Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Tadi aku ketemu Cheryl di taman kompleks, Bu.” Aku duduk di meja makan sambil tersenyum lebar-lebar. “Dan dia makin cantik!”
Ibu yang baru saja mematikan kompor spontan menoleh ke belakang. Matanya terbelalak, alisnya terangkat tinggi. “Beneran?”
“Iya, Bu! Iris matanya masih sebiru permata safir. Rambutnya yang ikal, sekarang udah panjang sepunggung. Dia bahkan masih pandai nari balet. Dan dia rela nari di atas rumput, tanpa alas kaki, demi aku, Bu!”
Ibu terdiam sebentar, menatapku lurus-lurus. “Kyle…” panggil Ibu, terdengar menggantung. “Kalo memang kalian ketemu, kenapa nggak ajak dia mampir dulu? Ibu, ‘kan, juga kangen sama dia.”
Aku mengerucutkan bibir. “Dia yang nggak mau. Katanya cuma mampir sebentar buat istirahat. Habis itu masih lanjut perjalanan lagi. Kalo nggak salah, tadi dia bilang mau ke Chicago?”
“Aku juga udah bilang kalo aku kangen banget dan pengen ngobrol lebih lama lagi. Tapi dia bilang nggak bisa karena lagi ditunggu orang tuanya. Sebenernya aku sempet bingung kenapa mereka nggak ikut ke taman sama Cheryl. Tapi aku nggak sempet nanya soalnya dia keburu pergi…”
“Oh! Dia juga sempet nyanyi sedikit. Kayak biasanya, dia langsung nyanyi bagian refrain lagu All I Ask dan suaranya sumbang banget! Kukira setelah udah dewasa dia bakal lebih pinter nyanyi. Ternyata, nggak juga. Hahaha…”
Aku berhenti bercerita saat mendengar suara isakan Ibu. Cepat-cepat aku berdiri dari kursi dan menghampirinya. Di atas kompor, ada sauce pan berisi bakso daging dalam baluran bolognese, masih mengepulkan asap dan menguarkan aroma tomat yang kuat. Dan di samping kanan, ada pasta yang belum ditiriskan, masih terendam air rebusannya dalam panci.
Kukira Ibu menangis karena ada yang salah dengan masakannya. Tapi sepertinya bukan itu masalahnya. Aku mengusap air mata yang meleleh di pipinya.
“Ibu, kok, tiba-tiba nangis? Kenapa, Bu?”
“Kyle…” panggilnya dengan suara yang bergetar. “Maaf Ibu udah bohong sama kamu…”
“Bohong?” Aku mengambilkan tisu di dekat bak cuci piring, yang kemudian kuberikan sambil mengernyit. “Bohong apa?”
“Soal Cheryl…” Ibu menerima tisu dariku, lalu menutupkannya ke hidung dan mulutnya. “Dia sebenernya… udah meninggal…”
“Hah…? Jangan bercanda, deh, Bu.”
Ibu hanya menjawab dengan sebuah gelengan. Lalu, dari sela-sela tangisnya, Ibu menjelaskan, “Ibu… Ibu tahu dia meninggal… Kecelakaan… Tapi Ibu bohong… Bilang dia pindah ke Chicago…”
Sejenak, Ibu Kembali sesenggukan. “Ibu nggak mau, lihat kamu sedih… kalo tahu, gadis yang paling kamu sukai itu… udah nggak ada…”
Aku bergeming, mencoba mencerna setiap kata yang Ibu ucapkan. Lalu, kenyataan segera menghantam semua ingatanku. Seketika, dadaku terasa sesak sekali, seperti dilempar sebuah batu raksasa dari atas tebing.
Wajah Cheryl berkelebat cepat di dalam benakku—uraian rambut pirangnya, senyum dari bibir sewarna kelopak mawar, dan kulit sehalus puding susu saat meleleh di mulut.
Pandanganku mulai berputar, lalu memburam. Gravitasi cepat menarik tubuhku sebelum semuanya berubah gelap. Hal yang terakhir bisa kuingat adalah Ibu menangkap tubuhku sambil meneriakkan namaku.
“Kyle?! Kyle!!”