Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Ruang yang Tidak Ada di Denah
0
Suka
1,209
Dibaca

Raka sudah delapan tahun bekerja sebagai arsitek restorasi bangunan tua. Ia terbiasa menghadapi rumah-rumah yang dipenuhi retakan, kayu lapuk, dan lorong sempit yang menyimpan sejarah panjang. Baginya, setiap bangunan memiliki cerita yang hanya bisa dipahami jika seseorang mau memperhatikannya dengan sabar.

Karena itulah ia tidak terlalu memikirkan ucapan pemilik Rumah Cendana ketika pertama kali menerima proyek.

"Kalau bekerja sampai malam, jangan percaya semua yang Anda lihat."

Raka hanya menganggapnya sebagai cara orang tua menjaga kisah-kisah turun-temurun.

Rumah Cendana berdiri di atas bukit kecil di pinggir kota. Usianya diperkirakan lebih dari seratus tahun. Bangunannya besar, terdiri atas dua lantai, dengan puluhan jendela tinggi dan lantai kayu yang selalu berbunyi setiap kali diinjak.

Tugas Raka sederhana.

Membuat denah baru sebelum proses renovasi dimulai.

Hari pertama berlalu tanpa kejadian aneh. Ia mengukur setiap ruangan, memotret sudut-sudut rumah, lalu mencocokkannya dengan denah lama yang tersimpan di arsip keluarga.

Namun ada satu hal yang mengganggunya.

Ukuran luar bangunan lebih besar hampir empat meter dibandingkan ukuran seluruh ruangan di bagian dalam.

Seolah ada ruang yang hilang.

Raka mengulang pengukuran.

Hasilnya tetap sama.

Ia bahkan menggunakan alat pemindai dinding untuk memastikan tidak ada kesalahan.

Tetap saja terdapat ruang kosong di antara perpustakaan dan ruang tamu.

Padahal pada denah lama, bagian itu hanyalah tembok tebal.

"Aneh," gumamnya.

Ia mengetuk dinding tersebut.

Suara yang dihasilkan berbeda.

Tidak padat.

Seperti ada rongga di baliknya.

Ketika ia bertanya kepada pemilik rumah, seorang perempuan tua bernama Bu Marni hanya tersenyum.

"Semua orang yang mengukur rumah ini selalu menemukan selisih."

"Lalu ruangnya di mana?"

"Itulah pertanyaan yang belum pernah terjawab."

Malam kedua, Raka memutuskan menginap agar bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.

Tepat pukul dua belas malam, jam dinding tua berbunyi dua belas kali.

Dung...

Dung...

Dung...

Belum selesai gema terakhir menghilang, terdengar suara engsel pintu yang terbuka.

Raka keluar dari kamar.

Lorong tampak sama seperti sebelumnya.

Namun ketika melewati perpustakaan, ia terdiam.

Di tempat yang siang tadi hanyalah dinding, kini terdapat sebuah pintu kayu berwarna gelap.

Tidak ada gagang.

Tidak ada kunci.

Hanya sebuah ukiran berbentuk kompas.

Jantung Raka berdegup lebih cepat.

Ia menyentuh pintu itu.

Perlahan, pintu terbuka sendiri.

Di baliknya terdapat sebuah ruangan kecil.

Tidak berdebu.

Tidak rusak.

Seolah baru saja digunakan.

Di tengah ruangan berdiri sebuah meja bundar dengan lampu minyak yang menyala tanpa asap.

Di atas meja terdapat buku tamu.

Halaman pertama bertanggal tahun 1921.

Nama-nama yang tertulis berasal dari berbagai daerah.

Sebagian diberi tanda centang.

Sebagian lagi diberi garis merah.

Di halaman terakhir hanya ada satu kalimat.

"Jangan biarkan ruangan ini dilupakan."

Ketika Raka hendak membawa buku itu keluar, lampu minyak tiba-tiba padam.

Ruangan menjadi gelap.

Sesaat kemudian terdengar langkah kaki.

Bukan satu.

Melainkan banyak.

Mengelilinginya.

Namun tak terlihat siapa pun.

Ia segera keluar.

Begitu menoleh kembali...

Pintu itu telah menghilang.

Yang tersisa hanyalah dinding tua.

Pagi harinya Raka memeriksa hasil foto yang diambil malam sebelumnya.

Semua gambar lorong masih ada.

Tetapi tidak satu pun memperlihatkan pintu tersebut.

Bahkan foto yang ia yakin diambil tepat di depan pintu hanya menunjukkan tembok kosong.

Ia mulai meragukan penglihatannya.

Namun ada satu bukti yang masih tersisa.

Di saku jaketnya terdapat secarik kertas kecil.

Kertas itu berasal dari buku tamu.

Di sudutnya tertulis angka 17.

Karena penasaran, Raka pergi ke arsip kota.

Ia mencari data tentang Rumah Cendana.

Seorang petugas menemukan dokumen lama yang hampir rusak.

Menurut catatan itu, rumah tersebut dahulu pernah menjadi tempat pertemuan rahasia para tokoh masyarakat yang berusaha menyelamatkan naskah-naskah penting ketika terjadi kekacauan politik puluhan tahun silam.

Mereka berkumpul secara diam-diam.

Tidak semua orang mengetahui keberadaan ruang pertemuan itu.

Bahkan setelah keadaan kembali aman, ruangan tersebut sengaja dihilangkan dari semua denah bangunan agar isi dokumen yang pernah disimpan di sana tidak mudah dicari.

Namun tidak ada satu pun catatan yang menjelaskan bagaimana cara memasuki ruangan itu.

Malam berikutnya Raka kembali menunggu.

Pukul dua belas tepat.

Jam berdentang.

Udara berubah lebih dingin.

Dan benar saja.

Pintu itu muncul lagi.

Kali ini ia masuk dengan lebih tenang.

Di atas meja tidak ada buku tamu.

Sebagai gantinya terdapat sebuah kotak kayu kecil.

Di dalamnya tersimpan gulungan peta, surat-surat tua, dan sebuah catatan.

Isinya hanya beberapa baris.

"Bangunan bisa runtuh. Nama bisa dilupakan. Tetapi kebenaran harus selalu memiliki tempat untuk bersembunyi hingga ditemukan oleh orang yang tepat."

Tiba-tiba terdengar suara seseorang berbicara dari sudut ruangan.

"Apakah kau datang untuk mengambilnya... atau menjaganya?"

Raka menoleh cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya bayangan yang memanjang di dinding.

Namun suara itu terdengar jelas.

Ia menjawab pelan, meski tak tahu kepada siapa.

"Aku ingin menjaganya."

Seketika lampu minyak menyala lebih terang.

Angin dingin yang sejak tadi memenuhi ruangan perlahan menghilang.

Beberapa minggu kemudian, proses renovasi dimulai.

Raka menyerahkan denah akhir kepada pemilik rumah.

Anehnya, pada denah tersebut tidak ada ruang tambahan.

Ukurannya kembali normal.

Tidak ada selisih empat meter.

Bu Marni memandangnya sambil tersenyum.

"Jadi... Anda menemukannya?"

Raka terdiam beberapa saat.

"Lalu kenapa sekarang tidak ada lagi?"

"Karena ruangan itu tidak muncul untuk semua orang."

"Tapi saya melihatnya."

"Itu berarti rumah ini mempercayai Anda."

Raka tidak tahu harus menjawab apa.

Setelah renovasi selesai, Rumah Cendana dibuka sebagai museum sejarah keluarga.

Banyak pengunjung datang setiap hari.

Mereka memuji arsitekturnya.

Mengagumi perpustakaannya.

Memotret ruang tamunya.

Namun tidak seorang pun pernah bertanya tentang ruang yang hilang.

Suatu malam, beberapa bulan setelah proyek berakhir, Raka kembali berkunjung.

Ia berdiri di lorong yang sama.

Jam menunjukkan pukul dua belas.

Tidak ada pintu.

Ia tersenyum kecil, lalu berbalik untuk pulang.

Saat hendak keluar dari rumah, seorang anak laki-laki yang sedang berkunjung bersama keluarganya menarik lengan bajunya.

"Om..."

"Iya?"

"Kenapa di balik tembok itu ada cahaya?"

Raka menoleh.

Di ujung lorong, tepat di tempat dinding itu berdiri, tampak garis tipis cahaya keemasan menyelinap dari celah yang seharusnya tidak ada.

Ia tidak mendekat.

Ia hanya tersenyum.

Kini ia mengerti.

Ruang itu tidak pernah benar-benar menghilang.

Ia hanya memilih siapa yang boleh menemukannya.

Dan mungkin, malam itu, rumah tua tersebut sedang memilih penjaga berikutnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Ruang yang Tidak Ada di Denah
Penulis N
Novel
Bronze
Are You a Ghost?
caberawit
Cerpen
Bronze
Laboratorium Transmisi Mental
Shinta Larasati Hardjono
Flash
Demon Hunter
Via S Kim
Cerpen
Huruf di Tiap Halaman
Kai Skala
Novel
Bronze
Layang-Layang Putus Tak Pernah Salah
DMRamdhan
Novel
The journey of Tarot Reader
Deasy arista
Novel
Hutang dari Toko Waktu
Authorpemalas
Cerpen
Bronze
Karina di Lorong Gelap
Ayesha Razeeta
Novel
Selesaikan perjalanan mu
Marina wati
Novel
Bronze
Love Freak
Faisal Ridha Dmt
Novel
Alas Kelam
Langit Berawan
Cerpen
Bronze
Nemu
Ron Nee Soo
Flash
Ibu Lupa
Hanif Ilham Mahaldi
Cerpen
ARSIP 000: PERJALANAN JIWA
Tourtaleslights
Rekomendasi
Flash
Ruang yang Tidak Ada di Denah
Penulis N
Cerpen
Jam Setengah Empat
Penulis N
Novel
Veil of Roses
Penulis N
Flash
Suara dari Kamar 213
Penulis N
Cerpen
Delta
Penulis N
Flash
Langkah Pertama
Penulis N
Novel
Chrono Prisoner
Penulis N
Novel
Bukan Sekadar Keluarga
Penulis N
Flash
Suara dari Lantai Dua
Penulis N
Flash
Ketua RT Dadakan
Penulis N
Flash
Penjaga Panji Terakhir
Penulis N
Flash
Bangku Nomor Tujuh
Penulis N
Cerpen
Alamat yang Tak Pernah Ada
Penulis N
Flash
Musim Ketika Kita Bertemu Lagi
Penulis N
Flash
Belajar Berkata Tidak
Penulis N