Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
KELANA LABIRIN LENTERA
0
Suka
70
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

KELANA LABIRIN LENTERA

Ketika berada pada jarak ratusan cahaya, kita tak sengaja mencerna jalanan yang berisikan dua gua. Pada setiap gua ada pendar cahaya yang tak biasa. Warna merah menyala memercikkan bara yang tak membakar serupa api. Namun, warna biru yan mengalir justru memberikan cambukan serupa cubitan kecil-kecil.

Kita tak bisa memilih salah satu bergantian. Jika aku memasuki gua bercahaya merah, kau harus memilih warna biru yang terkesan menenangkan. Tidak, aku tak akan membiarkanmu merasakan cubitan berkepanjangan. Sejak merasakan cubitan itu, aku dengan sigap mengambil jaket hitamku, membalurinya dengan minyak angin, dan membiarkan setiap serbuan cambukan kecil berkelana di sekitarku.

Kuharap, dalam kejauhan cahaya, kau memilih warna merah dengan berani, sebab hanya rupanya saja yang menakutkan. Sejatinya, dalam setiap langkahmu akan ada penerangan. Seperti yang pernah kau bilang padaku tempo hari, “Aku bersyukur pada kehadiranmu yang menjadi jalan untuk menyelesaikan segala lara yang mungkin tak akan semuanya usai.” Dan, akan selalu kujawab, “Aku hanyalah bagian kecil dari pijakan yang Tuhan titipkan untukmu.”

Sekarang, kita perlu berjalan dengan segala tatapan ketidaktahuan dan biarkan keyakinan tumbuh perlahan. Seekor elang tua pernah mematuj-matukkan paruhnya pada bebatuan gunung hanya untuk kembali mempertajamnya sebelum ia kembali berburu di daratan untuk dapat terbang lebih lama di angkasa. Kurasa, itulah yang kita lakukan sekarang. Kita tak lagi benar-benar muda, namun tak juga terlalu tua. Hanya saja, kaki kita harus melangkah lebih dari 8000 kali sehari. Kepala kita harus melihat lingkaran angkasa yang mengambang tanpa keraguan, meski kadang-kadang serbuan pertanyaan harus hinggap lebih dari seratus kali sehari.

Kulangkahkan kakiku pada cahaya biru yang memperlihatkan jalan kaca berkelok-kelok. Tembok-tembok karang berdiri kokoh di sekitarnya. Aku tak sanggup melihat sisa jalan kaca di hadapanku. Jika aku sanggup bertanya, esok aku akan menanyaimu, jalan berwarna merah seperti apa yang disisakan oleh cahayamu. Ketika langkahku mencapai ratusan, aku bahkan sudah tidak bisa melihat jalan di belakangku. Tapi… sisa-sisa cubitan yang awalnya hanya mencambuk bagian luar jaketku, kini bergeser menjadi sayatan kecil di telapak kakiku.

Waktu seperti tak pernah cukup untuk membuat angin utara bergerak ke selatan dan berbelok ke barat. Jalanan yang berkelok-kelok ini memperlihatkan kilasmu sesekali. Perkamen-perkamen itu hidup dan menyala di batu-batu karang yang menjadi tiang penyangga jalan kaca. Kau yang berdiri sepagiku, memproses dunia bersamaku. Kita sesjajar, sesuatu yang pernah dan selalu kuimpikan. Kau seperti ruh burung elang yang bertahun lalu pernah hidup di awan-awan. Aku mengikuti perkamen langkah itu, dengan air mata yang mulai mengalir lagi di pipiku. “Kelana, sepertinya jalan dua cahaya ini akan mempertemukan kita pada dua cerita untuk sebuah kisah yang panjang. Kita tak tahu ujungnya. Mungkin, selamanya.”

Dari bebatuan karang itu, tiang-tiang besi mengubah pantulan cahaya biru menjadi lebih kelabu. Aku masih terus berjalan, menjadikan ratusan langkah serupa ribuan, hingga aku tak sanggup menghitungnya lagi. Dalam sisa-sisa bayangan yang ingin kugapai, aku masih melihatmu, meski kini sesak menjahit sebagian dadaku atas ketidakberdayaan yang sejatinya semu. Dalam sejalan napas yang tertinggal di dadaku, aku melihat sebuah cahaya keputihan yang menyulam sebuah wujud tanpa mulut dan berkata, “Cukupkanlah Aku untuk dirimu!”. Cahaya itu lenyap dan melepaskan pecahan-pecahan serupa kaca yang memberkaskan sinar dan melebur menjadi pintu tanpa warna. Aku membukanya. Pelan-pelan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Kita Dan Kuasa Atas Cinta
diannafi
Flash
Bronze
Kata orang, jangan berhenti di satu titik.
Lisnawati
Flash
KELANA LABIRIN LENTERA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Cerpen
Pertanda
myht
Novel
Bronze
Love Speedometer
Kyna Nixie
Novel
Hidden
Seduhankata
Novel
Hampir Kita
Dimas Hendra
Novel
Bronze
WEDDING SCHOOL
Okhie vellino erianto
Skrip Film
melancholic traces of ghost
Rahmat Gunawan
Novel
Bronze
MIHRAB CINTA
Natasya Drsye
Flash
UNGKAPAN RASA
Kimijuliaaa
Flash
Hati mu di layar
Lukitokarya
Flash
10 Menit Bersama
Elkanara K.
Novel
Bronze
Rizka & Rizky
Dheya Aida Zahra
Novel
Gold
The Break up Master
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Flash
KELANA LABIRIN LENTERA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
DUA CINCIN SEGALA SEMESTA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Di Kota-Kota Yang Sama ketika Lentera Menjadi Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera dan Kelana yang Menciptakan Badai
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
HoQ: PUZZLE PERJALANAN WALET
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Kelana: Menurutmu Kita Apa Lentera?
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Pada Sebuah Dunia Ketika Kelana Diterangi Lentera, Juga Sebaliknya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lambaian Lentera Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
KELANA LABIRIN LENTERA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
KELANA LABIRIN LENTERA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera yang Meredup Ketika Rintik Memanggilnya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)