Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Gadis Kecil
2
Suka
1,196
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Tak dapat dipungkiri jikalau taman kota, sudah menjadi kunjungan wajib di setiap sore. Sara suka sekali menghabiskan waktunya di sini kendati hanya untuk mendengar musik, menggambar, atau juga sekadar duduk-duduk mencari angin. Apalagi pemandangan hijau di sekeliling yang terasa amat nyaman untuk terus dipandang. Dia bahkan rela cepat-cepat datang kemari, tak peduli seragam sekolah masih membalut rapi tubuhnya.

Sejenak matanya memejam tatkala alunan musik yang keluar dari earphone begitu memanjakan telinga. Duduk dengan tenang di bangku taman tanpa mengindahkan rambut panjangnya yang sesekali tertiup angin. Seakan enggan peduli, tubuhnya malah ikut melakukan pergerakan kecil menyesuaikan irama musik yang terputar.

Sore di hari Kamis ini, Sara hanya datang untuk mendengarkan musik kesukaan. Sembari menenangkan pikiran dengan segala permasalahan yang ada. Dia merasa enggan berada di rumah jika harus terus bertemankan sepi, sebab kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. Baik ayah maupun ibunya menyibukkan diri di luar. Sekalinya pulang hanya adu mulut yang terdengar. Keributan yang sungguh enggan didengar dan dilihatnya.

Hitung-hitung membuang stres, begitu pikir Sara. Beberapa menit kemudian, tepat saat kedua kelopak matanya terbuka, sekonyong-konyong dia disuguhkan dengan eksistensi anak kecil yang entah sejak kapan duduk di sebelahnya.

Anak itu mungkin baru kelas 1 atau 2 SD. Seorang gadis kecil dengan baju kuning kusam bergambar karakter beruang. Rambutnya berantakan seperti tidak disisir.

Sara mengedip beberapa kali. Lanjut melirik kiri dan kanan. Hanya ada dirinya dan si gadis kecil. Anak perempuan itu hanya duduk diam. Sara sulit melihat wajah anak itu karena tertutup rambut.

Tapi entah kenapa, dia merasakan sesak menyusupi dada. Seakan hanya dengan kehadiran dan diamnya si gadis kecil, dia bisa ikut merasakan kesedihan yang terpendam.

Ingatan masa kecil melintas di benak Sara. Saat itu usianya sama seperti si gadis kecil di sebelahnya. Ia duduk di ruang tamu, menunggu ayahnya pulang sementara ibunya mengamuk di dalam kamar.

Sara menarik napas dalam. Memang pernah ada kejadian itu. Salah satu dari sekian banyak hal yang ingin dia lupakan. Sayng sekali, kedua orang tuanya masih sama. Masih sering bertengkar. Masih sering meninggalkannya sendiri. Sara jadi heran kenapa kedua manusia itu masih mau mempertahankan rumah tangga mereka yang sudah hancur.

Sara menoleh ke gadis kecil. Dia melihat dirinya sendiri dalam diri anak itu.

Ragu-ragu, Sara bertanya, "Dek, sejak kapan duduk di sini?" Dia heran, tentu saja. Oleh karena itu, pertanyaan tersebut meluncur dengan sendirinya. Namun, yang terjadi adalah hening. Anak kecil itu masih bungkam dan kepalanya masih tertunduk memandangi lolipop di tangannya.

"Dek?" Sara ragu-ragu menggoyangkan tubuh anak itu. Lantas di saat pandangan keduanya bersibobrok, dia dengan segera meluncurkan pertanyaan lagi. "Adek ke sini sendiri?"

Gadis kecil itu hanya mengedip-ngedikan mata, alih-alih memberi jawaban.

Takutnya anak orang hilang atau apa, tetapi jawaban tak kunjung keluar dari mulutnya. Alhasil, Sara semakin dibuat heran sekaligus kebingungan.

Sementara itu, matahari mulai tergelincir di ufuk Barat hingga muncul semburat jingga yang menghiasi langit. Sara pun gencar. "Sudah hampir malam. Adek masih mau di sini? Orang tuanya mana?" tanyanya.

Lagi-lagi tidak ada jawaban. Yang dilakukan gadis kecil itu hanya menundukkan kepala. Seakan menyembunyikan ekspresi wajahnya yang kala itu tercetak raut kesedihan.

"Sudah malam, Dek. Kakak juga harus pulang," jelas Sara. "Masa Adek mau tetap di sini?"

Kemudian, gadis kecil itu mendongak. Menatap Sara sambil tersenyum simpul. "Tadi Mama bilang mau beli sesuatu dan minta aku nunggu di sini," katanya.

"Oh ... tapi tadi waktu Kakak pertama ke sini, Adek tidak ada?" ujar Sara kebingungan.

"Iya, Kak. Tadi aku putuskan buat nyusul Mama. Tapi karena tidak ketemu jadi aku balik nunggu di sini lagi saja."

"Memangnya sejak kapan Adek disuruh Mamanya nunggu di sini?"

"Sejak tadi pagi, Kak."

Sara tertegun. Ternyata bukan dirinya yang paling tidak beruntung di dunia ini. Namun, masih banyak di luar sana yang tidak seberuntung dirinya. Buktinya dia masih dipedulikan oleh kedua orang tuanya meski tidak mendapat kasih sayang yang cukup. Tidak seperti anak ini yang mungkin tidak menyadari jika sekarang dirinya telah dibuang oleh ibunya sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Gadis Kecil
Reen Ruka
Novel
Bronze
DOSA YANG SALAH
Alda.
Novel
Bronze
Writing is My First Love
d Curly Author
Cerpen
Bronze
HALANGI RINTANGAN
Gian Alexander Prananda Sembiring
Novel
Wedding in Pandemic
Sukron Tajudin
Flash
Kota Impian
Ika nurpitasari
Cerpen
Jadi, Boleh Aku Mencintaimu?
Shinta Puspita Sari
Komik
Bronze
MELAN©HOLIC
sleepy neko
Cerpen
Bronze
Gosip yang Terhenti
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Shagara
Dita
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
LUHITO
Lina Budiarti
Novel
Jodoh Pilihan Allah ~Novel~
Herman Siem
Cerpen
Bronze
Diammu Bukan Emas
aksara_g.rain
Novel
Beruang Es
Vivilutfia41
Rekomendasi
Flash
Gadis Kecil
Reen Ruka