Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Satu bulan semenjak bapak walikota mengangkat, ibu ketua Tim Penggerak PKK, yang notabene istrinya, menjadi kepala dinas, di kantor kami. Hal yang pertama menurutku, yang harus dikuasai adalah menguasai sebuah ilmu seni. Ilmu seni menunggu. Padatnya kegiatan beliau, membuat kami sekantor harus banyak bersabar. Maklum dia istri kepala daerah, dan menjadi pejabat juga. Tidak mengapa menduduki dua perahu, dalam sekali mendayung. Sekali mendayung pun, dua tiga pulau terlampaui. Bagaimana nanti kalau perahunya karam? Tinggal menyelam saja, sambil menyelam bisa minum air.
Dampak negatifnya, pasti ada. Setiap kegiatan rapat yang kami adakan, bisa jadi sangat terlambat dilaksanakan. Ibu walikota mendampingi bapak walikota dalam acara pembukaan MTQ di halaman masjid raya Al Hidayah Islamic center. Pembukaannya memang pagi hari, tapi setelah ini ada acara peresmian pasar tradisional pekanan di desa taplau. Itu salah satu contoh, yang membuat, kami harus berbesar hati menunggu beliau. Kegiatannya super padat.
Rapat kami dibuka satu jam menjelang shalat zuhur. Temanku yang baru mutasi, dari kota lain misuh-misuh. Kenapa lambat sekali, lihat snack sudah dingin dan tidak enak lagi dilihat. Lokasi kantor yang berdekatan dengan kandang ayam, juga menjadi kendala baginya. Dia merepet lagi, karena ayam-ayam yang menjelang panen, tidak hanya menghasilkan ayam pedaging, tapi juga menghasilkan bau yang harum menyengat untuk lalat.
Macam-macam bentuk dan jenis lalat yang mengelilingi area kantor. Makanan yang tersimpan di atas meja, menjadi terminal buat lalat itu berpesta, kalau mereka sudah bosan di kandang ayam itu. Lalat tidak sopan itu pasti menginjak makanan, yang tersedia diatas meja. Siapa yang tahu apa saja yang dihinggapinya sebelum kakinya mendarat di meja ini. Adakah mereka singgah, dan menemukan kotoran sebelum, datang ke kantor ini. Yang jelas dia tidak pakai alas kaki dan bertelur dimana saja. Itu mendatangkan penyakit. Ih jijiknya.
“Kak. Gimana nih. Jadi rapat nggak kita.”
“Jadi, masak nggak jadi.
“Tamu yang diundangan sudah pada datang lo kak, kasihan.”
“Suruh saja dia makan dan minum dulu. Kan sudah terhidang di meja.”
“Apa nggak malu kita, rencana rapat jam sembilan, tapi sekarang sudah jam setengah sebelas.”
“Sabar, mereka tahu kok, ibu kadis lagi mendampingi suaminya ada acara diluar.”
Dia diam, wajahnya masih cemberut. Dalam hati kukatai dia. “Siapa suruh jadi orang idealis. Dasar pecinta Tan Malaka. Makan tu idealis. ”
“Kak. Apa nggak bisa ibu cuti saja, tidak menjabat, gitu.”
“Ya.bisa lah.” kujawab pendek.
“Kan bisa dia mendampingi kemana suaminya pergi.”
“Sudah. Tutup mulutmu. Disini dinding punya mulut dan telinga. Bisa-bisa kamu di cepu in.”
“Ah, sudahlah capek.” Balasnya, sambil berdiri dan berlalu pergi.
“Kak, kan bisa pak sekretaris yang gantiin.” Dia kembali kepadaku, dengan raut wajah yang tidak berbeda, dari tadi.
“Udah, udah ku bilang kok. Jawab pak sek, tidak ada perintah dari bu kadis.”
“lho kan, harusnya bisa digantikan, kalau ada acara diluarkan?”
“Bisa, kalau tidak ada perintah, kan nggak sopan juga?” Jawabku menjelaskan.
“Masak menunggu terus sih. Begini ini mau sampai kapan?” Serangnya.
Aku hanya bisa menempelkan jari telunjuk ku ke bibirku, sambil mengulang perkataan ku. Dinding ini ruangan ini memiliki telinga dan mulut.
Kemudian aku tersenyum padanya, dia tambah marah, dan mengatakan kalau dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Walaupun tidak selalu tepat waktu, tapi tidak pernah seterlambat ini, kalau ada acara, apa lagi rapat yang membutuhkan waktu, dan pikiran yang jernih.
Hari demi hari, berlalu seperti kejar mengejar, detik mengejar menit, menit mengejar jam, jam mengejar hari, hari berlari menjadi minggu. Sahabat kantorku, sudah mulai paham, dengan ritme kerja kami. Kepada undangan yang datang biasanya dia berucap. “Sabar ya bapak ibu. Ibu kadis kita lagi mendampingi suaminya dalam cara bla-bla-bla. Jadi mohon ditunggu.” Dengan senyum yang dibuat manis. Kemudian dia mengajak, sebagian dari mereka berbincang, atau melakukan pekerjaan lain, atau membaca buku. Paling banyak, kulihat dia sering membaca buku zikir. Dia sudah menguasai ilmu seni. Seni menunggu, pikirku, karena tidak misuh-misuh lagi, dalam setiap rapat yang dilaksanakan tidak sesuai jadwalnya.