Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sudah tiga bulan sejak pemakaman itu berlalu, tetapi rumah sederhana di pinggir kota tersebut masih menyimpan aroma kayu tua dan kopi hitam yang selalu diseduh setiap subuh. Tidak ada lagi suara langkah kaki ayahnya menuju musala, tidak ada lagi lantunan doa yang terdengar pelan dari ruang tengah. Yang tersisa hanyalah keheningan yang terasa semakin berat setiap kali Faris datang untuk membereskan barang-barang.
Selama bertahun-tahun, hubungan mereka tidak pernah benar-benar buruk, tetapi juga tidak pernah dekat. Ayahnya adalah lelaki sederhana yang lebih banyak memberi contoh daripada nasihat. Ia jarang memaksa Faris untuk menjadi seperti dirinya. Ketika Faris mulai jarang beribadah karena sibuk mengejar pekerjaan dan ambisi, ayahnya hanya berkata, "Pintu untuk kembali selalu terbuka selama kita masih diberi waktu."
Faris menganggap kalimat itu sebagai ucapan biasa.
Kini, setelah ayahnya tiada, kalimat itu terus terngiang tanpa henti.
Hari itu ia berniat mengosongkan lemari tua di kamar ayahnya. Di antara tumpukan pakaian yang sudah rapi terlipat, ia menemukan sebuah buku kecil bersampul cokelat. Halamannya mulai menguning. Tidak ada judul di sampulnya.
Saat dibuka, ternyata bukan buku doa seperti yang ia kira.
Isinya adalah catatan harian.
Tulisan pertama bertanggal dua puluh tahun silam.
"Hari ini Faris belajar berjalan. Ia jatuh berkali-kali, tetapi selalu bangkit lagi. Semoga ketika dewasa nanti, ia juga tidak takut bangkit setelah jatuh."
Faris tersenyum kecil.
Ia membalik halaman berikutnya.
"Faris mulai sekolah. Ia menangis karena takut ditinggal. Semoga suatu hari ia mengerti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."
Semakin banyak halaman yang dibaca, semakin sering matanya berkaca-kaca.
Semua catatan itu tentang dirinya.
Tentang ulang tahunnya.
Tentang hari ketika ia diterima kuliah.
Tentang ibunya yang meninggal saat Faris masih remaja.
Dan tentang doa-doa yang selalu ditulis ayahnya di setiap akhir halaman.
Bukan doa agar Faris menjadi kaya.
Bukan pula agar memiliki jabatan tinggi.
Melainkan doa agar hatinya tetap lembut dan tidak kehilangan arah.
Faris menutup buku itu perlahan.
Dadanya terasa sesak.
Ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejar pencapaian hingga lupa memperhatikan orang yang diam-diam selalu mendoakannya.
Beberapa hari kemudian, Faris kembali bekerja seperti biasa.
Ia adalah manajer pemasaran di sebuah perusahaan besar. Jadwal rapat padat. Target penjualan tinggi. Telepon hampir tak pernah berhenti berdering.
Namun setiap kali waktu salat tiba, pikirannya kembali pada buku harian itu.
Suatu siang, saat semua rekan kerja masih sibuk makan siang, Faris berdiri cukup lama di depan musala kantor.
Sudah bertahun-tahun ia tidak masuk ke sana.
Tangannya bahkan sempat ragu menyentuh gagang pintu.
Di dalam, hanya ada seorang petugas kebersihan yang baru selesai beribadah.
Pria tua itu tersenyum ramah.
"Silakan, Nak."
Faris hanya mengangguk pelan.
Salatnya siang itu terasa canggung.
Beberapa gerakan sempat ia lupakan.
Bacaannya tidak lagi selancar dulu.
Namun ketika mengakhiri ibadah, ada ketenangan yang sulit dijelaskan.
Bukan karena semua masalah hidupnya selesai.
Melainkan karena ia merasa telah mengambil satu langkah kecil menuju tempat yang lama ia tinggalkan.
Hari-hari berikutnya tidak langsung menjadi mudah.
Faris masih sering terlambat bangun.
Masih ada salat yang terlewat.
Masih ada hari ketika pekerjaan membuatnya lalai.
Setiap kali gagal, rasa bersalah datang.
Ia membuka kembali buku harian ayahnya.
Di halaman terakhir terdapat tulisan yang belum pernah ia baca.
"Kalau suatu hari Faris merasa jauh dari Tuhannya, jangan biarkan rasa malu membuatnya semakin jauh. Tidak ada manusia yang kembali dengan langkah sempurna. Semua pulang dengan langkah yang tertatih."
Faris memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis bukan karena kehilangan pekerjaan, bukan karena kegagalan, melainkan karena menyadari betapa besar kasih sayang yang selama ini tidak ia lihat.
Sejak saat itu ia mulai membuat kebiasaan baru.
Bangun sedikit lebih awal.
Membaca beberapa halaman kitab suci sebelum berangkat kerja.
Menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu anak-anak di panti asuhan dekat rumah.
Ia tidak mengunggahnya ke media sosial.
Tidak pula menceritakannya kepada banyak orang.
Ia hanya ingin memperbaiki dirinya sedikit demi sedikit.
Suatu sore, ketika mengantar bantuan ke panti asuhan, seorang anak kecil bertanya kepadanya,
"Kak, kenapa Kakak sering datang ke sini?"
Faris tersenyum.
"Dulu ada seseorang yang selalu mengajarkan bahwa kalau kita diberi rezeki, jangan lupa berbagi."
"Itu ayah Kakak?"
Faris mengangguk.
"Iya."
"Berarti ayah Kakak orang baik."
Faris menatap langit yang mulai berwarna jingga.
"Semoga aku bisa mengikuti jejaknya."
Setahun berlalu.
Banyak hal berubah.
Bukan karena Faris tiba-tiba menjadi orang yang paling saleh atau hidupnya bebas masalah.
Ia tetap menghadapi tekanan pekerjaan.
Tetap pernah kecewa.
Tetap pernah merasa lelah.
Namun kini ia memiliki tempat untuk kembali setiap kali hatinya mulai goyah.
Suatu pagi menjelang subuh, ia datang ke masjid yang dahulu sering didatangi ayahnya.
Di saf paling belakang, ia melihat seorang remaja duduk sendirian dengan wajah murung.
Setelah salat selesai, Faris menghampirinya.
"Sedang ada masalah?"
Remaja itu mengangguk pelan.
"Aku merasa sudah terlalu banyak melakukan kesalahan."
Faris terdiam sejenak.
Lalu ia mengeluarkan buku harian tua dari dalam tas.
Ia tidak memberikannya.
Ia hanya membuka halaman terakhir dan membacanya pelan.
Remaja itu mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.
"Menurut Kakak... masih bisa berubah?"
Faris tersenyum hangat.
"Selama kita masih diberi napas, selalu ada kesempatan untuk memulai lagi."
Remaja itu mengangguk.
Senyumnya perlahan kembali.
Ketika matahari mulai terbit, cahaya keemasan masuk melalui jendela masjid.
Faris berdiri di halaman sambil memandang langit yang perlahan terang.
Ia teringat rumah tua ayahnya.
Kopi hangat setiap subuh.
Langkah kaki menuju masjid.
Dan buku kecil yang hampir saja ikut terbuang bersama barang-barang lama.
Ia akhirnya memahami bahwa warisan terbesar ayahnya bukan rumah sederhana itu, bukan tabungan yang ditinggalkan, dan bukan pula benda-benda yang kini tersimpan rapi.
Warisan terbesar itu adalah teladan, doa yang tak pernah putus, serta keyakinan bahwa seberapa jauh manusia melangkah, selalu ada jalan untuk kembali kepada Tuhannya dengan hati yang tulus.
Sejak hari itu, setiap selesai salat subuh, Faris selalu memanjatkan doa untuk ayahnya.
Bukan karena merasa telah membalas semua kasih sayang yang diterimanya.
Ia tahu, itu tidak akan pernah cukup.
Namun ia berharap, setiap langkah kecil yang kini ia tempuh menjadi amal yang terus mengalir, sebagaimana doa-doa ayahnya dahulu menjadi cahaya yang menuntunnya keluar dari gelapnya kelalaian.
Faris percaya bahwa harapan selalu lahir bersama cahaya pertama—mengajak siapapun yang ingin kembali untuk memulai lagi, selangkah demi selangkah, menuju kehidupan yang lebih baik.