Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Operasi Langit Merah
0
Suka
56
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Kabut tipis masih menyelimuti Bendungan Raksa ketika Raka memarkir mobil bak terbukanya di area parkir. Selama dua tahun terakhir, hidupnya jauh dari dunia yang dulu ia kenal. Setelah mengundurkan diri dari dinas militer, ia memilih menjadi teknisi alat berat yang sesekali mendapat pekerjaan memperbaiki mesin di kawasan bendungan.

Pagi itu seharusnya menjadi pekerjaan biasa.

Ia hanya diminta memeriksa turbin yang beberapa hari terakhir sering mengalami gangguan.

Namun, begitu melangkah menuju ruang kontrol, nalurinya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres.

Pos keamanan kosong.

Gerbang utama terbuka.

Radio komunikasi di meja satpam masih menyala, tetapi hanya mengeluarkan suara desis.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara tembakan memecah keheningan.

Dor!

Beberapa burung beterbangan dari pepohonan.

Raka segera berlindung di balik kendaraan proyek.

Dari kejauhan ia melihat lima pria bersenjata lengkap menyeret para petugas bendungan menuju ruang kontrol.

Mereka mengenakan pakaian hitam tanpa tanda pengenal.

Salah satu di antara mereka membawa tas logam yang dipenuhi perangkat elektronik.

Raka menarik napas perlahan.

Ini bukan perampokan biasa.

Ia mengendap menuju gudang peralatan.

Di sana ia menemukan Bayu, operator bendungan yang bersembunyi di balik tumpukan pipa.

"Syukurlah masih ada orang," bisik Bayu.

"Apa yang terjadi?"

"Mereka ingin membuka seluruh pintu air."

Raka mengernyit.

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu. Tapi kalau semua pintu dibuka sekaligus, desa-desa di hilir bisa kebanjiran."

Raka memandang denah bendungan yang tergantung di dinding.

Ada tujuh pintu air utama.

Jika semuanya dibuka tanpa perhitungan, puluhan ribu meter kubik air akan meluncur dalam hitungan menit.

Korbannya bisa sangat banyak.

Mereka mencoba menghubungi polisi.

Tidak ada sinyal.

Jaringan komunikasi telah diputus.

Bayu gemetar.

"Kita tidak mungkin melawan mereka."

Raka menggeleng pelan.

"Bukan melawan."

"Lalu?"

"Mengulur waktu."

Ia mengenal struktur bendungan itu dengan baik.

Ada lorong servis sempit yang menghubungkan gudang dengan ruang generator.

Lorong itu hampir tidak pernah digunakan.

Mereka merangkak melewati pipa-pipa besar.

Udara terasa panas.

Suara mesin menggema di sepanjang terowongan.

Sesampainya di ruang generator, Raka membuka panel listrik.

"Kalau generator cadangan mati, sistem pembuka pintu air akan kembali ke mode manual."

"Artinya?"

"Mereka harus membuka setiap pintu satu per satu."

Bayu langsung mengerti.

"Itu memberi kita waktu."

Raka mengangguk.

Dengan hati-hati ia melepas salah satu modul pengaman.

Lampu indikator berubah merah.

Alarm kecil berbunyi.

Seluruh sistem otomatis berhenti.

Di ruang kontrol, para penyusup langsung panik.

"Listrik cadangan mati!"

"Siapa yang melakukannya?"

Pemimpin mereka memukul meja.

"Cari penyusupnya!"

Empat orang langsung menyebar.

Raka dan Bayu berlari melalui lorong servis.

Langkah kaki para pengejar semakin dekat.

Mereka keluar di area turbin.

Salah satu penyusup melihat mereka.

"Berhenti!"

Tembakan kembali terdengar.

Peluru menghantam pagar besi.

Percikan logam beterbangan.

Raka menarik Bayu berlindung.

Ia mengambil batang besi yang tergeletak di lantai.

Saat salah satu pengejar mendekat, Raka memanfaatkan momen ketika lawannya kehilangan keseimbangan di lantai yang licin.

Batang besi itu menghantam senjata lawan hingga terlepas.

Tanpa membuang waktu, Raka mengunci gerakan pria tersebut dan mengikat tangannya menggunakan kabel baja.

Dua penyusup lain datang dari arah berbeda.

Raka melempar kotak peralatan ke arah lampu.

Ruangan mendadak gelap.

Hanya cahaya darurat berwarna merah yang tersisa.

Dalam kondisi remang-remang, ia memanfaatkan pengetahuannya tentang tata letak ruangan untuk berpindah cepat di antara mesin-mesin besar.

Satu per satu pengejar kehilangan arah.

Bayu berhasil meloloskan diri menuju ruang sirene darurat.

Sementara itu, pemimpin kelompok penyusup berhasil memaksa seorang operator membuka pintu menuju pusat kendali manual.

Hitungan mundur dimulai.

Mereka hanya membutuhkan beberapa menit untuk membuka pintu air pertama.

Raka tahu ia tidak punya banyak waktu.

Ia berlari menaiki tangga besi menuju ruang kendali.

Di sepanjang perjalanan, ia menemukan kotak alat pemadam api.

Sebuah ide muncul.

Begitu tiba di depan pintu ruang kendali, ia menyemprotkan isi alat pemadam ke arah lantai hingga tertutup kabut putih pekat.

Pandangan para penyusup terganggu.

Dalam kekacauan itu, para sandera memanfaatkan kesempatan untuk menjauh dari jangkauan mereka.

Raka bergerak cepat mengamankan tuas pembuka utama.

Terjadi perebutan singkat.

Tuas hampir ditarik penuh.

Namun ia berhasil menahan mekanismenya menggunakan batang pengunci darurat.

Mesin mengeluarkan suara keras.

Sistem berhenti.

Pada saat yang sama, Bayu akhirnya berhasil mengaktifkan sirene bendungan.

Suara melengking memecah udara.

Penduduk sekitar mulai menjauh dari kawasan bendungan.

Beberapa menit kemudian, suara kendaraan aparat terdengar dari kejauhan.

Kelompok penyusup sadar waktu mereka habis.

Mereka mencoba melarikan diri melalui jalan servis.

Namun akses keluar telah ditutup oleh petugas keamanan yang datang bersama aparat.

Tanpa pilihan lain, mereka menyerahkan diri.

Pemeriksaan kemudian mengungkap bahwa kelompok tersebut bekerja untuk sebuah organisasi kriminal yang ingin menciptakan bencana agar dapat mengalihkan perhatian dari penyelundupan besar di wilayah lain.

Rencana itu gagal karena sistem bendungan tidak pernah berhasil mereka kuasai sepenuhnya.

Beberapa hari kemudian, kehidupan di Bendungan Raksa kembali normal.

Para teknisi memperbaiki panel yang rusak.

Operator kembali bertugas.

Penduduk desa tetap dapat menjalani aktivitas mereka tanpa pernah menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya.

Raka kembali mengenakan seragam teknisinya.

Ia tidak menghadiri konferensi pers.

Tidak pula menerima banyak wawancara.

Baginya, menyelamatkan orang lain bukanlah cara untuk mencari nama.

Itu hanyalah pilihan yang harus diambil ketika keadaan memaksanya.

Sebelum pulang, Bayu menghampirinya.

"Kalau hari itu Mas tidak ada..."

Raka tersenyum tipis.

"Bukan karena aku."

"Lalu karena siapa?"

"Karena semua orang memilih melakukan bagian mereka. Kamu mengaktifkan sirene. Para operator melindungi data bendungan. Petugas datang tepat waktu."

Bayu mengangguk.

Ia baru menyadari bahwa keberanian tidak selalu lahir dari seseorang yang paling kuat.

Kadang, keberanian muncul ketika orang-orang biasa memutuskan untuk tidak menyerah pada rasa takut.

Raka menatap aliran air yang mengalir tenang di bawah bendungan.

Matahari sore memantulkan cahaya ke permukaannya.

Tidak ada yang tampak berbeda.

Namun ia tahu, hari itu satu bencana berhasil dicegah.

Dan terkadang, kemenangan terbesar adalah ketika dunia tetap berjalan seperti biasa, karena seseorang diam-diam memilih bertindak sebelum semuanya terlambat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Operasi Langit Merah
Penulis N
Novel
Bronze
belati dan verisai
SAKSI PENA
Flash
PONSEL
Call Me W
Skrip Film
The good detectiv
fasya aditya
Cerpen
Bronze
Aksi 12%
AndikaP
Novel
Siasat Orang Buangan
Dedy Tri Riyadi
Flash
Bronze
Monoton
Noveria
Cerpen
Bronze
Koloni Kutu
Kemal Ahmed
Flash
MISI TERAKHIR
Penulis N
Cerpen
Bronze
Aiden: Pandeka Withernsea
Mila Phewhe
Flash
BUKU TUA
Ahmad Karim
Flash
Ugly things are also beautiful
2EZ4HVK
Novel
Dongeng Sebelum Tidur
HanaR_qisti
Flash
Betapa Dekatnya Sang Cahaya
Intan Rahmadani
Flash
Bronze
A Brief History of a Cadaver
DMRamdhan
Rekomendasi
Flash
Operasi Langit Merah
Penulis N
Flash
Enam Menit Sebelum Tengah Malam
Penulis N
Flash
Surat dari Masa Depan
Penulis N
Flash
Sajadah
Penulis N
Flash
MISI TERAKHIR
Penulis N
Flash
Di Balik Surat untuk Kartini
Penulis N
Flash
Suara dari Kamar 213
Penulis N
Cerpen
Senja Selalu Pulang ke Halte Nomor Tiga
Penulis N
Flash
Jendela di Rumah Sebelah
Penulis N
Cerpen
Dukun Dadakan dari Depok
Penulis N
Flash
Selembar Tikar di Masjid Tua
Penulis N
Flash
Cap Jempol dari Kartasura
Penulis N
Flash
Bangku Nomor Tujuh
Penulis N
Cerpen
Alamat yang Tak Pernah Ada
Penulis N
Flash
Kereta Terakhir Jalur Selatan
Penulis N