Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Suara di Balik Daun Talas
0
Suka
665
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Lokasi: Desa Jiwa Baru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Waktu: Sekitar tahun 1958. Tokoh: Mang Idris (seorang penyadap karet), istrinya (Bibik Halimah). Bahasa Lokal: Talang (pondok di kebun), Nanggo (pergi/pergi bekerja).

---***---

Desa Jiwa Baru tidak pernah benar-benar tidur. Di balik sunyinya malam, hutan karet yang mengelilingi desa menyimpan ribuan rahasia. Mang Idris, seorang penyadap karet yang dikenal tangguh, adalah orang yang paling hafal setiap jengkal hutan itu. Bagi Mang Idris, hutan adalah napas, namun malam itu, hutan seolah menjadi labirin yang menyesatkan.

Sudah lewat pukul sembilan malam, Mang Idris belum juga pulang ke talang. Bibik Halimah, istrinya, sudah mondar-mandir di depan pintu rumah. "Biasanya kalau nanggo menyadap, sore sudah pulang," gumamnya cemas. Ia memutuskan menyalakan pelita, berharap suaminya segera muncul dari balik kegelapan.

---***---

Di tengah hutan, Mang Idris sedang terpaku. Ia baru saja menyelesaikan sisa sadapan terakhir. Namun, saat hendak mengemas peralatannya, telinganya menangkap suara yang sangat aneh. Suara itu berasal dari balik rimbunnya daun talas besar yang tumbuh di dekat pohon karet tua.

Srak... srak...

Suaranya bukan seperti langkah kaki binatang. Itu suara gesekan kain yang diseret di atas tanah basah. Mang Idris memicingkan mata. "Siapa di sana?" teriaknya. Tidak ada jawaban. Hanya hening yang mencekam, disusul suara gumaman halus yang terdengar seperti orang sedang melantunkan lagu pengantar tidur, namun nadanya ganjil dan melengking.

Mang Idris mendekat, memberanikan diri. Begitu ia mengibaskan daun talas yang menghalangi pandangannya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Tidak ada orang. Tapi, di tanah yang becek itu, terdapat jejak kaki kecil—terlalu kecil untuk ukuran orang dewasa—yang baru saja tercipta, seolah ada seseorang yang baru saja berlari masuk ke dalam kegelapan hutan.

---***---

Mang Idris segera memikul alat sadapnya dan mempercepat langkah. Namun, anehnya, setiap kali ia melangkah, suara gumaman itu justru terdengar semakin dekat, tepat di belakang tengkuknya. Hawa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya, membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

Ia mencoba berlari, tapi kakinya terasa berat, seolah tersangkut oleh akar-akar karet yang menjalar di tanah. Ia mendengar suara tawa tertahan yang sangat dekat, tepat di telinga kanannya. "Jangan menoleh," bisik sebuah suara halus yang dingin.

Mang Idris memejamkan mata, memaksakan diri membaca doa-doa yang diajarkan ibunya dulu. Ia tidak peduli seberapa berat langkahnya, ia terus menerjang kegelapan hingga lampu pelita rumahnya terlihat di kejauhan.

---***---

Begitu sampai di halaman talang, Mang Idris jatuh tersungkur. Bibik Halimah yang melihat suaminya bergegas membukakan pintu. Mang Idris terlihat pucat pasi dengan pakaian yang penuh tanah.

"Ada apa, Mang? Mengapa pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya Bibik Halimah dengan nada panik.

Mang Idris hanya bisa menunjuk ke arah belakangnya dengan tangan gemetar. Di sana, di atas pikulan alat sadapnya, terdapat sehelai daun talas yang masih segar dan basah, padahal di sepanjang jalan tadi tidak ada pohon talas yang mereka lalui.

"Ada yang mengikutiku, Bik," bisik Mang Idris. "Dia tidak ingin aku meninggalkan hutan itu."

Bibik Halimah menatap daun talas itu dengan ngeri. Ia segera mengambil air dari sumur, membacakan doa, dan mencipratkannya ke seluruh sisi rumah. Mereka sadar, hutan karet Jiwa Baru bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga rumah bagi "sesuatu" yang tidak suka diganggu saat malam mulai pekat. Sejak malam itu, Mang Idris tidak pernah lagi menyadap karet sendirian jika matahari sudah hampir tenggelam.

---***---

Akhir sudah kisah Mang Idris dan misteri di balik daun talas.

Terima kasih karena telah menyimak kisah misteri ini sampai akhir. Apakah Anda merasa merinding? Jangan biarkan rasa takut menghentikan Anda untuk membaca kisah-kisah penuh misteri lainnya. Tetaplah terhubung untuk pembaruan cerita berikutnya. Sampai jumpa di lain kesempatan!

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Suara di Balik Daun Talas
Amrullah Ibrahim
Flash
DINARA Tak Ada Lagi Jalan Pulang
Hans Wysiwyg
Komik
Wasiat Mengerikan
Cutiepie18
Komik
Bronze
Hu-man: The Perfect Child
morningmoonmoon.id
Flash
Bronze
Topeng di Lumbung Padi
Risti Windri Pabendan
Flash
Giliran
Dark Specialist
Cerpen
Bronze
Luca Matthijs van der Zee
Allamanda Cathartica
Cerpen
Rumah Nenek
Scorpio19
Cerpen
Bronze
Murid Ghaib
ASEP SAEPULOH
Novel
NANDANA
Shinbul
Flash
BELL
Tiansetian
Novel
Bronze
Luk Thep ~Novel~
Herman Siem
Novel
Bronze
Undercover(terbit)
Vaearen
Skrip Film
ADIKODRATI - Kembali untuk Menghantui
@mahartania__
Novel
SEMBRONO
Datu Mas Satriaji Daniswara
Rekomendasi
Flash
Suara di Balik Daun Talas
Amrullah Ibrahim
Novel
Pesantren dan Pelangi Hati
Amrullah Ibrahim
Komik
Jingga di Langit Senja
Amrullah Ibrahim
Novel
Menakar Waktu dalam Ridha-Nya
Amrullah Ibrahim
Novel
Bayang-Bayang Danau Toba
Amrullah Ibrahim
Novel
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Novel
Jarak di Ujung Nozzle
Amrullah Ibrahim
Novel
Menggapai Ridho-Nya Melalui Ta'aruf
Amrullah Ibrahim
Flash
Tanduk Misterius di Bawah Rumah Wak Dijah
Amrullah Ibrahim
Novel
Ketika Cinta
Amrullah Ibrahim
Novel
Celap Celup
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Novel
Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit
Amrullah Ibrahim
Novel
Pulang ke Pelukan Desa
Amrullah Ibrahim
Flash
Celana Melorot Misterius di Rumah Sakit Tua Palembang
Amrullah Ibrahim