Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Tamu Tak Diundang dari Bangsa Angsalon
0
Suka
669
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Lokasi: Peladangan Buloh Jawa, Desa Jiwa Baru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Waktu: Sekitar tahun 1960. Tokoh: Wak Yaman, Ayah Ibrahim, Ibu Nafisyah. Bahasa Lokal: Buloh (bambu).

---***---

Tahun 1960, Peladangan Buloh Jawa hanyalah sebuah pondok kayu yang dikepung rumpun bambu raksasa. Wak Yaman, seorang perantau ulet, telah tiga hari terbaring lemah di sana. Demam tinggi membuat tubuhnya membara, sementara kesadarannya perlahan melayang di antara nyata dan mimpi.

Di tengah keheningan hutan yang mencekam, pintu pondok terbuka tanpa suara. Empat sosok tinggi berkulit kebiruan dengan mata merah menyala melangkah masuk. Aura dingin seketika menyelimuti ruangan, membuat Wak Yaman sesak napas.

"Kami penduduk asli tanah ini. Kami adalah Bangsa Angsalon," desis salah satu sosok itu melalui transmisi pikiran. Suaranya dingin, tak memiliki emosi. Mereka mengelilingi balai-balai, mengamati Wak Yaman layaknya peneliti yang menemukan objek asing. "Demammu adalah peringatan karena kalian menebang hutan kami tanpa permisi," lanjut suara itu.

Saat Ayah Ibrahim dan Ibu Nafisyah akhirnya tiba di pondok untuk menjenguk, mereka mendapati suasana yang aneh. Hawa dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Begitu mereka mendobrak pintu, keempat sosok Angsalon itu menoleh serentak. Namun, secepat kedatangannya, mereka lenyap seperti kabut yang tertiup angin, menyisakan Wak Yaman yang pingsan karena syok.

Beberapa hari kemudian, saat Wak Yaman sudah pulih, ia menceritakan pertemuan itu dengan gemetar. Ayah Ibrahim menatapnya heran. "Wak, kau yakin itu mereka?"

Wak Yaman mengangguk mantap. Namun, saat ia menunjuk ke arah sudut pondok tempat para makhluk itu berdiri, Ayah Ibrahim justru tertegun. Di lantai kayu yang semestinya kosong, terdapat jejak kaki yang terbakar hitam berbentuk telapak tangan manusia—bukan sosok tinggi kebiruan seperti yang diceritakan Wak Yaman.

Ternyata, para makhluk itu tidak pernah mengambil bentuk fisik. Mereka hanya meminjam trauma dan ketakutan Wak Yaman untuk menunjukkan satu hal: bahwa di tanah itu, pikiran manusialah yang justru paling mudah disesatkan oleh rasa bersalahnya sendiri.

---***---

Berakhir sudah kunjungan misterius Wak Yaman dari Bangsa Angsalon.

Terima kasih banyak, para pembaca setia, karena telah menemani perjalanan mistis ini sampai akhir. Jangan beranjak dulu! Masih banyak kisah seram dan misteri lain yang menunggu untuk Anda baca. Tetap aktif ikuti update terbaru kami, ya! Sampai bertemu di cerita berikutnya!

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Tamu Tak Diundang dari Bangsa Angsalon
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Dosa Kalian, kuampuni
Novita Ledo
Flash
Datang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
PEMBURU TOGEL POHON RANDU
Sang Alifas Yang Merumput
Cerpen
16
liszzah
Novel
Bronze
Tangisan Tengah Malam
Franciarie
Cerpen
Bronze
Tukang Pos Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Flash
Di Kamar Hotel
Rudi Rustiadi
Novel
Bronze
Perjamuan Terakhir Boneka Porselen
Aprilia Budi Paramita
Cerpen
Bronze
Rahma
Rere Valencia
Novel
Elijah, 1988
kaia sen
Cerpen
Bronze
Radio Tua
Christian Shonda Benyamin
Komik
NOCTURNAL
Alien Witchcraft
Flash
Bronze
Hampir Disetubuhi Dalam Mimpi
Nila Kresna
Novel
Gold
Kagome-Kagome
Noura Publishing
Rekomendasi
Flash
Tamu Tak Diundang dari Bangsa Angsalon
Amrullah Ibrahim
Novel
Senandung Rindu yang Mencair
Amrullah Ibrahim
Novel
Mahligai Suci Karena Ilahi
Amrullah Ibrahim
Novel
Denyut Nadi di Rumah Kita
Amrullah Ibrahim
Novel
Menggapai Ridho-Nya Melalui Ta'aruf
Amrullah Ibrahim
Novel
Milikku Seorang
Amrullah Ibrahim
Novel
Pesantren dan Pelangi Hati
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Goresan Takdir di Jalur Besi
Amrullah Ibrahim
Flash
Sentuhan di Mushola Teluk Betung
Amrullah Ibrahim
Novel
Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit
Amrullah Ibrahim
Novel
Bayang-Bayang Danau Toba
Amrullah Ibrahim
Novel
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Rindu di Bukit Rendingan
Amrullah Ibrahim
Novel
Ketika Cinta
Amrullah Ibrahim
Novel
Titik Temu
Amrullah Ibrahim