Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku tersentak saat gledek menyambar. Perlahan mataku pun terbuka dan aku terbangun. Dari atas ranjang aku bisa melihat langit yang tak lagi biru. Di luar sana, hujan turun dengan derasnya dan langit mulai bercahaya disusul suara yang menggelegar. Aku bangkit dan menutup cermin meja riasku dengan selimut.
MARSHAAA!!
Hampir saja jantungku copot. Suara barusan tak kalah kuatnya dengan suara gledek, melengking pula. Aku mendatangi sumber suara. Tak salah lagi, itu suara Rania, tetangga sekaligus sahabatku. Aku membuka jendela, dan percikan air mengenai wajahku sehingga lama kelamaan wajahku kuyub.
“Rania, ngapain kamu di situ? Nggak tau lagi hujan?” teriakku.
Hujan bersuara sangat berisik, jadi tak mungkin aku tak berteriak.
“Sini, turun! Main hujan, yuk!” ajaknya disusul dengan lambaian tangannya.
“Nggak ah! Entar sakit lho!” cemasku.
“Kalau sakit, minum obat pasti sembuh. Udah sini turun, jangan jadi pengecut ah! Kan masih hujan air.” Rayunya lagi.
“Jadi kamu berharap ada hujan batu, Ran?”
Rania terkekeh sambil terus mengelap air yang mengenai wajahnya. Itu sudah berlangsung saat ia meneriaki namaku.
“Hahaha.. Ya nggak begitu juga kali Sha. Ayo buruan turun, keburu banyak gledek, entar nggak asik lagi hujannya!”
Rania terus merayu, dan akupun leleh. Aku menutup jendelaku dan berlari keluar kamar.
Ruang tamu kosong, jadi aku bisa dengan leluasa keluar dari rumah tanpa larangan dari Mama. Rania pasti sudah menunggu lama.
“Rania, dingin!” ujarku saat aku baru saja bergabung dengannya.
“Ya kalau nggak dingin, bukan hujan namanya Sha.”
Rania melompat-lompat dan mengecak-ngecak air dengan kaki mungilnya sehingga mengenaiku. Aku membalasnya, aku ikut mengecak-ngecak air dengan kakiku dan mengenainya.
Main air. Kalau hujan, apalagi yang bisa dilakukan selain main air. Hujan turun kerap sekali aku dan Rania bermain. Meskipun besoknya aku bisa flu, aku tak pernah peduli. Mamapun tak akan secerewet biasanya kalau aku main hujan bersama Rania. Aku bersyukur punya sahabat seperti Rania yang bisa membuat keluargaku luluh. Jadi aku bisa mengandalkan Rania dalam hal-hal kecil maupun besar. Ketika aku pergi bersama Rania, Mama nggak akan protes ketika kami berdua kelamaan dan terkesan lupa waktu. Aku jadi lega tak perlu khawatir Mama akan mencak-mencak kalau aku pulang kesorean.
“Hujan seperti ini apa akan tetap terus ada?” tanya Rania tiba-tiba.
Hujan mulai mereda, sehingga aku bisa mendengar ucapan Rania tersebut meskipun sangat pelan.
“Pasti! Besok pasti hujan lagi, Medan kan lagi musim hujan, Ran! Kecuali kalau kamu ada di gurun pasir, pasti hujan nggak akan sering turun. Namanya juga gurun.” Aku tertawa kecil.
Rania menatapku dengan senyuman kecilnya.
“Bukan itu maksud aku, Sha!”
Aku mengerutkan keningku. Masa sih, aku salah?
“Aku takut kita akan kehilangan momen seperti ini. Penuh tawa dan canda.” Ujarnya lirih.
“Maksud kamu apa, Ran?”
“Aku takut suatu hari nanti kita nggak bisa main hujan berdua lagi.”
“Kita kan tetanggaan, kita pasti akan selalu main hujan berdua. Ya kan?”
Rania tersenyum kecil padaku, tapi aku malah mengerutkan kening. Aku benar-benar tak mengerti dengan maksudnya.
“Aku juga berharap kita akan terus berdua, Sha. Tapi kok aku takut ya, suatu hari nanti kita nggak bisa lihat hujan bersama, main hujan seperti ini lagi.”
“Hush! Kamu ngomong apaan sih? Nggak akan ada hujan terakhir, Rania.” Aku menyipratkan air ke wajah Rania.
Sepertinya Rania tak terima aku menyipratkan air ke wajahnya, ia pun membalasnya. Dan kubangan air depan rumah Rania menjadi saksi keceriaan kami bermain hujan. Lari-larian adalah favorit kami ketika hujan turun. Aku dan Rania tak pernah peduli apa yang akan terjadi setelah ini.
DWAARR!!
Suara gledek yang menggelegar membuat aku tersentak dan tersadar dari kenangan masa kecilku. Saat yang sering kuhabiskan bersama Rania ketika hujan. Kini, aku dan Rania sudah beranjak remaja. Seperti yang pernah ia bilang dulu, aku dan Rania tidak pernah bersama-sama lagi menikmati dingin dan derasnya hujan. Aku tidak pernah main hujan lagi sejak Rania dikirim kedua orang tuanya ke Jakarta. Tempat yang sangat jauh untuk pulang hari. Yah, Rania menempuh SMA-nya di Jakarta, tempat di mana kakaknya juga menimba ilmu.
Aku beralih ke jendela, kulihat hujan begitu deras. Baru beberapa detik aku berdiri di dekat jendela. Air sudah membasahi wajahku dan perlahan-lahan hujan juga membasahi tubuhku. Aku menegakkan kepalaku ke atas, membuat air leluasa membasahi wajahku lalu memejamkan mataku. Aku kangen dengan hujan yang dulu sering aku rasakan bersama Rania.
“Kamu benar Ran, tidak ada lagi hujan. Hujan yang selalu kita lalui bersama seperti waktu kecil dulu. Aku rindu kamu, dan juga hujan yang deras ini. Hujan deras yang tak ada kamu, tidak berarti sama sekali. Aku benar-benar kangen kamu, Ran!” batinku.
Aku berlari keluar kamar, lalu membiarkan Kak Dodi terus mengerutkan keningnya melihatku keluar rumah di tengah hujan deras seperti ini.
Sesampainya di luar, aku langsung disambut hujan air yang bertubi-tubi membasahi sekujur tubuhku. Hasilnya, baru beberapa detik aku di luar, sekujur tubuhku sudah kuyub. Aku merentangkan tanganku dan menengadahkan kepalaku serta memejamkan mataku ke atas. Cuma inilah yang bisa kulakukan untuk mengenang hujan yang sering aku lalui berdua bersama Rania.
Rania, kapan kita bisa bermain hujan bersama lagi?
**