Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Suara di Balik Daun Talas
0
Suka
29
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Lokasi: Desa Jiwa Baru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Waktu: Sekitar tahun 1958. Tokoh: Mang Idris (seorang penyadap karet), istrinya (Bibik Halimah). Bahasa Lokal: Talang (pondok di kebun), Nanggo (pergi/pergi bekerja).

---***---

Desa Jiwa Baru tidak pernah benar-benar tidur. Di balik sunyinya malam, hutan karet yang mengelilingi desa menyimpan ribuan rahasia. Mang Idris, seorang penyadap karet yang dikenal tangguh, adalah orang yang paling hafal setiap jengkal hutan itu. Bagi Mang Idris, hutan adalah napas, namun malam itu, hutan seolah menjadi labirin yang menyesatkan.

Sudah lewat pukul sembilan malam, Mang Idris belum juga pulang ke talang. Bibik Halimah, istrinya, sudah mondar-mandir di depan pintu rumah. "Biasanya kalau nanggo menyadap, sore sudah pulang," gumamnya cemas. Ia memutuskan menyalakan pelita, berharap suaminya segera muncul dari balik kegelapan.

---***---

Di tengah hutan, Mang Idris sedang terpaku. Ia baru saja menyelesaikan sisa sadapan terakhir. Namun, saat hendak mengemas peralatannya, telinganya menangkap suara yang sangat aneh. Suara itu berasal dari balik rimbunnya daun talas besar yang tumbuh di dekat pohon karet tua.

Srak... srak...

Suaranya bukan seperti langkah kaki binatang. Itu suara gesekan kain yang diseret di atas tanah basah. Mang Idris memicingkan mata. "Siapa di sana?" teriaknya. Tidak ada jawaban. Hanya hening yang mencekam, disusul suara gumaman halus yang terdengar seperti orang sedang melantunkan lagu pengantar tidur, namun nadanya ganjil dan melengking.

Mang Idris mendekat, memberanikan diri. Begitu ia mengibaskan daun talas yang menghalangi pandangannya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Tidak ada orang. Tapi, di tanah yang becek itu, terdapat jejak kaki kecil—terlalu kecil untuk ukuran orang dewasa—yang baru saja tercipta, seolah ada seseorang yang baru saja berlari masuk ke dalam kegelapan hutan.

---***---

Mang Idris segera memikul alat sadapnya dan mempercepat langkah. Namun, anehnya, setiap kali ia melangkah, suara gumaman itu justru terdengar semakin dekat, tepat di belakang tengkuknya. Hawa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya, membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

Ia mencoba berlari, tapi kakinya terasa berat, seolah tersangkut oleh akar-akar karet yang menjalar di tanah. Ia mendengar suara tawa tertahan yang sangat dekat, tepat di telinga kanannya. "Jangan menoleh," bisik sebuah suara halus yang dingin.

Mang Idris memejamkan mata, memaksakan diri membaca doa-doa yang diajarkan ibunya dulu. Ia tidak peduli seberapa berat langkahnya, ia terus menerjang kegelapan hingga lampu pelita rumahnya terlihat di kejauhan.

---***---

Begitu sampai di halaman talang, Mang Idris jatuh tersungkur. Bibik Halimah yang melihat suaminya bergegas membukakan pintu. Mang Idris terlihat pucat pasi dengan pakaian yang penuh tanah.

"Ada apa, Mang? Mengapa pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya Bibik Halimah dengan nada panik.

Mang Idris hanya bisa menunjuk ke arah belakangnya dengan tangan gemetar. Di sana, di atas pikulan alat sadapnya, terdapat sehelai daun talas yang masih segar dan basah, padahal di sepanjang jalan tadi tidak ada pohon talas yang mereka lalui.

"Ada yang mengikutiku, Bik," bisik Mang Idris. "Dia tidak ingin aku meninggalkan hutan itu."

Bibik Halimah menatap daun talas itu dengan ngeri. Ia segera mengambil air dari sumur, membacakan doa, dan mencipratkannya ke seluruh sisi rumah. Mereka sadar, hutan karet Jiwa Baru bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga rumah bagi "sesuatu" yang tidak suka diganggu saat malam mulai pekat. Sejak malam itu, Mang Idris tidak pernah lagi menyadap karet sendirian jika matahari sudah hampir tenggelam.

---***---

Akhir sudah kisah Mang Idris dan misteri di balik daun talas.

Terima kasih karena telah menyimak kisah misteri ini sampai akhir. Apakah Anda merasa merinding? Jangan biarkan rasa takut menghentikan Anda untuk membaca kisah-kisah penuh misteri lainnya. Tetaplah terhubung untuk pembaruan cerita berikutnya. Sampai jumpa di lain kesempatan!

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Suara di Balik Daun Talas
Amrullah Ibrahim
Novel
Gold
Fantasteen Hunted
Mizan Publishing
Flash
Arsip Lantai Enam
Penulis N
Novel
Gold
Fantasteen Injurious
Mizan Publishing
Skrip Film
Rayuan Maut Pulau Kelabu Script
Arlita Dela
Cerpen
Bronze
Pembalasan Untuk Ibu ( part 1 )
Nabilla Shafira
Flash
Bronze
Makhluk Bertaring di Bibir Sumur
Abdi Husairi Nasution
Novel
Bronze
Panggilan Hitam Pesantren Kelam
Arslan Cealach
Flash
Lembur
Lovaerina
Cerpen
Mereka Ingin Aku Percaya
Riana Dewi
Cerpen
Rutinitas
Fatimah Ar-Rahma
Skrip Film
Hotel Angker
Kelana Kaheswara
Novel
Gold
Fantasteen: Lost and Found
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Arwah Basah
Herman Siem
Novel
Bronze
MALDEVIR
Okhie vellino erianto
Rekomendasi
Flash
Suara di Balik Daun Talas
Amrullah Ibrahim
Novel
Keringat, Lelah, dan Tekad Membara
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Novel
SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN
Amrullah Ibrahim
Novel
Ketika Cinta
Amrullah Ibrahim
Novel
Menembus Tembok Adaptasi
Amrullah Ibrahim
Novel
Pulang ke Pelukan Rumah
Amrullah Ibrahim
Novel
Jarak di Ujung Nozzle
Amrullah Ibrahim
Novel
Akar di Sela Karang,
Amrullah Ibrahim
Novel
Menggapai Ridho-Nya Melalui Ta'aruf
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Deru Bara di Dada Gita
Amrullah Ibrahim
Novel
KEMELUT TERATAI KEMBAR
Amrullah Ibrahim
Flash
Raksasa Penunggu Beringin di Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim
Flash
Tanduk Misterius di Bawah Rumah Wak Dijah
Amrullah Ibrahim
Flash
Kayu Mati yang Mengintai di Sungai Sekampung
Amrullah Ibrahim