Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Rumah yang Menunggu Pulang
0
Suka
4,473
Dibaca

Kereta terakhir berhenti di stasiun kecil menjelang senja ketika Alya melangkah turun sambil membawa sebuah koper cokelat yang mulai kusam. Angin sore membawa aroma tanah basah yang begitu akrab. Sudah sepuluh tahun ia tidak menginjakkan kaki di kota kecil tempat ia dibesarkan.

Ia pulang bukan karena rindu.

Ia pulang karena menerima kabar bahwa ayahnya meninggal tiga hari lalu.

Perjalanan dari kota besar menuju kampung halaman terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Bukan karena jaraknya, melainkan karena setiap kilometer membawa kembali kenangan yang selama ini berusaha ia kubur.

Rumah kayu bercat hijau itu masih berdiri di ujung jalan. Catnya mulai memudar, pagar bambunya telah beberapa kali diperbaiki, tetapi pohon mangga di halaman depan masih tumbuh kokoh seperti dahulu.

Alya berdiri cukup lama di depan gerbang.

Langkahnya terasa berat.

Ia takut menghadapi rumah itu.

Lebih takut lagi menghadapi dirinya sendiri.

Sepuluh tahun lalu, Alya pergi dengan hati penuh amarah.

Ia percaya ayahnya sengaja menjual tanah warisan ibunya tanpa seizin keluarga demi melunasi utang pribadi. Perdebatan mereka berlangsung keras.

"Ayah lebih memilih uang daripada kenangan Ibu!" teriak Alya saat itu.

Ayahnya tidak membela diri.

Ia hanya menundukkan kepala.

"Kalau memang itu yang kamu percaya, Ayah tidak bisa memaksamu."

Kalimat itulah yang menjadi percakapan terakhir mereka.

Malam itu juga Alya meninggalkan rumah.

Ia mengganti nomor telepon.

Jarang pulang.

Bahkan ketika beberapa tetangga mengabarkan ayahnya mulai sakit, ia hanya mengirimkan uang tanpa pernah datang menjenguk.

Baginya, luka itu terlalu dalam.

Setidaknya begitulah yang ia yakini selama bertahun-tahun.

Rumah itu kini ditempati Bibi Sari, adik ayahnya.

Perempuan paruh baya itu memeluk Alya begitu pintu dibuka.

"Kamu akhirnya pulang."

Alya mengangguk pelan.

"Maaf aku terlambat."

Bibi Sari mengusap bahunya.

"Tidak ada kata terlambat untuk pulang."

Kalimat sederhana itu membuat dada Alya terasa sesak.

Malam pertama di rumah dipenuhi kesunyian.

Jam dinding tua masih berdetak pelan.

Kursi favorit ayahnya tetap berada di dekat jendela.

Cangkir enamel yang biasa dipakai minum kopi masih tersusun rapi di rak.

Semuanya seolah menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali.

Saat membersihkan kamar ayahnya, Alya menemukan sebuah kotak kayu di bawah tempat tidur.

Di dalamnya terdapat puluhan kuitansi rumah sakit.

Tagihan obat.

Bukti pembayaran operasi.

Semua atas nama ibunya.

Tahun yang tertera sama dengan tahun ketika tanah warisan itu dijual.

Alya mulai merasa ada sesuatu yang tidak pernah ia ketahui.

Di dasar kotak terdapat sebuah map lusuh.

Isinya surat-surat dari bank, laporan keuangan, dan satu surat tulisan tangan.

Tulisan itu milik ayahnya.

"Kalau suatu hari Alya membaca surat ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa menjelaskan apa pun secara langsung."

Tangan Alya mulai gemetar.

"Tanah peninggalan ibumu memang Ayah jual. Bukan untuk membayar utang Ayah, melainkan biaya pengobatan ibumu yang saat itu masih memiliki harapan sembuh. Ayah tahu keputusan itu akan membuatmu kecewa. Namun saat itu Ayah hanya ingin memberi ibumu kesempatan bertahan lebih lama."

Air mata mulai jatuh membasahi kertas.

"Ayah sengaja tidak membantah tuduhanmu. Kalau dengan membenciku kamu bisa melanjutkan hidup tanpa merasa bersalah kepada ibumu, biarlah Ayah yang menanggung semua kesalahpahaman itu."

Alya menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah.

Selama sepuluh tahun...

Ia membenci orang yang diam-diam sedang melindungi perasaannya.

Keesokan paginya Alya mendatangi makam kedua orang tuanya.

Rumput liar mulai tumbuh di beberapa sisi.

Ia berlutut di antara dua nisan sederhana itu.

"Maaf..."

Hanya satu kata yang mampu keluar.

Tidak ada jawaban.

Hanya angin pagi yang menggerakkan dedaunan.

Ia menangis cukup lama.

Bukan karena ingin mengubah masa lalu.

Ia tahu itu mustahil.

Ia menangis karena menyadari bahwa kesempatan meminta maaf secara langsung telah hilang untuk selamanya.

Beberapa hari kemudian, Alya memutuskan tinggal lebih lama.

Ia mulai memperbaiki rumah.

Mengecat ulang pagar.

Membersihkan halaman.

Menata kembali kebun kecil yang dulu dirawat ayahnya.

Tetangga mulai sering datang membantu.

Pak Lurah bercerita bagaimana ayah Alya diam-diam membiayai sekolah beberapa anak yatim.

Bu Rini menceritakan bahwa setiap musim hujan ayahnya selalu membagikan beras kepada warga yang kesulitan.

"Beliau tidak pernah ingin namanya disebut," kata Bu Rini.

Alya hanya tersenyum pahit.

Ternyata ia bahkan tidak mengenal ayahnya sebaik yang ia kira.

Suatu sore, seorang anak laki-laki datang membawa buku tulis.

"Kak Alya?"

"Iya."

"Ibu bilang ini punya Om Rahman."

Rahman adalah nama ayahnya.

Anak itu menyerahkan buku catatan kecil.

Isinya daftar nama anak-anak yang pernah dibantu biaya sekolah oleh ayahnya.

Di halaman terakhir terdapat tulisan singkat.

"Kalau nanti Alya pulang, jangan ceritakan semua ini kalau memang dia tidak ingin tahu. Ayah hanya ingin dia hidup bahagia."

Alya memeluk buku itu erat.

Ayahnya bahkan tidak pernah berharap dipahami.

Ia hanya berharap putrinya bahagia.

Sebulan berlalu.

Hari kepulangan Alya ke kota semakin dekat.

Sebelum berangkat, ia mengumpulkan beberapa warga di halaman rumah.

"Aku ingin rumah ini tetap terbuka."

Semua memandangnya.

"Kalau ada anak yang membutuhkan tempat belajar, gunakan rumah ini."

"Kalau ada warga yang ingin mengadakan kegiatan membaca, gunakan juga."

Bibi Sari tersenyum bangga.

"Jadi rumah ini tidak dijual?"

Alya menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa berubah pikiran?"

Alya menatap teras tempat ayahnya dulu duduk setiap sore.

"Karena akhirnya aku mengerti."

"Mengerti apa?"

"Rumah bukan sekadar bangunan."

"Rumah adalah tempat seseorang terus mencintai kita, bahkan ketika kita terlalu marah untuk melihatnya."

Setahun kemudian, rumah kecil itu berubah menjadi taman baca sederhana.

Anak-anak datang setiap sore membawa buku.

Di halaman depan terdengar tawa yang dulu lama menghilang.

Di dinding ruang tamu tergantung sebuah foto lama.

Ayah, ibu, dan Alya kecil sedang tersenyum di bawah pohon mangga.

Di bawah foto itu terdapat sebuah kalimat yang ditulis tangan oleh Alya.

"Cinta yang paling tulus sering kali tidak pandai menjelaskan dirinya. Ia memilih berkorban dalam diam, lalu tetap memaafkan meski tak pernah dimengerti."

Setiap kali pulang ke kampung halaman, Alya selalu duduk di kursi dekat jendela sambil memandang halaman yang kini kembali hidup.

Ia masih merindukan ayahnya.

Masih menyesali waktu yang terbuang.

Namun penyesalan itu tidak lagi menjadi beban yang melumpuhkan.

Ia mengubahnya menjadi alasan untuk mencintai orang-orang yang masih ada di sekelilingnya, sebelum terlambat mengucapkan terima kasih atau meminta maaf.

Karena ia akhirnya memahami satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun.

Bahwa kehilangan bukan selalu dimulai ketika seseorang pergi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Hitam itu Buruk
Vika Rahelia
Flash
Pertemuan Keluarga
Singkat Cerita
Flash
Rumah yang Menunggu Pulang
Penulis N
Flash
HUJAN
Dariyanti
Flash
Bronze
Mengejar Cinta Paris
Herman Sim
Cerpen
Bronze
BIRU
Rayasa Kherta
Novel
My House, My Rules!
Sekarmelati
Skrip Film
Without Me
Wahyu Indah
Flash
Pengkhianat
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Dua Petani
Ahmad Muhaimin
Novel
Bronze
VIRGO: Unconditional Reason
FatmaCahaya
Novel
Bronze
A.M.O.R.E.G.A
@Fatamorgana16
Flash
Kutitip Rindu
madiani_shawol
Flash
Bronze
Alunan Luna
Glorizna Riza
Flash
Bronze
Mimpi Indah
Sulistiyo Suparno
Rekomendasi
Flash
Rumah yang Menunggu Pulang
Penulis N
Flash
Hujan di Ujung Telepon
Penulis N
Flash
Kopi Terakhir di Stasiun 12
Penulis N
Novel
Still Breathing
Penulis N
Flash
Bangku Nomor Tujuh
Penulis N
Flash
Musim Ketika Kita Bertemu Lagi
Penulis N
Novel
Deadline dan Perasaan
Penulis N
Cerpen
Senja Selalu Pulang ke Halte Nomor Tiga
Penulis N
Flash
Langkah Pertama
Penulis N
Flash
Lukisan Tanpa Nama
Penulis N
Flash
Suara dari Kamar 213
Penulis N
Flash
Di Balik Surat untuk Kartini
Penulis N
Cerpen
BAYANG-BAYANG DI BALIK JENDELA
Penulis N
Flash
Delapan Menit Terakhir
Penulis N
Flash
Operasi Langit Merah
Penulis N