Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Gemini
0
Suka
1,399
Dibaca

Sumber cover:

https://www.magnific.com/premium-vector/zodiac-constellation-gemini-engraving-style-vector-retro-graphic-illustration-astrological-sign-twins_32642175.htm

“Pollux. Kamu lihat planet biru kehijauan yang cantik itu?”

“Yang mana? Yang dibalut kabut putih? Yang kecil itu?”

“Iya! Tapi… suaranya sedih banget…”

Sepasang anak lelaki sedang duduk berayun di bawah sekumpulan bintang. Talinya terbuat dari sisa gas bintang yang sudah mati. Papan alasnya dari serpihan asteroid.

Pollux mendengarkan baik-baik. Di antara seluruh Galaksi Bima Sakti, Tata Surya adalah salah satu kelompok yang terasa paling hidup dan berisik.

“Ah, iya… Kenapa, ya? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?”

Castor menggeleng pelan. “Entahlah… Aku juga ingin tahu. Tapi, jarak kita terlalu jauh. Nggak bisa lihat langsung.”

Pollux memangku tangannya sambil menyilangkan kedua kaki yang menggantung. “Apa dia sakit? Atau ada yang menyakitinya?”

Castor tak menjawab, lalu turun dari ayunan. Pandangannya masih tertuju pada planet kecil itu.

Setelah beberapa lama, dia beralih menengok kembarannya yang masih menekuri langit hampa di bawah kakinya.

“Apa kamu mau ke sana, Pollux?”

Pollux mendongak, menatap Castor yang tersenyum iba. “Memangnya bisa?”

“Mau coba?” tawar Castor, menelengkan kepalanya sedikit.

Pollux meremas tangannya. “Tapi… aku takut. Gimana kalo ada makhluk jahat di sana…?”

Castor berbalik, lalu kembali duduk di samping Pollux. Dia memegang kepalan tangan Pollux, memberinya sentuhan lembut. “Ya, udah. Kalo gitu, aku temani kamu di sini aja.”

Pollux tersenyum, begitu juga matanya yang menyipit. “Makasih, Castor!” Dia menyandarkan kepala ke bahu kiri kakak abadinya itu. “Berkat kamu, aku jadi nggak pernah kesepian.”

***

Sore itu, awan kumulonimbus berarak pelan di langit biru. Matahari masih menyorot cukup terang dari baliknya. Hampir tak ada angin berembus, membuat musim kemarau terasa sangat gerah.

Seorang wanita sedang menaburkan mahkota mawar merah dan putih ke atas dua makam kecil yang berdampingan. Rambutnya yang hitam panjang tersampir di satu pundak, hanya diikat di bagian ujung dengan karet putih.

Terusan chiffon hitamnya berlengan panjang. Roknya menggantung di bawah lutut, tak cukup untuk menutupi kakinya yang kuning langsat.

“Nak, gimana keadaan kalian sekarang?”

“Semoga kalian baik-baik aja.”

“Padahal belum setahun Ibu lihat kalian. Tapi kalian udah harus pergi…”

Wanita itu mengusap air mata yang mulai meleleh ke pipinya. Suaranya pun makin bergetar. “Tapi Ibu seneng. Dengan begini, kalian udah nggak kesakitan lagi…”

Dia menumpu kedua tangan di depan paha. Senyum tipisnya menangkap sebutir air mata yang mengalir turun. “Tolong tunggu Ibu di sana, ya. Biar Ibu bisa ketemu kalian lagi.”

TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Sahabatku Ina
SOS (Share Our Story)
Novel
Bronze
Thantophobia : Rasa Takut Kehilangan Orang yang Dicintai
ahmad dicka hudzaifi
Skrip Film
ANTING KIRI (SCRIPT)
Mario Matutu
Flash
Joy
Yaz
Flash
Gemini
Edelweiss
Cerpen
Jatuh
Aneidda
Novel
Bronze
Rumah, Langit, dan Mimpi
Putri Rafi
Cerpen
Bronze
NINGRAT
Citra Rahayu Bening
Novel
Buatmu Jatuh Cinta
finiL.P
Skrip Film
The Gimmick Between Us (Script)
Alvin Raja
Flash
Sayang, Mari Kita Berpisah
Celica Yuzi
Novel
Find The Culprit
mikaji Al daufan
Skrip Film
Siapa Bapak Siapa
Esde Em
Novel
Bronze
Alexandra Prasastia
trinihutapeaa
Flash
Nobody Cares Until You Succes
Dwi Budiase
Rekomendasi
Flash
Gemini
Edelweiss
Cerpen
Kucing
Edelweiss
Flash
Sebuah Kepingan Memori
Edelweiss
Cerpen
My Dearest Idol Easy R
Edelweiss
Cerpen
I Just Wanna be Part of Your Harmony
Edelweiss