Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Rumah yang Selalu Menunggu
0
Suka
1,187
Dibaca

Kereta terakhir berhenti di Stasiun Tanjung Asri ketika langit mulai berubah jingga. Alya melangkah turun sambil membawa koper berwarna cokelat yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Delapan tahun telah berlalu sejak ia meninggalkan kota kecil itu untuk bekerja di ibu kota. Selama delapan tahun pula ia selalu mencari alasan agar tidak perlu pulang.

Bukan karena ia membenci kampung halamannya.

Ia hanya belum siap menghadapi rumah yang dipenuhi kenangan.

Rumah tempat ayah dan ibunya pernah tertawa bersama.

Rumah yang kemudian berubah sunyi setelah pertengkaran demi pertengkaran mengisi setiap malam.

Ibunya meninggal lima tahun lalu karena sakit. Sejak saat itu, ayahnya tinggal seorang diri.

Mereka masih saling menghubungi, tetapi percakapan mereka tidak pernah lebih dari beberapa menit.

"Ayah sehat?"

"Sehat."

"Kerjaan lancar?"

"Lancar."

"Jaga kesehatan."

"Kamu juga."

Lalu telepon ditutup.

Seolah mereka adalah dua orang asing yang kebetulan memiliki hubungan darah.

Ketika Alya tiba di rumah, ayahnya sudah menunggu di teras.

Rambut lelaki itu kini dipenuhi uban.

Tubuhnya juga tampak lebih kurus daripada terakhir kali mereka bertemu.

"Kamu sudah sampai."

"Iya, Yah."

"Hati-hati jalannya?"

"Iya."

Percakapan itu kembali berhenti.

Ayah mengambil koper Alya tanpa berkata apa-apa.

Rumah itu hampir tidak berubah.

Jam dinding tua masih tergantung di ruang tamu.

Lemari kayu peninggalan kakeknya masih berdiri di sudut ruangan.

Bahkan pot bunga yang dahulu dirawat ibunya masih berada di tempat yang sama, meski sebagian tanamannya telah mengering.

Malam itu mereka makan bersama dalam keheningan.

Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.

Alya ingin mengatakan banyak hal.

Namun setiap kali membuka mulut, kata-kata itu kembali menghilang.

Keesokan paginya, saat membersihkan gudang, Alya menemukan sebuah kotak karton yang penuh debu.

Di dalamnya terdapat album foto keluarga.

Ia membuka halaman demi halaman.

Ada foto ketika ayah mengajarinya bersepeda.

Foto ulang tahunnya yang ketujuh.

Foto ibunya yang sedang tertawa sambil membuat kue.

Semua tampak begitu hangat.

Sulit dipercaya bahwa keluarga yang terlihat sebahagia itu akhirnya dipenuhi jarak.

Di dasar kotak terdapat sebuah buku harian milik ibunya.

Alya ragu untuk membukanya.

Namun rasa penasaran mengalahkan keraguan.

Tulisan pertama yang ia baca membuat matanya berkaca-kaca.

"Hari ini Ayah Alya pulang larut lagi. Kami kembali bertengkar. Tetapi aku tahu ia sedang berusaha keras agar Alya bisa terus sekolah dengan baik. Semoga suatu hari nanti Alya mengerti bahwa tidak semua pertengkaran lahir karena kebencian."

Alya membalik halaman berikutnya.

Setiap catatan selalu menceritakan harapan.

Tidak ada satu pun yang berisi kebencian.

Ibunya justru berkali-kali menulis bahwa ia berharap Alya tidak tumbuh dengan membawa luka yang sama.

Siang itu, Alya memberanikan diri bertanya kepada ayahnya.

"Yah... dulu Ayah dan Ibu sebenarnya kenapa sering bertengkar?"

Ayah menghentikan pekerjaannya.

Ia duduk perlahan di bangku kayu.

"Lama sekali kamu tidak pernah menanyakan itu."

"Aku takut mendengar jawabannya."

Ayah menghela napas panjang.

"Waktu itu usaha Ayah bangkrut."

Alya terkejut.

"Aku tidak pernah tahu."

"Memang sengaja kami sembunyikan."

"Kenapa?"

"Karena kami ingin kamu tetap fokus sekolah."

Ayah menatap halaman rumah.

"Ibu bekerja diam-diam menjahit pakaian tetangga supaya kebutuhan rumah tetap terpenuhi. Ayah merasa gagal sebagai kepala keluarga. Rasa malu membuat Ayah mudah marah."

Suara lelaki tua itu mulai bergetar.

"Pertengkaran yang kamu lihat sebenarnya lebih banyak karena Ayah tidak mampu berdamai dengan diri sendiri."

Untuk pertama kalinya Alya melihat ayahnya menangis.

Malam harinya, mereka duduk di teras.

Hujan turun pelan.

Alya membawa buku harian ibunya.

"Ayah pernah baca ini?"

Ayah menggeleng.

"Itu buku pribadi Ibumu."

Alya membacakan salah satu halaman.

"Kalau suatu hari aku sudah tidak ada, jangan biarkan Alya memilih menjauh hanya karena mengira rumah ini dipenuhi kemarahan. Rumah ini dibangun oleh cinta yang kadang tidak pandai menemukan cara untuk berbicara."

Tidak ada yang sanggup berkata-kata.

Hanya suara hujan yang menemani.

Alya perlahan menggenggam tangan ayahnya.

Tangan itu terasa kasar karena bertahun-tahun bekerja.

Ia baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengingat pertengkaran, hingga lupa mengingat semua pengorbanan yang tersembunyi di baliknya.

Hari-hari berikutnya dihabiskan Alya untuk membantu memperbaiki rumah.

Mereka mengecat ulang pagar.

Mengganti genting yang bocor.

Menanam kembali bunga-bunga yang telah layu.

Setiap pekerjaan kecil membuka ruang untuk percakapan yang selama ini tertunda.

Ayah bercerita tentang masa muda.

Tentang bagaimana ia pertama kali bertemu dengan ibu Alya di perpustakaan desa.

Tentang mimpi-mimpi yang sempat tertunda demi membesarkan keluarga.

Sementara Alya menceritakan kehidupan di kota yang selama ini tidak pernah benar-benar ia bagikan.

Jarak di antara mereka perlahan memendek.

Bukan karena semua luka hilang.

Melainkan karena mereka akhirnya berani membicarakannya.

Seminggu kemudian Alya harus kembali ke ibu kota.

Sebelum berangkat, ia melihat ayahnya berdiri di depan rumah sambil membawa sebuah pot bunga kecil.

"Ini bunga melati."

Alya menerimanya.

"Ibumu paling suka melati."

"Aku akan merawatnya."

Ayah tersenyum.

"Kalau bunganya tumbuh, jangan lupa sesekali pulang."

Alya mengangguk.

"Kali ini aku tidak akan menunggu delapan tahun lagi."

Beberapa bulan berlalu.

Kini, setiap akhir pekan, Alya selalu menyempatkan diri menelepon ayahnya lebih lama.

Kadang mereka hanya berbincang tentang cuaca.

Kadang tentang tanaman.

Kadang tentang resep masakan ibu yang sedang mereka coba buat kembali.

Percakapan mereka tidak lagi terasa canggung.

Rumah tua itu juga perlahan kembali hidup.

Halamannya dipenuhi bunga baru.

Dindingnya telah dicat ulang.

Tawa mulai terdengar lagi ketika Alya pulang.

Suatu sore, ia berdiri di teras sambil memandangi matahari yang tenggelam di balik pepohonan.

Ia akhirnya memahami satu hal.

Luka keluarga memang tidak bisa dihapus begitu saja.

Namun luka yang dirawat dengan kejujuran, kesabaran, dan saling memaafkan dapat berubah menjadi jembatan yang mempertemukan hati-hati yang lama terpisah.

Rumah itu memang pernah dipenuhi kesunyian.

Namun rumah itu tidak pernah berhenti menunggu.

Menunggu keberanian untuk pulang.

Menunggu percakapan yang tertunda.

Dan menunggu sebuah keluarga yang akhirnya memilih saling memahami, bukan saling menjauh.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
KHAJANA
Anisa Saraayu
Komik
Payung Kesedihan
Astri Rahmah Aulia
Skrip Film
Breath & Brave (Script)
Putriyani Hamballah
Flash
Bronze
Degradasinya Santos
Nuel Lubis
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Flash
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
Rumah yang Selalu Menunggu
Penulis N
Novel
Bronze
Bleu
Seli Suliastuti
Novel
Dikhianati Semesta
Intan Sevira
Novel
GENOSIDA
My Lady
Skrip Film
Lingkaran Setan (Short Movie Script)
Atmara
Flash
TERISOLASI
zae_suk
Cerpen
Umi Kalsum
Deasy Wirastuti
Cerpen
Bronze
Gerobak Ujung Alun-Alun
Nabilla Shafira
Novel
Bronze
Gedith Woman
Anglint
Rekomendasi
Flash
Rumah yang Selalu Menunggu
Penulis N
Cerpen
Rumah yang Tidak Pernah Mengunci Pintu
Penulis N
Flash
Hujan di Ujung Telepon
Penulis N
Cerpen
Lembayung di Alas Rawiya
Penulis N
Flash
Penjaga Prasasti Bukit Kendaga
Penulis N
Cerpen
Kos-Kosan Nomor 7 Tidak Pernah Sepi
Penulis N
Cerpen
Beranda Kecil
Penulis N
Flash
Rumah yang Menunggu Pulang
Penulis N
Cerpen
Delta
Penulis N
Cerpen
Hujan yang Memilih Jendela Kita
Penulis N
Flash
Delapan Menit Terakhir
Penulis N
Flash
Belajar Berkata Tidak
Penulis N
Flash
Malam Terakhir di Benteng Kapuran
Penulis N
Flash
Pesan di Buku Ketiga
Penulis N
Flash
KEMBALINYA SANG PENUNTUN
Penulis N