Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Kenapa kamu takut sekali jatuh cinta?"
"Memangnya kenapa juga aku harus jatuh cinta?" Nala mengangkat sebelah alisnya. "Jatuh cinta itu merepotkan. Aku tidak suka."
Nick memijat pangkal hidungnya pelan, lalu terkekeh halus, “Bagian mana yang merepotkan? Bukannya kebanyakan wanita justru senang saat jatuh cinta?”
Nala mengibaskan tangan di udara sembari mengikis jarak di antara mereka lewat decakan pelan.
"Nah, itu dia. Kamu terlalu stereotip. Siapa bilang semua wanita menganggap jatuh cinta itu menyenangkan?"
"Tidak semua, mungkin." Nick mengangkat kedua bahunya santai. "Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu alergi jatuh cinta?"
Nala menyesap minumannya dalam diam. Di balik uap tipis yang membumbung dari cangkirnya, ia membiarkan tatapannya tertambat pada sepasang mata cokelat Nick—mata yang menatapnya dengan kesabaran luar biasa, menunggu sebuah jawaban.
“Sudah kubilang, jatuh cinta itu rumit,” gumam Nala akhirnya. “Dan aku tidak suka menyulitkan diri sendiri.”
Nick berdecak kecil. “Rumit seperti apa, Nala? You need to elaborate specifically.”
Nala menarik napas panjang. Kelelahan jelas terpancar dari garis wajahnya akibat serangkaian pertanyaan Nick yang tak kunjung usai. Namun, melihat cowok itu menunggunya dengan binar serius, seserius saat pria itu tengah menantikan peluit akhir pertandingan tim football kebanggaannya, Nala tahu ia tidak bisa menghindar kali ini.
“Karena… saat aku jatuh cinta, pikiranku jadi sepenuhnya tersita,” bisik Nala. Suaranya memelan, terayun ragu di udara.
Ia menghela napas lagi, membiarkan pertahanannya terkikis perlahan.
“Saat seseorang menguasai pikiranku, dadaku akan berdebar gelisah setiap menit. Pikiranku mulai berkelana, menghitung jam dan detik hingga hari berakhir hanya demi bisa menemuinya. Aku menjadi tidak sabar melintasi rutinitas harianku hanya untuk bertemu dengannya. Dan ketika kami terpisah, setiap menit yang kuhabiskan untuk menunggu kabar darinya terasa bagai penantian tak berujung. And I utterly hate waiting.”
Nala kembali menyesap cokelat panas dalam gelas di genggamannya, lalu mengukir tawa samar yang terdengar sumbang.
“Singkatnya, aku akan berubah menjadi orang bodoh. Aku menjadi terlalu terobsesi pada hal-hal kecil tentangnya. Dan yang paling buruk… aku mulai membayangkan wanita-wanita dari masa lalunya. Apa yang wanita itu lakukan hingga bisa memenangkan hatinya? Aku akan terjebak membayangkan hari-hari yang pernah mereka lalui bersama, lalu membiarkan cemburu merayapi dadaku tanpa alasan yang jelas. Tanpa sadar, aku mulai membandingkan diriku dengan bayang-bayang masa lalunya, demi memastikan aku bisa menjadi versi yang lebih baik untuknya.”
Nala menghela napas lebih dalam. Sorot matanya terpaku pada cangkir di tangannya, belum berani mengarah pada Nick yang duduk terlalu dekat di sampingnya.
Namun, pengakuan polos nan jujurnya ternyata belum selesai sampai disitu.
“Saat aku jatuh cinta… rasa takut akan kehilangan mendadak menjadi begitu nyata. Ada orang-orang yang bisa mencintai dengan tenang—mereka yang percaya sepenuhnya pada takdir dan pasangan mereka tanpa harus berusaha lebih keras. Tapi aku? Ini bukan soal ketidakpercayaan. Ini tentang dorongan impulsif untuk berusaha terlalu keras, berjuang habis-habisan, memastikan apa pun yang kulakukan sanggup memberinya kehidupan yang lebih baik ketika bersamaku. Aku akan melakukan apa saja supaya suatu hari nanti dia tidak pernah menyesal telah memilihku."
Baru setelah mengatakan itu, Nala memberanikan diri menoleh.
Nick duduk bersandar di sisinya, menyimak setiap patah kata dengan tatapan terpaku. Nyaris tanpa berkedip.
Nala sunggingkan senyum tipis, senyum yang menyimpan lelah sekaligus kepasrahan.
“Dan bagiku, sekali lagi, semua itu merepotkan. Rumit, sekaligus merepotkan."
Dalam hati, Nala sudah bersiap mendengar Nick menertawakan pengakuannya. Ia menunggu pria itu berdecak, atau setidaknya melemparkan komentar jahil seperti kebiasaan Nick untuk meremehkan alasan Nala yang kedengarannya agak dramatis.
Namun, Nick tidak berkutik.
Pria disebelahnya tetap tertegun, bahkan setelah Nala selesai memberi alasannya.
Nala sama sekali tidak menyadari, bahwa setiap detail ketakutan yang baru saja ia paparkan di depan wajah Nick… adalah setiap hal yang telah Nick lakukan sejak pertama kali mereka bertemu.
Sejak ia mulai mengenali kehadiran Nala.
Sejak ia tanpa sadar mulai masuk ke hidup Nala.
Sejak mereka terjebak dalam kesepakatan rahasia terkutuk ini.
Sial.
Nick tidak sedang jatuh cinta pada Nala, kan?