Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lokasi: Desa Jiwa Baru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Waktu: Sekitar tahun 1958. Tokoh: Mang Idris (seorang penyadap karet), istrinya (Bibik Halimah). Bahasa Lokal: Talang (pondok di kebun), Nanggo (pergi/pergi bekerja).
---***---
Desa Jiwa Baru tidak pernah benar-benar tidur. Di balik sunyinya malam, hutan karet yang mengelilingi desa menyimpan ribuan rahasia. Mang Idris, seorang penyadap karet yang dikenal tangguh, adalah orang yang paling hafal setiap jengkal hutan itu. Bagi Mang Idris, hutan adalah napas, namun malam itu, hutan seolah menjadi labirin yang menyesatkan.
Sudah lewat pukul sembilan malam, Mang Idris belum juga pulang ke talang. Bibik Halimah, istrinya, sudah mondar-mandir di depan pintu rumah. "Biasanya kalau nanggo menyadap, sore sudah pulang," gumamnya cemas. Ia memutuskan menyalakan pelita, berharap suaminya segera muncul dari balik kegelapan.
---***---
Di tengah hutan, Mang Idris sedang terpaku. Ia baru saja menyelesaikan sisa sadapan terakhir. Namun, saat hendak mengemas peralatannya, telinganya menangkap suara yang sangat aneh. Suara itu berasal dari balik rimbunnya daun talas besar yang tumbuh di dekat pohon karet tua.
Srak... srak...
Suaranya bukan seperti langkah kaki binatang. Itu suara gesekan kain yang diseret di atas tanah basah. Mang Idris memicingkan mata. "Siapa di sana?" teriaknya. Tidak ada jawaban. Hanya hening yang mencekam, disusul suara gumaman halus yang terdengar seperti orang sedang melantunkan lagu pengantar tidur, namun nadanya ganjil dan melengking.
Mang Idris mendekat, memberanikan diri. Begitu ia mengibaskan daun talas yang menghalangi pandangannya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Tidak ada orang. Tapi, di tanah yang becek itu, terdapat jejak kaki kecil—terlalu kecil untuk ukuran orang dewasa—yang baru saja tercipta, seolah ada seseorang yang baru saja berlari masuk ke dalam kegelapan hutan.
---***---
Mang Idris segera memikul alat sadapnya dan mempercepat langkah. Namun, anehnya, setiap kali ia melangkah, suara gumaman itu justru terdengar semakin dekat, tepat di belakang tengkuknya. Hawa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya, membuat bulu kuduknya berdiri tegak.
Ia mencoba berlari, tapi kakinya terasa berat, seolah tersangkut oleh akar-akar karet yang menjalar di tanah. Ia mendengar suara tawa tertahan yang sangat dekat, tepat di telinga kanannya. "Jangan menoleh," bisik sebuah suara halus yang dingin.
Mang Idris memejamkan mata, memaksakan diri membaca doa-doa yang diajarkan ibunya dulu. Ia tidak peduli seberapa berat langkahnya, ia terus menerjang kegelapan hingga lampu pelita rumahnya terlihat di kejauhan.
---***---
Begitu sampai di halaman talang, Mang Idris jatuh tersungkur. Bibik Halimah yang melihat suaminya bergegas membukakan pintu. Mang Idris terlihat pucat pasi dengan pakaian yang penuh tanah.
"Ada apa, Mang? Mengapa pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya Bibik Halimah dengan nada panik.
Mang Idris hanya bisa menunjuk ke arah belakangnya dengan tangan gemetar. Di sana, di atas pikulan alat sadapnya, terdapat sehelai daun talas yang masih segar dan basah, padahal di sepanjang jalan tadi tidak ada pohon talas yang mereka lalui.
"Ada yang mengikutiku, Bik," bisik Mang Idris. "Dia tidak ingin aku meninggalkan hutan itu."
Bibik Halimah menatap daun talas itu dengan ngeri. Ia segera mengambil air dari sumur, membacakan doa, dan mencipratkannya ke seluruh sisi rumah. Mereka sadar, hutan karet Jiwa Baru bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga rumah bagi "sesuatu" yang tidak suka diganggu saat malam mulai pekat. Sejak malam itu, Mang Idris tidak pernah lagi menyadap karet sendirian jika matahari sudah hampir tenggelam.
---***---
Akhir sudah kisah Mang Idris dan misteri di balik daun talas.
Terima kasih karena telah menyimak kisah misteri ini sampai akhir. Apakah Anda merasa merinding? Jangan biarkan rasa takut menghentikan Anda untuk membaca kisah-kisah penuh misteri lainnya. Tetaplah terhubung untuk pembaruan cerita berikutnya. Sampai jumpa di lain kesempatan!