Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku tidak pernah punya tempat untuk mengatakan bahwa Arga adalah rumahku. Bukan karena aku tidak ingin mengatakannya. Justru sebaliknya. Ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan kepadanya, tetapi tidak pernah benar-benar bisa kusampaikan. Tentang hari-hari ketika kepalaku terlalu ramai. Tentang malam-malam ketika aku tidak ingin berbicara kepada siapa pun. Tentang perasaan-perasaan yang bahkan sulit kujelaskan kepada diriku sendiri.
Arga selalu mengerti tanpa banyak bertanya. Mungkin itu yang membuat semuanya bermula. Kami rekan kerja. Tidak ada yang istimewa pada pertemuan pertama kami. Aku yang mudah bergaul dan terlalu sering tertawa menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri Arga. Ia tidak banyak bicara, tetapi sekali berbicara, entah mengapa aku selalu ingin mendengarkan. Kami sering bercanda. Terlalu sering, mungkin.
Kadang Arga melontarkan candaan yang terdengar seperti gurauan tentang hubungan kami.
“Kalau kamu belum punya pasangan, sama aku saja.”
Aku biasanya tertawa.
“Mas, jangan cari masalah.”
“Siapa tahu kamu memang cocok sama saya.”
“Mas kan sudah punya keluarga.”
Arga hanya tertawa setelahnya.
Karena itu aku menganggap semuanya tidak serius. Sampai suatu hari ia mengajakku berbicara.
Berdua.
Tidak ada rekan kerja lain. Tidak ada suara-suara yang bisa mengalihkan pembicaraan. Hanya aku, Arga, dan asap rokok yang perlahan memenuhi udara. Arga menyesap rokoknya sebelum akhirnya menatapku.
“Jujur saja, Ra. Selama ini aku mengagumimu.”
Aku diam.
Untuk beberapa detik aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba semua candaan yang pernah ia lontarkan kepadaku seperti diputar ulang di dalam kepala.
“Mas serius?”
Arga mengangguk.
Aku menunduk.
Ada bagian dalam diriku yang ingin tertawa karena gugup. Ada bagian lain yang ingin segera pergi. Tetapi ada satu bagian yang lebih jujur daripada semuanya.
“Aku juga nyaman sama Mas.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Aku tidak tahu bahwa sebuah kalimat sederhana dapat menjadi pintu menuju begitu banyak penderitaan.
Arga adalah seorang suami. Ia juga seorang ayah.
Ada seseorang yang menunggunya pulang. Ada anak yang mungkin berlari menyambutnya di depan pintu. Ada rumah yang namanya tidak pernah bisa kusebut sebagai milikku.
Aku tahu semua itu. Aku tidak pernah berniat merusaknya. Aku hanya mengatakan bahwa aku nyaman.
Hanya itu.
Setidaknya, itulah yang berusaha kupercaya.
Mungkin aku merasa dekat dengannya karena kami memiliki sesuatu yang tidak banyak diketahui orang lain. Kami sama-sama pernah menjalani pengobatan di tempat yang sama. Ada hal-hal yang tidak perlu kami jelaskan satu sama lain.
Ketika orang lain bertanya mengapa aku terlihat murung, aku harus mencari jawaban.
Arga tidak.
Ia hanya bertanya, “Kamu sudah minum obat?”
Dan entah mengapa pertanyaan sederhana itu terasa seperti seseorang sedang mengetuk pintu rumah setelah perjalanan panjang. Barangkali itu yang kusebut nyaman. Barangkali juga itu yang membuatku terlambat menyadari bahwa aku sedang jatuh.
Setelah pengakuannya, Arga semakin terang-terangan mendekatiku. Ia masih bercanda seperti biasa, tetapi sekarang aku tahu bahwa di balik candaan itu ada sesuatu yang sungguh-sungguh. Orang-orang di kantor mulai memperhatikan.
“Kamu ada hubungan apa sama Arga, Ra?”
Aku tertawa kecil.
“Enggak ada.”
“Bercandaan dia nggak serius, kan?”
Aku kembali diam.
“Dia memang sering bercanda begitu.”
Kali ini aku tidak ikut tertawa.
Akhirnya aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa Arga pernah menyatakan perasaannya kepadaku. Setelah itu, semuanya berubah. Orang-orang meminta maaf karena sebelumnya ikut menjadikan hubungan kami bahan candaan.
Tetapi permintaan maaf itu tidak menghapus apa pun. Justru setelah kebenaran itu terbuka, aku mulai mendengar bisik-bisik yang sebelumnya tidak pernah ada.
Suami orang.
Perempuan ketiga.
Tidak tahu diri.
Mau dengan laki-laki beristri.
Lucu.
Hanya beberapa hari yang lalu aku adalah Nara yang suka tertawa bersama mereka. Sekarang aku seperti sebuah cerita yang mereka tahu akhirnya, tetapi tidak pernah tahu awalnya. Apa pun yang kulakukan menjadi salah.
Ketika aku berbicara dengan Arga, aku dianggap memberi kesempatan.
Ketika aku menghindar, aku dianggap bermain tarik-ulur.
Ketika aku menjawab pesannya, aku salah.
Ketika aku tidak menjawabnya, aku juga salah.
Aku mulai menjaga jarak. Tidak lagi duduk di dekatnya. Tidak lagi menanggapi candaan-candaannya. Pesan-pesannya kubalas seperlunya.
Aku berharap Arga mengerti.
Ia tidak mengerti.
Atau mungkin tidak mau mengerti.
“Kenapa kamu menjauh?”
“Karena Mas sudah punya keluarga.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, Mas juga tahu kenapa.”
Arga terdiam.
Aku menatap tangannya. Cincin itu masih ada di sana. Entah mengapa baru hari itu aku benar-benar memperhatikannya. Sebuah lingkaran kecil yang selama ini selalu menjadi pengingat bahwa apa pun yang kurasakan, ada seseorang yang telah lebih dulu berada di sana.
“Aku tidak mau jadi alasan Mas pulang terlambat,” kataku.
“Aku tidak pernah menyalahkanmu.”
“Tapi aku menyalahkan diriku sendiri.”
Arga menggeleng.
“Ra, perasaan itu bukan sesuatu yang bisa kita atur.”
Aku ingin percaya. Sungguh. Tetapi ada perbedaan antara memiliki perasaan dan memilih apa yang kita lakukan dengan perasaan itu.
Aku tahu itu. Dan mungkin Arga juga tahu. Hanya saja, tidak ada di antara kami yang cukup berani mengatakannya.
Beberapa hari kemudian, ia kembali mencariku.
“Aku sering berpikir,” katanya, “kalau aku bertemu kamu sebelum menikah, mungkin hidupku akan berbeda.”
Untuk pertama kalinya, aku berharap ia tidak pernah mengatakan sesuatu yang begitu indah. Karena aku tahu kalimat itu akan tinggal lama di kepalaku.
Aku menatapnya.
“Tapi Mas nggak bertemu aku sebelum menikah.”
Ia diam.
Aku melanjutkan, “Dan aku nggak mau hidup dari sesuatu yang seharusnya terjadi tapi tidak pernah terjadi.”
Arga menunduk. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak mencoba membantah.
Setelah hari itu, kami tidak benar-benar berpisah. Kami masih bekerja di tempat yang sama. Masih berpapasan. Masih saling menyapa. Hanya saja kami tidak lagi menjadi tempat pulang bagi satu sama lain. Sesekali aku masih ingin bercerita kepadanya. Tentang malam-malam ketika kepalaku terlalu ramai. Tentang ketakutan yang tidak bisa kuceritakan kepada siapa pun. Tentang hal-hal kecil yang dulu hanya ia mengerti tanpa perlu kuterangkan. Tetapi sekarang aku menyimpannya sendiri.
Dulu aku berpikir rumah adalah tempat di mana seseorang membuat kita merasa dimengerti. Sekarang aku tahu, mungkin rumah juga adalah tempat yang boleh kita tinggali.
Dan Arga selamanya akan menjadi rumah yang paling kukenal, tetapi tidak pernah boleh kutinggali. Barangkali begitulah rasanya kehilangan rumah. Bukan ketika pintunya ditutup. Melainkan ketika kita akhirnya sadar bahwa sejak awal, kita memang tidak pernah punya kunci.