Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Cermin malu: Bandung vs Roro
0
Suka
3
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

BANDUNG vs RORO

 

Abad ke-9 – Menjelang Fajar

Bandung menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang kotor oleh debu batu. Sementara di belakangnya, ribuan jin sedang bekerja bak mesin pabrik kekurangan pelumas. Bunyi pahat beradu dengan batu andesit menciptakan simfoni yang memekakkan telinga.

 

"Kurang satu! Mana jin bagian logistik? Semen ghaibnya habis, nih!" teriaknya parau.

 

Ia lirik arloji pasirnya. Sebentar lagi ayam berkokok. Rara-jonggrang estate adalah proyek paling ambisius yang pernah ia ambil. Ia tak mengejar cuan. Ia sudah lama jadi anak raja kaya. Namaku Bandung. Rumah real estate. Mobilku banyak harta berlimpah. Orang memanggilku boss eksekutif. Tokoh papan atas. Atas sgalanya. Aaaaannjir, kok malah nyanyi?

 

Ini urusan bohay, bo… Bohay yang gak bisa dibeli pake duit. Belinya pakai 1000 candi. Cuma semalam udah harus jadi pulak! Dari jaman kapan aja, perempuan kalau ada maunya minta seenak udelnya. Gak peduli laki-lakinya bakal ambeien dikejar deadline.

Tahun 2026 – Menjelang Senja

Namanya Roro. Tapi bukan anak raja. Mahasiswi semester lima yang narsis abis, sedang memutar-mutar badannya di depan kamera ponsel yang terpasang di tripod. "Hai guys, hari ini aku lagi di Candi Prambanan*. Vibesnya bener-bener magical parah, healing banget!" ucapnya ke arah layar.

 

Ia sibuk mencari sudut golden hour agar jerawat di pipi kirinya tersamar oleh cahaya matahari, dan lesung pipitnya terlihat menonjol di depan kamera. Ia sangat hapal sisi mana dari wajahnya yang punya kekuatan dan sisi mana yang harus ditutupi. Palsu!

Abad ke-9 – Menjelang Fajar

Bandung Bondowoso mulai panik. Ia lihat bayangan wanita di kejauhan sedang membakar jerami. "Eh, belum subuh kok sudah barbeque-an?" gerutunya. Padahal candi ke-999 hampir selesai. Tangannya gemetar memahat relief terakhir. "Sedikit lagi. Ayo sedikit lagi jadi masterpiece!"

 

Dengan panik dikerjakannya sendiri sisa pekerjaan ini karena para jin takut melihat matahari yang sebentar lagi keluar. Lagian aneh banget sih ini Jin. Hare gene masih takut sama matahari. Mbok ya pake Sun Block atau Anti-UV kek. Di Indomaret sama Alfa-Mart juga banyak. Rempoooong…

Tahun 2026 – Menjelang Senja

"Duh, fotonya flat banget ya?" Roro mengeluh melihat hasil fotonya. Ia sandarkan punggungnya ke salah satu dinding candi yang dingin. "Coba kalau candinya lebih tinggi sedikit, pasti view-nya lebih dapet. Arsitek blo’on. Gak visioner. Apa dulu kurang mikirin angle kamera ya?" seringainya.

 

Ia hela napas panjang, lalu mengetik caption galau di ponselnya tentang "menanti yang tak pasti" di bawah bayang candi utama. Menanti kok di bawah candi. Menanti di halte Trans-Jakarta keles…

Abad ke-9 – Fajar Menyingsing

Tak lama ayam berkokok. Sekarang pasukan jin benar-benar menghilang seperti sinyal ponsel di tengah hutan. Bandung jatuh terduduk di depan candi terakhir yang baru setengah jadi. Antara marah, frustasi dan kecewa karena peluang menggaet Roro Jonggrang sirna sudah.

 

"Sialan! Kurang satu! Siapa sih yang bakar jerami? Curang!" Harga dirinya sebagai kontraktor ghaib hancur berkeping-keping. Kemarahan dilimpahkan kepada peralatan. Pacul ditendang, cetok terbang, kape pun jadi sasaran. Ia berteriak sekeras-kerasnya mengutuki wanita itu.

 

Akhirnya, dengan sisa tenaga yang ada. Dengan amarah dan geram membara, ia tunjuk wanita yang dari tadi mengintip Bandung bekerja dari kejauhan.

 

"Hai Neng! Kamu! Iya kamuuuu… Waktuku hampir habis, nih. Kamu aku jadikan pelengkap candi aku aja!" Bim salabim! Alhasil, jadilah Roro Jonggrang menjadi candi ke-1000 nya.

Tahun 2026 – Senja Menghilang

Bulu kuduk Roro tiba-tiba merinding. Ia merasa seolah-olah ada suara berat yang berbisik di telinganya: "Mbak, minggir, jangan sandaran di situ, itu candi belum serah terima kunci!"

 

Roro kaget mendengar suara ghaib itu. Ponselnya hampir jatuh. Terburu-buru ia rapikan tasnya. "Eh, kayaknya udah maghrib, hawanya mulai aneh. Mana kuota habis lagi, nggak bisa langsung upload," gerutunya sambil berjalan cepat setengah berlari menuju pintu keluar.

Epilog

Bandung Bondowoso yang terjebak di masa lalu menatap arca batu dengan lesu. Sementara Roro di masa depan pusing mencari colokan kabel data. Keduanya sama-sama merana: yang satu gagal selesaikan proyek seribu candi, yang satu gagal update konten karena layar ponsel tiba-tiba mati.

 

Ternyata, Dimana-mana, beda seribu tahun pun, masalah manusia tetap sama: Gagal memenuhi ambisi sebelum waktu habis. Deadline… deadline. Gak ada abis-abisnya…!

* Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu yang terindah di Asia Tenggara, dibangun pada abad ke-9 masehi (sekitar 850 M) oleh Rakai Pikatan dari Kerajaan Medang Mataram. Terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, candi ini didedikasikan untuk Trimurti (Siwa, Wisnu, Brahma) dan diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991. Prambanan selalu dihubungkan dengan kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso oleh masyarakat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Cermin malu: Bandung vs Roro
Andre Donas
Flash
Bronze
KELILING DUNIA
Hanan Rafidah
Flash
Surat dari Masa Depan
Penulis N
Flash
Bronze
TAK TAHAN DENGAN OMELAN ISTRI, SEORANG SUAMI NEKAT MENCOR KUPINGNYA SENDIRI
Ade Anugrah
Flash
Dodo
Seirene🍀
Cerpen
TETANGGA BIKIN KESAL
Shea
Flash
PENYAKIT ANEH
D. Rasidi
Cerpen
Bronze
Paket xxx
Rizal Syaiful Hidayat
Flash
Bronze
Beautiful Widow 'Sake' Seller
Ceena
Komik
Creamy & Rem
Ictos Gold
Komik
Rush
Abdullah Rahman Rahim
Flash
Abi Hoyong Magnum, Pak!
Atika Salsabila Zahra
Komik
TEKAD
Affandi Mudayana
Cerpen
Bronze
Paket Salah Kirim
kevin andrew
Cerpen
Testosteron
Ida Ayu Saraswati
Rekomendasi
Flash
Cermin malu: Bandung vs Roro
Andre Donas
Flash
Bronze
Cermin Malu
Andre Donas
Novel
Bronze
Wanita Penjaja Daging (Hikayat Siak)
Andre Donas