Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
KELANA LABIRIN LENTERA
Ketika berada pada jarak ratusan cahaya, kita tak sengaja mencerna jalanan yang berisikan dua gua. Pada setiap gua ada pendar cahaya yang tak biasa. Warna merah menyala memercikkan bara yang tak membakar serupa api. Namun, warna biru yan mengalir justru memberikan cambukan serupa cubitan kecil-kecil.
Kita tak bisa memilih salah satu bergantian. Jika aku memasuki gua bercahaya merah, kau harus memilih warna biru yang terkesan menenangkan. Tidak, aku tak akan membiarkanmu merasakan cubitan berkepanjangan. Sejak merasakan cubitan itu, aku dengan sigap mengambil jaket hitamku, membalurinya dengan minyak angin, dan membiarkan setiap serbuan cambukan kecil berkelana di sekitarku.
Kuharap, dalam kejauhan cahaya, kau memilih warna merah dengan berani, sebab hanya rupanya saja yang menakutkan. Sejatinya, dalam setiap langkahmu akan ada penerangan. Seperti yang pernah kau bilang padaku tempo hari, “Aku bersyukur pada kehadiranmu yang menjadi jalan untuk menyelesaikan segala lara yang mungkin tak akan semuanya usai.” Dan, akan selalu kujawab, “Aku hanyalah bagian kecil dari pijakan yang Tuhan titipkan untukmu.”
Sekarang, kita perlu berjalan dengan segala tatapan ketidaktahuan dan biarkan keyakinan tumbuh perlahan. Seekor elang tua pernah mematuj-matukkan paruhnya pada bebatuan gunung hanya untuk kembali mempertajamnya sebelum ia kembali berburu di daratan untuk dapat terbang lebih lama di angkasa. Kurasa, itulah yang kita lakukan sekarang. Kita tak lagi benar-benar muda, namun tak juga terlalu tua. Hanya saja, kaki kita harus melangkah lebih dari 8000 kali sehari. Kepala kita harus melihat lingkaran angkasa yang mengambang tanpa keraguan, meski kadang-kadang serbuan pertanyaan harus hinggap lebih dari seratus kali sehari.
Kulangkahkan kakiku pada cahaya biru yang memperlihatkan jalan kaca berkelok-kelok. Tembok-tembok karang berdiri kokoh di sekitarnya. Aku tak sanggup melihat sisa jalan kaca di hadapanku. Jika aku sanggup bertanya, esok aku akan menanyaimu, jalan berwarna merah seperti apa yang disisakan oleh cahayamu. Ketika langkahku mencapai ratusan, aku bahkan sudah tidak bisa melihat jalan di belakangku. Tapi… sisa-sisa cubitan yang awalnya hanya mencambuk bagian luar jaketku, kini bergeser menjadi sayatan kecil di telapak kakiku.
Waktu seperti tak pernah cukup untuk membuat angin utara bergerak ke selatan dan berbelok ke barat. Jalanan yang berkelok-kelok ini memperlihatkan kilasmu sesekali. Perkamen-perkamen itu hidup dan menyala di batu-batu karang yang menjadi tiang penyangga jalan kaca. Kau yang berdiri sepagiku, memproses dunia bersamaku. Kita sesjajar, sesuatu yang pernah dan selalu kuimpikan. Kau seperti ruh burung elang yang bertahun lalu pernah hidup di awan-awan. Aku mengikuti perkamen langkah itu, dengan air mata yang mulai mengalir lagi di pipiku. “Kelana, sepertinya jalan dua cahaya ini akan mempertemukan kita pada dua cerita untuk sebuah kisah yang panjang. Kita tak tahu ujungnya. Mungkin, selamanya.”
Dari bebatuan karang itu, tiang-tiang besi mengubah pantulan cahaya biru menjadi lebih kelabu. Aku masih terus berjalan, menjadikan ratusan langkah serupa ribuan, hingga aku tak sanggup menghitungnya lagi. Dalam sisa-sisa bayangan yang ingin kugapai, aku masih melihatmu, meski kini sesak menjahit sebagian dadaku atas ketidakberdayaan yang sejatinya semu. Dalam sejalan napas yang tertinggal di dadaku, aku melihat sebuah cahaya keputihan yang menyulam sebuah wujud tanpa mulut dan berkata, “Cukupkanlah Aku untuk dirimu!”. Cahaya itu lenyap dan melepaskan pecahan-pecahan serupa kaca yang memberkaskan sinar dan melebur menjadi pintu tanpa warna. Aku membukanya. Pelan-pelan.