bronze
My Doll
SalsaShafa
Cerpen
(teaser) Dark Omen: The Crimson Roots
Noctis Reverie
Skrip Film
KUTUKAN
Bramanditya
Flash
Hades
AkunKosong
Flash
Bronze
Susuk Penghancur Jiwa
Risti Windri Pabendan
Novel
Tales From the Beyond
Adri Adityo Wisnu
Flash
Bronze
Lampu Minyak di Kuburan
Risti Windri Pabendan
Novel
TAKKUT
zainab najmia
Flash
Lorong Tanpa Akhir
Penulis N
Rekomendasi
Flash
Tamu Tak Diundang dari Bangsa Angsalon
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
AROMA KOPI DI LERENG CINTA
Amrullah Ibrahim
Novel
SERI 2 - PEDANG TERATAI HITAM
Amrullah Ibrahim
Novel
Lentera Teratai Tujuh Misteri
Amrullah Ibrahim
Novel
6 PEMBUKA MASALAH
Amrullah Ibrahim
Novel
Cerita LUCU
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Deru Bara di Dada Gita
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Segitiga Hati di Simpang Takdir
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Sang Kembang Desa
Amrullah Ibrahim
Novel
SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH
Amrullah Ibrahim
Novel
Milikku Seorang
Amrullah Ibrahim
Novel
Celap Celup
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Titik Nadir dan Gunung Cinta
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Nafas di Balik Kabut
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Keabadian di Balik Kaca Silikon
Amrullah Ibrahim