Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Whats with Love, Nala?
1
Suka
1,888
Dibaca

"Kenapa kamu takut sekali jatuh cinta?"

"Memangnya kenapa juga aku harus jatuh cinta?" Nala mengangkat sebelah alisnya. "Jatuh cinta itu merepotkan. Aku tidak suka."

Nick memijat pangkal hidungnya pelan, lalu terkekeh halus, “Bagian mana sih yang merepotkan? Bukannya kebanyakan wanita justru senang sekali saat jatuh cinta?”

Nala mengibaskan tangan di udara sembari mengikis jarak di antara mereka lewat decakan pelan.

"Nah, itu dia. Kamu itu terlalu stereotip. Siapa bilang semua wanita menganggap jatuh cinta itu menyenangkan?"

"Tidak semua, mungkin." Nick mengangkat kedua bahunya santai. "Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku. Ada apa memangnya dengan jatuh cinta? Kenapa kamu sepertinya alergi sekali?"

Nala menyesap minumannya dalam diam. Di balik uap tipis yang membumbung dari cangkirnya, ia membiarkan tatapannya tertambat pada sepasang mata cokelat Nick. Mata yang menatapnya dengan kesabaran luar biasa, menunggu sebuah jawaban.

“Sudah kubilang, jatuh cinta itu rumit,” gumam Nala akhirnya. “Dan aku tidak suka menyulitkan diri sendiri.”

Nick berdecak kecil. “Rumit seperti apa, Nala? You need to elaborate specifically.”

Nala menarik napas panjang. Kelelahan jelas terpancar dari garis wajahnya akibat serangkaian pertanyaan Nick yang tak kunjung usai. Namun, melihat cowok itu menunggunya dengan binar serius, seserius saat pria itu tengah menantikan peluit akhir pertandingan tim football kebanggaannya, Nala tahu ia tidak bisa menghindar kali ini.

“Karena… saat aku jatuh cinta, pikiranku jadi sepenuhnya tersita,” bisik Nala. Suaranya memelan, terayun ragu di udara.

Ia menghela napas lagi, membiarkan pertahanannya terkikis perlahan.

“Saat seseorang menguasai pikiranku, dadaku akan berdebar gelisah setiap menit. Pikiranku mulai berkelana, menghitung jam dan detik hingga hari berakhir hanya demi bisa menemuinya. Aku menjadi tidak sabar melintasi rutinitas harianku hanya untuk bertemu dengannya. Dan ketika kami terpisah, setiap menit yang kuhabiskan untuk menunggu kabar darinya terasa bagai penantian tak berujung. And I utterly hate waiting.”

Nala kembali menyesap cokelat panas dalam gelas di genggamannya, lalu mengukir tawa samar yang terdengar sumbang.

“Singkatnya, aku akan berubah menjadi orang bodoh. Aku menjadi terlalu terobsesi pada hal-hal kecil tentangnya. Dan yang paling buruk… aku mulai membayangkan wanita-wanita dari masa lalunya. Apa yang wanita itu lakukan hingga bisa memenangkan hatinya? Aku akan terjebak membayangkan hari-hari yang pernah mereka lalui bersama, lalu membiarkan cemburu merayapi dadaku tanpa alasan yang jelas. Tanpa sadar, aku mulai membandingkan diriku dengan bayang-bayang masa lalunya, demi memastikan aku bisa menjadi versi yang lebih baik untuknya.”

Nala menghela napas lebih dalam. Sorot matanya terpaku pada cangkir di tangannya, belum berani mengarah pada Nick yang duduk terlalu dekat di sampingnya.

Namun, pengakuan polos nan jujurnya ternyata belum selesai sampai disitu.

“Saat aku jatuh cinta… rasa takut akan kehilangan mendadak menjadi begitu nyata. Ada orang-orang yang bisa mencintai dengan tenang. Mereka yang percaya sepenuhnya pada takdir dan pasangan mereka tanpa harus berusaha lebih keras. Tapi aku? Ini bukan soal ketidakpercayaan. Ini tentang dorongan impulsif untuk berusaha terlalu keras, berjuang habis-habisan, memastikan apa pun yang kulakukan sanggup memberinya kehidupan yang lebih baik ketika bersamaku. Aku akan melakukan apa saja supaya suatu hari nanti dia tidak pernah menyesal telah memilihku."

Baru setelah mengatakan itu, Nala memberanikan diri menoleh.

Nick duduk bersandar di sisinya, menyimak setiap patah kata dengan tatapan terpaku. Nyaris tanpa berkedip.

Nala sunggingkan senyum tipis, senyum yang menyimpan lelah sekaligus kepasrahan.

“Dan bagiku, sekali lagi, semua itu merepotkan. Rumit, sekaligus merepotkan."

Dalam hati, Nala sudah bersiap mendengar Nick menertawakan pengakuannya. Ia menunggu pria itu berdecak, atau setidaknya melemparkan komentar jahil seperti kebiasaan Nick untuk meremehkan alasan Nala yang kedengarannya agak dramatis.

Namun, Nick tidak berkutik.

Pria disebelahnya tetap tertegun, bahkan setelah Nala selesai memberi alasannya.

Nala sama sekali tidak menyadari, bahwa setiap detail ketakutan yang baru saja ia paparkan di depan wajah Nick… adalah setiap hal yang telah Nick lakukan sejak pertama kali mereka bertemu.

Sejak ia mulai mengenali kehadiran Nala.

Sejak ia tanpa sadar mulai masuk ke hidup Nala.

Sejak mereka terjebak dalam kesepakatan rahasia terkutuk ini.

Sial.

Nick tidak sedang jatuh cinta pada Nala, kan?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Love Speedometer
Kyna Nixie
Flash
Bronze
Anterior to Your Heart
Farah Maulida
Flash
Whats with Love, Nala?
Farah Maulida
Cerpen
Bronze
Jomblo yang Sok Cassanova
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Cinta yang tertuang dalam doa
Stephanie Dhika Ananda
Novel
Kala Cinta Membawamu Pulang
Belinda Marchely
Cerpen
Nada dan Canda
Ralali Sinaw
Novel
Soulmate Protocol
Kantin Cerita
Flash
Kisah di Balik Kedai Kopi Usang
Lukitokarya
Cerpen
Kill to Love
Oktafiana
Flash
Gerbong Nomor Tiga
Pikadita
Novel
Rembulannya Erlangga
JunaidahSusan
Novel
Bronze
Secret Love You
Pitasutria
Novel
Liefde
Ainun
Novel
Connesso
Cano
Rekomendasi
Flash
Bronze
Anterior to Your Heart
Farah Maulida
Flash
Whats with Love, Nala?
Farah Maulida
Flash
Bronze
I Found You First
Farah Maulida
Cerpen
Kala Itu, di Bandung
Farah Maulida
Flash
Our Love Inside You
Farah Maulida
Cerpen
Edge of Us
Farah Maulida
Cerpen
Jack and Nala
Farah Maulida
Flash
Parallax of Truth
Farah Maulida
Flash
Always Have Been, Always Will Be
Farah Maulida
Cerpen
After Two Years
Farah Maulida
Novel
Charlie and Millie
Farah Maulida
Novel
Bronze
Its Always Been You, Fraya
Farah Maulida
Flash
Bronze
The Galaxy In Our Room
Farah Maulida
Flash
Semua Untuk Anya
Farah Maulida
Flash
Half-Written Love
Farah Maulida