Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Menunggu Juga Amalan
0
Suka
1,250
Dibaca

Satu bulan semenjak bapak walikota mengangkat, ibu ketua Tim Penggerak PKK, yang notabene istrinya, menjadi kepala dinas, di kantor kami. Hal yang pertama menurutku, yang harus dikuasai adalah menguasai sebuah ilmu seni. Ilmu seni menunggu. Padatnya kegiatan beliau, membuat kami sekantor harus banyak bersabar. Maklum dia istri kepala daerah, dan menjadi pejabat juga. Tidak mengapa menduduki dua perahu, dalam sekali mendayung. Sekali mendayung pun, dua tiga pulau terlampaui. Bagaimana nanti kalau perahunya karam? Tinggal menyelam saja, sambil menyelam bisa minum air.

Dampak negatifnya, pasti ada. Setiap kegiatan rapat yang kami adakan, bisa jadi sangat terlambat dilaksanakan. Ibu walikota mendampingi bapak walikota dalam acara pembukaan MTQ di halaman masjid raya Al Hidayah Islamic center. Pembukaannya memang pagi hari, tapi setelah ini ada acara peresmian pasar tradisional pekanan di desa taplau. Itu salah satu contoh, yang membuat, kami harus berbesar hati menunggu beliau. Kegiatannya super padat.

Rapat kami dibuka satu jam menjelang shalat zuhur. Temanku yang baru mutasi, dari kota lain misuh-misuh. Kenapa lambat sekali, lihat snack sudah dingin dan tidak enak lagi dilihat. Lokasi kantor yang berdekatan dengan kandang ayam, juga menjadi kendala baginya. Dia merepet lagi, karena ayam-ayam yang menjelang panen, tidak hanya menghasilkan ayam pedaging, tapi juga menghasilkan bau yang harum menyengat untuk lalat. 

Macam-macam bentuk dan jenis lalat yang mengelilingi area kantor. Makanan yang tersimpan di atas meja, menjadi terminal buat lalat itu berpesta, kalau mereka sudah bosan di kandang ayam itu. Lalat tidak sopan itu pasti menginjak makanan, yang tersedia diatas meja. Siapa yang tahu apa saja yang dihinggapinya sebelum kakinya mendarat di meja ini. Adakah mereka singgah, dan menemukan kotoran sebelum, datang ke kantor ini. Yang jelas dia tidak pakai alas kaki dan bertelur dimana saja. Itu mendatangkan penyakit. Ih jijiknya.

“Kak. Gimana nih. Jadi rapat nggak kita.”

“Jadi, masak nggak jadi.

“Tamu yang diundangan sudah pada datang lo kak, kasihan.”

“Suruh saja dia makan dan minum dulu. Kan sudah terhidang di meja.”

“Apa nggak malu kita, rencana rapat jam sembilan, tapi sekarang sudah jam setengah sebelas.”

“Sabar, mereka tahu kok, ibu kadis lagi mendampingi suaminya ada acara diluar.”

Dia diam, wajahnya masih cemberut. Dalam hati kukatai dia. “Siapa suruh jadi orang idealis. Dasar pecinta Tan Malaka. Makan tu idealis. ”

“Kak. Apa nggak bisa ibu cuti saja, tidak menjabat, gitu.”

“Ya.bisa lah.” kujawab pendek.

“Kan bisa dia mendampingi kemana suaminya pergi.”

“Sudah. Tutup mulutmu. Disini dinding punya mulut dan telinga. Bisa-bisa kamu di cepu in.”

“Ah, sudahlah capek.” Balasnya, sambil berdiri dan berlalu pergi.

“Kak, kan bisa pak sekretaris yang gantiin.” Dia kembali kepadaku, dengan raut wajah yang tidak berbeda, dari tadi.

“Udah, udah ku bilang kok. Jawab pak sek, tidak ada perintah dari bu kadis.”

“lho kan, harusnya bisa digantikan, kalau ada acara diluarkan?”

“Bisa, kalau tidak ada perintah, kan nggak sopan juga?” Jawabku menjelaskan.

“Masak menunggu terus sih. Begini ini mau sampai kapan?” Serangnya.

Aku hanya bisa menempelkan jari telunjuk ku ke bibirku, sambil mengulang perkataan ku. Dinding ini ruangan ini memiliki telinga dan mulut. 

Kemudian aku tersenyum padanya, dia tambah marah, dan mengatakan kalau dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Walaupun tidak selalu tepat waktu, tapi tidak pernah seterlambat ini, kalau ada acara, apa lagi rapat yang membutuhkan waktu, dan pikiran yang jernih. 

Hari demi hari, berlalu seperti kejar mengejar, detik mengejar menit, menit mengejar jam, jam mengejar hari, hari berlari menjadi minggu. Sahabat kantorku, sudah mulai paham, dengan ritme kerja kami. Kepada undangan yang datang biasanya dia berucap. “Sabar ya bapak ibu. Ibu kadis kita lagi mendampingi suaminya dalam cara bla-bla-bla. Jadi mohon ditunggu.” Dengan senyum yang dibuat manis. Kemudian dia mengajak, sebagian dari mereka berbincang, atau melakukan pekerjaan lain, atau membaca buku. Paling banyak, kulihat dia sering membaca buku zikir. Dia sudah menguasai ilmu seni. Seni menunggu, pikirku, karena tidak misuh-misuh lagi, dalam setiap rapat yang dilaksanakan tidak sesuai jadwalnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Menunggu Juga Amalan
T. Filla
Cerpen
Pencitraan Di Depan Mertua
cahyo laras
Flash
Kutukupret
Aston V. Simbolon
Flash
Abi Hoyong Magnum, Pak!
Atika Salsabila Zahra
Cerpen
Asal Bapak Senang
dwi faridawati
Flash
Ratu Promosi
Rere Valencia
Cerpen
Tertangkap Razia Pelajar
cahyo laras
Cerpen
Me Time
chéri
Flash
Kronik Tak Beretika #005--Gapura Merah
Ayuning Dian
Flash
ADA NODA DI MIE MBA AYU
Aston V. Simbolon
Cerpen
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
cahyo laras
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Flash
Tutorial Melawan Begal
Braindito
Flash
Tawa Tiwi
Binar N
Cerpen
Bronze
Kopi 6
syaifulloh
Rekomendasi
Flash
Menunggu Juga Amalan
T. Filla
Cerpen
Bronze
Keputusan Abah
T. Filla
Cerpen
Bronze
Dunia Kerja Rana
T. Filla
Cerpen
Dress Code untuk Hanna
T. Filla
Flash
Karena Cinta Kamu Bego Karena Cinta Kamu Puitis
T. Filla
Cerpen
Bronze
Anak Emak
T. Filla
Cerpen
Bronze
Tergadai
T. Filla
Flash
Perlawanan yang Berujung
T. Filla
Flash
Bronze
Dendam Mariah
T. Filla
Flash
Hutang Bakti Adisty
T. Filla
Cerpen
Cerita Lula
T. Filla
Flash
Ujang Ingin Diklat
T. Filla
Cerpen
Bronze
Intelektualitasnya Ternodai
T. Filla
Cerpen
Bronze
Dia Yang Tidak Butuh Pujian
T. Filla
Cerpen
Bronze
Dinding Mana Yang Punya Telinga
T. Filla