Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di tengah badai yang baru menyapu. Di pinggiran North Carolina. Sam terpaku. Ia diam sangat lama. Menatap lingkungan tetangganya yang hancur porak-poranda karena terjangan badai.
Sedangkan rumahnya sendiri berdiri kokoh. Bukan karena mukjizat Tuhan, tapi lebih ke kekokohan bangunan.
Ia pun mengingat kembali perkataan Madden, seorang pendeta yang membimbingnya.
"Jika dunia memusuhi Kristus, bagaimana mungkin tidak dengan pengikut-Nya? Karena pengikut Kristus bukan milik dunia."
Ya. Selama ini Sam merasa dialah salah satu pengikut-Nya. Bukan karena awalnya ia tinggi hati, tapi lebih ke proses keadaan yang ia alami sejak lama.
Sedangkan Madden memandangnya dari seberang jalan. Di tengah-tengah rumahnya yang habis tersapu, serta istrinya yang hilang. Madden tahu betul apa yang ada di dalam pikiran Sam. Sombong rohani.
Sejak tadi Sam hanya terdiam. Para tetangga tahu, mata Sam meremehkan. Tapi mereka tahu kejadian tornado tepat terjadi setelah sumpah serapahnya. Membuat seolah Sam benar. Apalagi mereka semua imannya cukup kuat.
Madden yang tahu hal sebenarnya, sebetulnya sudah coba menjelaskan, bahwa badai dan serapah Sam hanya kebetulan waktunya berdekatan. Tapi Sam dan para tetangga sudah kadung kukuh dengan kepercayaan mereka.
"Bukannya kamu pendeta? Harusnya kamu lebih tahu."
Begitulah omongan yang keluar dari salah satu warga. Yang diiyakan oleh semuanya, termasuk Sam.
Sam pun menyatakan dengan emosi yang tinggi, ia menderita sejak kecil. Sering dipersalahkan, dijadikan kambing hitam, bahan permainan. Bahkan ia seringnya dimusuhi.
Lalu yang ia lakukan adalah pasrah. Pasrah dan tak bisa melawan. Sampai ia mendengar sendiri firman Tuhan lewat mulut Madden. Ayat yang menyatakan, ia bukan bagian dari dunia, sehingga orang-orang tak lagi berdaya mengganggunya.
Sam juga merasa Madden tak memiliki iman, sebab meragukan firman Tuhan, yang justru keluar dari mulut nya sendiri.
Madden pun mencoba menjelaskan, dengan menyatakan tidak hanya pengikut Kristus yang dimusuhi. Semua manusia pun mengalami. Hanya saja dalam ayat tersebut, konteksnya diperkhususkan untuk umat Kristen, sesuai kondisi jaman.
Tapi Sam tetap kukuh pada pendiriannya. Ia yang dibully sejak kecil, dipermainkan saat dewasa, serta banyak luka lainnya, hanya memiliki satu logika. Bahkan itu semua ciri dari protagonis. Dan seorang tokoh utama akan berdiri di sisi-Nya. Sebab tidaklah mungkin orang benar menjadi antagonis.
Madden terkejut. Mempertanyakan pemahaman Sam. Apakah ada dasarnya? Atau tercatat di Injil? Sam yang dasarnya sudah mabuk rohani tersebut, berkilah. Bahwa satu ayat sudah cukup melegalisasikan bahwa orang benar adalah orang benar.
Madden sudah tak tahan, ia mengarahkan tinjunya pada Sam. Orang yang dulu ia anggap paling tak menimbulkan emosi. Tapi Madden terantuk batu. Kemudian kepalanya tertusuk material bangunan. Madden tewas.
Semua orang terkejut, mereka berusaha mendekati Madden. Menaruh harapan jika pendeta tersebut masih hidup. Tapi bukan harapan mereka yang tak terwujud yang membuat kecewa. Tapi pernyataan dari Sam. Sam menyatakan Tuhan turun tangan langsung untuk membelanya.
Warga yang murka langsung membabi buta menghajar Sam. Sam babak belur, ia rubuh. Untungnya ia tidak tewas. Warga yang sadar dengan amukan mereka kembali waras, dan berniat menolong Sam, kemudian meminta maaf.
Tapi ada kalimat dari Sam yang membuat warga kembali emosi, kemudian mengurungkan niat.
Sam berucap,
"Aku tak tewas meski sudah dihajar gorila, kutu buku bermata empat, seorang petinju sekaligus germo, dan preman terkuat."
"Mungkin aku inkarnasi Yesus."
Warga pun meninggalkan Sam sendirian. Sam lemah tak berdaya sendiri, meyakini dirinya adalah Tuhan yang mewujud.
Meski sekilas ia melihat kerumunan tetangga yang meninggalkannya. Yang satupun tidak mengetahui bagaimana asal-usulnya, sejak ia berusia 9 tahun.
Sam kembali menoleh ke arah langit dan yakin. Lalu...