Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langit sore memantulkan warna keemasan di atas Danau Seruni ketika Aluna duduk di bangku kayu yang menghadap air. Di tangannya tergenggam secangkir cokelat hangat yang mulai kehilangan uapnya. Sudah delapan tahun ia tidak datang ke taman itu.
Dulu, setiap Minggu sore, ia selalu datang bersama seorang sahabat bernama Naren. Mereka akan membeli jagung bakar dari pedagang yang sama, berjalan mengelilingi danau, lalu duduk di bangku itu hingga matahari tenggelam.
Namun semua kebiasaan itu berhenti begitu saja setelah Naren pindah ke kota lain mengikuti pekerjaan ayahnya.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada janji.
Tidak ada perpisahan yang benar-benar selesai.
Mereka hanya perlahan kehilangan kabar.
Kesibukan mengambil alih.
Waktu menghapus kebiasaan saling menyapa.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
Aluna kini bekerja sebagai ilustrator buku anak-anak. Pekerjaannya membuatnya sering datang ke berbagai kota untuk menghadiri pameran. Kebetulan, pekan itu ia mendapat undangan mengisi lokakarya di kota tempat ia dibesarkan.
Tanpa sadar, langkahnya membawanya kembali ke taman lama.
Ia tersenyum kecil saat melihat pohon flamboyan yang dahulu sering mereka panjat.
"Masih berdiri rupanya."
"Untung pohonnya tidak pindah."
Suara itu membuat Aluna menoleh cepat.
Di belakangnya berdiri seorang pria mengenakan kemeja biru muda sambil membawa dua gelas kopi.
"Naren?"
Pria itu tersenyum.
"Halo, Luna."
Delapan tahun terasa runtuh dalam satu sapaan sederhana.
Mereka duduk berdampingan.
Awalnya canggung.
Keduanya sama-sama mencari kalimat pertama yang tepat.
"Apa kabar?" tanya Naren.
"Baik."
"Kamu?"
"Masih belajar jadi orang dewasa."
Aluna tertawa pelan.
"Sepertinya kita semua begitu."
Keheningan kembali hadir.
Namun kali ini terasa nyaman.
Mereka mulai bertukar cerita.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang kota-kota yang pernah mereka tinggali.
Naren kini menjadi fotografer perjalanan. Hampir setiap bulan ia berpindah tempat, mengabadikan kehidupan dari berbagai penjuru negeri.
"Makanya sulit dicari," kata Aluna sambil bercanda.
Naren mengangguk.
"Aku memang sering berpindah."
"Lalu kenapa sekarang ada di sini?"
"Aku sengaja pulang."
"Untuk apa?"
Naren memandang permukaan danau.
"Karena ada seseorang yang ingin kutemui."
Aluna tersenyum tipis.
"Semoga orangnya datang."
Naren hanya tersenyum tanpa menjawab.
Hari-hari berikutnya mereka kembali sering bertemu.
Kadang sarapan bersama.
Kadang berjalan kaki mengelilingi kota tua.
Kadang hanya duduk di taman sambil menikmati sore.
Mereka berbicara tentang banyak hal yang dulu tak sempat dibicarakan.
Tentang mimpi yang berubah.
Tentang kegagalan.
Tentang rasa takut.
Aluna menyadari satu hal.
Naren masih menjadi pendengar yang sama baiknya seperti dulu.
Sementara Naren melihat bahwa Aluna tetap memiliki kebiasaan tersenyum lebih dulu saat melihat orang lain sedang sedih.
Beberapa hal memang berubah.
Namun beberapa hal lain tetap tinggal.
Suatu hari hujan turun deras ketika mereka terjebak di sebuah toko buku kecil.
Sambil menunggu reda, mereka melihat rak berisi buku-buku bekas.
Aluna menemukan sebuah novel lama.
Di halaman depannya terdapat tulisan tangan.
"Semoga suatu hari kita membaca cerita yang sama lagi."
Ia tersenyum.
"Lucu juga."
Naren memandang tulisan itu cukup lama.
"Luna."
"Iya?"
"Dulu aku pernah menulis surat buat kamu."
Aluna terkejut.
"Serius?"
"Iya."
"Kenapa tidak pernah dikirim?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau setelah membacanya, kita tidak bisa lagi menjadi sahabat."
Aluna terdiam.
Ia tidak menyangka pengakuan itu datang setelah sekian lama.
Malam itu Aluna pulang dengan pikiran yang penuh.
Ia membuka kotak kenangan yang masih disimpannya sejak masa sekolah.
Di dalamnya terdapat foto-foto lama, tiket bioskop, dan sebuah pembatas buku.
Di balik pembatas itu terselip secarik kertas kecil.
Tulisan tangan Naren.
"Kalau suatu hari aku cukup berani, aku ingin bilang kalau aku menyukaimu lebih dari seorang sahabat."
Tanggal di pojok kertas menunjukkan delapan tahun yang lalu.
Aluna memejamkan mata.
Berarti selama ini...
Perasaan itu bukan hanya miliknya.
Keesokan harinya Aluna mengajak Naren bertemu di taman.
Mereka kembali duduk di bangku yang sama.
"Aku menemukan sesuatu."
Ia menyerahkan kertas kecil itu.
Naren membacanya lalu tertawa pelan.
"Aku kira kertas itu hilang."
"Ternyata terselip di bukuku."
"Mungkin memang belum waktunya ditemukan."
Aluna menatapnya.
"Kalau waktu itu surat ini sampai ke aku, mungkin ceritanya berbeda."
"Mungkin."
"Menyesal?"
Naren menggeleng.
"Sedikit."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama."
Naren berdiri.
Ia menarik napas panjang.
"Luna."
"Iya?"
"Dulu aku terlalu takut kehilangan persahabatan kita."
"Aku tahu."
"Sekarang aku lebih takut kehilangan kesempatan untuk jujur."
Angin sore meniup pelan rambut Aluna.
Selama bertahun-tahun ia membayangkan percakapan seperti ini.
Namun ketika akhirnya benar-benar terjadi, semua kata yang telah disiapkan menghilang begitu saja.
Naren melanjutkan.
"Aku tidak tahu ke mana hidup akan membawa kita setelah ini."
"Aku juga."
"Tapi kalau kamu bersedia..."
Ia berhenti sejenak.
"...aku ingin kita berjalan ke arah yang sama."
Aluna tersenyum.
Air matanya mengembun, tetapi bukan karena sedih.
Ia mengangguk pelan.
"Aku mau."
Musim terus berganti.
Aluna kembali pada pekerjaannya.
Naren masih sering bepergian.
Mereka tidak selalu berada di kota yang sama.
Namun kini mereka tidak lagi membiarkan kesunyian mengambil alih.
Mereka saling mengirim kabar.
Membagikan foto matahari terbit dari kota yang berbeda.
Mengirim sketsa, cerita lucu, dan mimpi-mimpi kecil yang ingin diwujudkan bersama.
Beberapa bulan kemudian, Naren mengadakan pameran foto pertamanya.
Di sudut ruangan terdapat satu bingkai berisi foto bangku kayu di tepi Danau Seruni saat matahari tenggelam.
Judul fotonya sederhana.
"Tempat Perasaan Akhirnya Berani Pulang."
Aluna berdiri lama di depan foto itu.
Ia menggenggam tangan Naren tanpa berkata apa-apa.
Kadang cinta tidak hadir dengan cara yang megah.
Tidak selalu dimulai oleh pertemuan yang dramatis atau pengakuan yang sempurna.
Kadang cinta tumbuh perlahan, bersembunyi di balik persahabatan, menunggu keberanian mengalahkan keraguan.
Dan ketika waktunya tiba, ia tidak meminta masa lalu untuk diulang.
Ia hanya meminta dua hati yang pernah saling menunggu agar tidak lagi berjalan sendiri.
Sore itu, matahari kembali tenggelam di balik Danau Seruni.
Bangku kayu tua masih berada di tempat yang sama.
Namun kali ini, tidak ada lagi ruang kosong di antara mereka.
Karena setelah bertahun-tahun dipisahkan oleh jarak dan diam, akhirnya mereka menemukan bahwa rumah terbaik bukanlah sebuah kota, melainkan seseorang yang membuat perjalanan pulang selalu terasa layak diperjuangkan.