Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hari itu, aku dan kau duduk di kursi yang sama. Namun di meja yang berbeda. Di antara riuh dan kegaduhan, hanya kita yang merasakan waktu berhenti bergerak. Panas tubuhmu menyengat kulit punggungku. Rasanya seperti aliran listrik yang ingin terus kualirkan ke tubuhku agar terus terjaga. Hari itu tidak ada kata yang terucap. Namun dalam keheningan itu, kita menyanyikan lagu yang sama dan mendengarkan nada cinta yang mengalun pelan. Kita tahu ada gelombang tak kasat mata yang saling menyahuti disana.
Namun setelah bertahun-tahun tak pernah berjumpa, kau tiba-tiba berkata, "Aku pernah menyukaimu dulu," dengan nada bicara yang terdengar begitu ringan.
"Tapi sekarang tidak," sanggahmu, "makanya sekarang aku bisa bilang itu dengan mudah."
Aku menyeruput kopi pahit di atas meja. Lalu menyahutinya dengan ekspresi yang tidak kalah tenang, "tentu saja. Kalau masih menyukaiku tentu kamu tidak akan menikah dengan istrimu sekarang dan memiliki anak-anak yang lucu."
"Kamu pernah menyukaiku juga?"tanyamu lagi. Namun apa gunanya? Apa itu bisa memuaskan diriku.
"Sedikit pernah menyukaimu. Terimakasih ya sudah pernah menyukaiku."
Aku tersenyum tulus membalasnya dan kemudian percakapan itu berakhir begitu saja. Kau pergi dengan perasaan lega selayaknya telah membuang sampah pada tempatnya. Sampah yang bertahun-tahun tertinggal di salah satu kantong bajumu. Sekarang sampah di kepalaku juga kupungut lalu kuletakan di atas meja tempat kita bertemu. Kan kubiarkan angin yang menyapunya menjauh.