Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Keponakanku mana?" tanyaku pada kakak perempuanku lewat video call.
"Ini pada lari-larian."Kamera tampak goyang. "Lany! Rey! April! Sini, dipanggil pamanmu ini,"
Tak ada satu pun mereka yang mau mendekat. "Padahal sudah kangen banget sama mereka," kataku.
"Kami enggak kenal paman yang itu," salah satu keponakanku berteriak dari kejauhan, tetapi masih terdengar jelas.
"Itu paman yang pelit itu, Kak?" timpal si sulung yang kalau tidak salah umurnya tujuh tahun sekarang.
"Eh mulut kalian itu," hardik kakak. "Maaf ya, Dek. Maksudnya bukan begitu. Kau tahu sendirilah, terakhir kali kita ngumpul, mereka masih kecil-kecil. Mungkin udah pada lupa."
Aku tersenyum kecut, "Enggak papalah, Kak." Aku mengubah warna muka, "Oh, coba chat nomor rekeningmu. Aku mau ngirim buat anak-anak."
Kakak salah tingkah, mendadak merasa tidak enak. Ia mencoba menolak, tetapi aku meyakinkannya dengan tawa lepas. Kubilang pemberianku sebagai hadiah Natal untuk ketiga keponakanku sekaligus supaya mereka mengingatku.
"Ya, sudah. Yang pasti enggak memberatkan, kan? Aku jadi enggak enak ini."
"Nggak papa, Kak. Yang penting kita semua sehat. Uang bisa dicari," kataku menenangkan.
Setelah video call berakhir, segera kucek saldo yang ada di rekening melalui aplikasi bank yang kupunya. Menyedihkan, nominal yang tertera di sana tidak akan cukup menopang hidup walah sebulan. Nggak diingat itu tidak menyenangkan, tidak apa-apa yang ini direlakan, toh masih bisa cari pinjaman.