Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Gemini
0
Suka
1,943
Dibaca

Sumber cover:

https://www.magnific.com/premium-vector/zodiac-constellation-gemini-engraving-style-vector-retro-graphic-illustration-astrological-sign-twins_32642175.htm

“Pollux. Kamu lihat planet biru kehijauan yang cantik itu?”

“Yang mana? Yang dibalut kabut putih? Yang kecil itu?”

“Iya! Tapi… suaranya sedih banget…”

Sepasang anak lelaki sedang duduk berayun di bawah sekumpulan bintang. Talinya terbuat dari sisa gas bintang yang sudah mati. Papan alasnya dari serpihan asteroid.

Pollux mendengarkan baik-baik. Di antara seluruh Galaksi Bima Sakti, Tata Surya adalah salah satu kelompok yang terasa paling hidup dan berisik.

“Ah, iya… Kenapa, ya? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?”

Castor menggeleng pelan. “Entahlah… Aku juga ingin tahu. Tapi, jarak kita terlalu jauh. Nggak bisa lihat langsung.”

Pollux memangku tangannya sambil menyilangkan kedua kaki yang menggantung. “Apa dia sakit? Atau ada yang menyakitinya?”

Castor tak menjawab, lalu turun dari ayunan. Pandangannya masih tertuju pada planet kecil itu.

Setelah beberapa lama, dia beralih menengok kembarannya yang masih menekuri langit hampa di bawah kakinya.

“Apa kamu mau ke sana, Pollux?”

Pollux mendongak, menatap Castor yang tersenyum iba. “Memangnya bisa?”

“Mau coba?” tawar Castor, menelengkan kepalanya sedikit.

Pollux meremas tangannya. “Tapi… aku takut. Gimana kalo ada makhluk jahat di sana…?”

Castor berbalik, lalu kembali duduk di samping Pollux. Dia memegang kepalan tangan Pollux, memberinya sentuhan lembut. “Ya, udah. Kalo gitu, aku temani kamu di sini aja.”

Pollux tersenyum, begitu juga matanya yang menyipit. “Makasih, Castor!” Dia menyandarkan kepala ke bahu kiri kakak abadinya itu. “Berkat kamu, aku jadi nggak pernah kesepian.”

***

Sore itu, awan kumulonimbus berarak pelan di langit biru. Matahari masih menyorot cukup terang dari baliknya. Hampir tak ada angin berembus, membuat musim kemarau terasa sangat gerah.

Seorang wanita sedang menaburkan mahkota mawar merah dan putih ke atas dua makam kecil yang berdampingan. Rambutnya yang hitam panjang tersampir di satu pundak, hanya diikat di bagian ujung dengan karet putih.

Terusan chiffon hitamnya berlengan panjang. Roknya menggantung di bawah lutut, tak cukup untuk menutupi kakinya yang kuning langsat.

“Nak, gimana keadaan kalian sekarang?”

“Semoga kalian baik-baik aja.”

“Padahal belum setahun Ibu lihat kalian. Tapi kalian udah harus pergi…”

Wanita itu mengusap air mata yang mulai meleleh ke pipinya. Suaranya pun makin bergetar. “Tapi Ibu seneng. Dengan begini, kalian udah nggak kesakitan lagi…”

Dia menumpu kedua tangan di depan paha. Senyum tipisnya menangkap sebutir air mata yang mengalir turun. “Tolong tunggu Ibu di sana, ya. Biar Ibu bisa ketemu kalian lagi.”

TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Sekilas Romansa
CHAIRUNNISA NASUTION
Novel
Rumah Dua Uti
Anggria Ahda Mawadati
Flash
Gemini
Edelweiss
Cerpen
Bronze
Perempuan Itu
Yuli Harahap
Novel
Berdamai dengan Patah Hati
zuzty hanis
Novel
Kict It
Kim YuMi
Novel
Bronze
Retak Seribu
Endang Hadiyanti
Komik
Hello, Someday!
Gemi
Komik
BR[OK]EN
i nengah doni adhitama
Flash
Bronze
Musik hits 2000 an
sk_26
Cerpen
Bronze
Bunga Apa yang Kau Masukkan ke Mulutmu?
Cicilia Oday
Cerpen
Bronze
Dilarang Berharap pada Gigi Palsu
Muram Batu
Cerpen
Bronze
Alasan yang Tak Pernah Hilang
Mochammad Ikhsan Maulana
Novel
Bronze
Maret dan rahasia
haniifa_
Novel
Bronze
Dia Tentang Cinta
febriani nuraizah
Rekomendasi
Flash
Gemini
Edelweiss
Cerpen
Kucing
Edelweiss
Cerpen
I Just Wanna be Part of Your Harmony
Edelweiss
Cerpen
My Dearest Idol Easy R
Edelweiss
Flash
Sebuah Kepingan Memori
Edelweiss