Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Kereta Terakhir ke Arunika
0
Suka
459
Dibaca

Hujan turun deras ketika Kereta Cepat Arunika meninggalkan Stasiun Sentral tepat pukul 20.00. Malam itu seharusnya menjadi perjalanan biasa menuju Kota Arunika dengan waktu tempuh hanya dua jam.

Di gerbong paling depan, Gilang, masinis magang berusia dua puluh lima tahun, duduk mendampingi Masinis Surya yang telah bekerja lebih dari dua puluh tahun.

"Kalau kereta cepat, yang paling penting bukan kecepatan," kata Surya sambil memeriksa panel kendali.

"Lalu apa, Pak?"

"Kepercayaan. Ribuan orang menyerahkan keselamatan mereka kepada kita."

Gilang mengangguk.

Belum sempat ia menjawab, alarm keamanan berbunyi pendek.

Seorang petugas melapor melalui radio.

"Gerbong lima kehilangan sinyal kamera."

Surya langsung mengernyit.

"Kamera cadangan?"

"Juga mati."

Belum selesai laporan itu, seluruh sambungan radio terputus.

Di gerbong lima, delapan pria bersenjata telah mengambil alih keadaan.

Mereka mengenakan pakaian teknisi rel lengkap dengan tanda pengenal palsu.

Dalam hitungan menit, mereka melumpuhkan petugas keamanan kereta tanpa menimbulkan kepanikan di gerbong lain.

Pemimpin kelompok itu, Viktor, membawa sebuah koper logam.

Target mereka bukan para penumpang.

Melainkan sebuah kontainer kecil yang dikawal diam-diam oleh dua petugas pemerintah.

Kontainer itu berisi prototipe baterai berdaya tinggi yang akan dipresentasikan keesokan harinya.

Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

Seorang perempuan bernama Rena, mantan petugas penyelamat gunung yang kini bekerja sebagai konsultan keselamatan, sedang duduk di gerbong enam.

Ia memperhatikan seorang anak kecil berlari ketakutan melewati lorong.

"Ada apa?"

"Om-om jahat..."

Belum selesai anak itu berbicara, terdengar suara benda logam jatuh.

Rena langsung berdiri.

Naluri lamanya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

Ia mengintip dari balik pintu penghubung.

Melihat seorang pria bersenjata.

Tanpa berpikir panjang, ia menarik anak itu ke balik kursi.

Sementara itu, Viktor berhasil merebut kontainer.

Namun ia menghadapi masalah.

Kereta tidak dapat dihentikan dari sistem pusat karena seluruh kendali berada di kabin masinis.

"Ambil alih lokomotif."

Empat anak buahnya bergerak menuju gerbong depan.

Di kabin, Gilang menerima notifikasi bahwa pintu penghubung antargerbong dibuka paksa.

Surya menatap monitor.

"Mereka menuju ke sini."

"Apa yang harus kita lakukan?"

Surya menarik tuas pengaman.

"Jangan biarkan mereka menguasai kabin."

Gilang segera mengunci seluruh akses elektronik.

Namun beberapa detik kemudian, terdengar dentuman keras.

Brak!

Pintu kabin mulai digedor dari luar.

Rena mengumpulkan beberapa penumpang yang tetap tenang.

Di antaranya seorang dokter, dua atlet panjat tebing, dan seorang teknisi listrik.

"Kita tidak punya senjata," kata dokter itu.

"Kita tidak perlu menyerang," jawab Rena.

"Kita hanya perlu menghambat mereka."

Mereka membagi tugas.

Teknisi mematikan sebagian lampu gerbong.

Para atlet membantu memindahkan troli makanan untuk menghalangi lorong.

Dokter menenangkan penumpang yang panik.

Rena bergerak menuju gerbong depan.

Para penyusup akhirnya berhasil membuka pintu kabin menggunakan alat hidrolik.

Namun Surya sudah lebih dulu mengaktifkan mode penguncian kendali.

Seluruh sistem kemudi membutuhkan kode biometrik yang hanya dikenali dari sidik jari masinis utama.

Viktor tersenyum tipis.

"Kalau begitu kita bawa saja masinisnya."

Ia memerintahkan anak buahnya menyandera Surya.

Dalam kekacauan itu, Gilang berhasil meloloskan diri melalui lorong servis sempit di bawah kabin.

Kini hanya dialah yang mengetahui cara mengaktifkan sistem cadangan.

Kereta melaju hampir tiga ratus kilometer per jam.

Di depan, sebuah jembatan panjang sedang dalam proses perawatan.

Jika kereta gagal mengurangi kecepatan sebelum memasuki jalur pengalihan, risikonya sangat besar.

Pusat kendali mencoba menghubungi kereta.

Semua komunikasi diblokir.

Gilang merangkak melalui ruang mesin.

Suhu di dalamnya sangat panas.

Ia harus mencapai panel darurat yang berada di bawah gerbong ketiga.

Sementara itu Rena berhasil bertemu dengannya.

"Kamu masinis?"

"Masih magang."

"Cukup. Apa rencananya?"

"Mengaktifkan rem cadangan."

"Bisa?"

"Bisa... kalau panelnya belum dirusak."

Mereka bergerak bersama.

Di sepanjang lorong servis, dua penyusup menghadang.

Rena memanfaatkan ruang sempit untuk menghindari serangan dan menjatuhkan salah satu lawan menggunakan pintu perawatan yang terbuka tiba-tiba ketika kereta berguncang.

Gilang menarik tuas darurat sehingga pintu otomatis menutup, menghalangi pengejar lainnya.

Mereka terus maju.

Sesampainya di panel cadangan, harapan itu kembali muncul.

Namun kabel utama telah diputus.

"Waktu kita tinggal tiga menit," kata Gilang.

Rena melihat kotak peralatan.

"Apa bisa disambung?"

"Bisa, tapi butuh waktu."

"Lakukan."

Sementara Gilang menyambungkan kabel satu per satu, Rena berjaga di lorong.

Langkah kaki para penyusup semakin dekat.

Benturan mulai terdengar.

Pintu servis bergoyang keras.

Satu baut terlepas.

Lalu satu lagi.

Di kabin depan, Surya yang masih disandera diam-diam berhasil melepaskan jam tangannya.

Ia memasukkan jam logam itu ke sela-sela tuas kendali.

Ketika Viktor mencoba memaksa sistem bekerja, mekanisme pengunci macet.

Perhatian seluruh penyusup teralihkan beberapa detik.

Detik yang cukup bagi salah satu petugas keamanan yang sebelumnya hanya berpura-pura tidak sadar untuk merebut radio darurat.

Sinyal singkat akhirnya berhasil dikirim ke pusat kendali.

Lokasi kereta teridentifikasi.

Tim khusus segera diberangkatkan menggunakan helikopter.

"Sudah!"

Gilang berhasil menyambungkan kabel terakhir.

Ia menarik tuas rem cadangan.

Awalnya tidak terjadi apa-apa.

Kemudian seluruh kereta bergetar hebat.

Kecepatan perlahan turun.

290...

270...

240...

Viktor menyadari rencananya gagal.

Ia mencoba melarikan diri sambil membawa koper berisi prototipe.

Namun sebelum mencapai pintu darurat, helikopter tim khusus telah sejajar dengan kereta yang mulai melambat.

Petugas memasuki gerbong melalui pintu samping ketika kereta akhirnya mencapai kecepatan aman.

Dalam beberapa menit, seluruh kelompok penyusup berhasil dilumpuhkan.

Keesokan harinya, berita tentang percobaan pembajakan memenuhi media.

Nama Gilang dan Rena disebut sebagai dua orang yang berperan besar mencegah bencana.

Namun saat diminta menghadiri konferensi pers, keduanya menolak.

Gilang hanya kembali mengikuti pelatihan sebagai masinis.

Ia masih merasa banyak yang harus dipelajari.

Rena kembali menjalani pekerjaannya sebagai konsultan keselamatan.

Baginya, menyelamatkan orang lain bukanlah alasan untuk mencari sorotan.

Beberapa minggu kemudian, Gilang resmi menjadi masinis penuh.

Sebelum keberangkatan pertamanya, Surya yang telah pulih menghampirinya.

"Masih ingat pelajaran pertama?"

Gilang tersenyum.

"Tentu."

"Apa itu?"

"Kecepatan bukan yang paling penting."

"Lalu?"

"Kepercayaan."

Surya mengangguk bangga.

Kereta perlahan meninggalkan stasiun.

Ratusan penumpang menikmati perjalanan tanpa mengetahui bahwa beberapa minggu sebelumnya, di jalur yang sama, keberanian beberapa orang biasa telah menjaga mereka dari sebuah tragedi.

Dan Gilang memahami satu hal yang tak pernah diajarkan sepenuhnya di ruang pelatihan: menjadi pahlawan bukanlah tentang mencari kemenangan dalam pertempuran, melainkan tentang tetap menjalankan tanggung jawab dengan tenang ketika semua orang lain diliputi kepanikan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Kereta Terakhir ke Arunika
Penulis N
Flash
Pemburu Capung
Indra Afriza Arsad
Cerpen
Penyihir bulan dan kucing ajaib
Taufik reja waluya
Skrip Film
Lady Advocate (Script)
Didik Suharsono
Flash
Kalah Main Gaplek
Yovinus
Flash
Bronze
World War Samurai
Silvarani
Cerpen
Bronze
Kisah Keesh; Jack London
Ahmad Muhaimin
Flash
Bang, Jatuh!
Rani
Flash
KUMPULAN FIKSIMINI (FM)
Citra Rahayu Bening
Novel
Venture into Turmoil
Jose Justin
Flash
Gua Bolu
karyasmpitinsankamil
Cerpen
Bronze
Lelaki Paruh Baya Bercelana Karung Goni
Rayasa Kherta
Novel
genere random
salman
Cerpen
Joki Tugas, Me
Melia
Cerpen
Keras Kepala
Rizky Anna
Rekomendasi
Flash
Kereta Terakhir ke Arunika
Penulis N
Flash
Penghuni Lantai Tiga
Penulis N
Flash
Perpustakaan yang Tidak Pernah Ada
Penulis N
Novel
Bukan Sekadar Keluarga
Penulis N
Flash
Suara dari Kamar 213
Penulis N
Flash
Di Balik Surat untuk Kartini
Penulis N
Flash
Malam Terakhir di Benteng Kapuran
Penulis N
Novel
Fading Heartbeats
Penulis N
Flash
LANGIT SETELAH HUJAN
Penulis N
Cerpen
Langit Masih Menunggu Doamu
Penulis N
Flash
Bangku Nomor Tujuh
Penulis N
Flash
Satu Langkah Lebih Berani
Penulis N
Flash
Langkah Kecil, Perubahan Besar
Penulis N
Flash
Ruang yang Tidak Ada di Denah
Penulis N
Cerpen
TITIAN MASA LALU
Penulis N